Semua hal di atas adalah konsekuensi hidup. Manusia yang hidup menikmati, merasakan, menjalani, dan menghadapi “konsekuensi hidup”. Di samping konsekuensi hidup, ada juga konsekuensi logika. Apa yang kita
pikirkan dan katakan, akan berkonsekuensi pada perbuatan (tindakan) kita. Semua tindakan manusia ditentukan dari konsekuensi logika; manusia yang berpikir akan menghasilkan berbagai hal, entah dalam bentuk ucapan (perkataan), perbuatan (tindakan), atau khayalan semata (tak pernah diwujudkan).
Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup adalah hasil dari konsekuensi hidup dan logika. Kita yang hidup sekarang ini terus mengaplikasikan dan mengimplikasikan kedua konsekuensi tersebut untuk berjuang dan mempertahankan hidup. Mereka yang gagal bisa bangkit lagi, atau bahkan tidak sama sekali. Mereka yang kecewa akan kembali gembira, atau tidak sama sekali. Mereka yang bertahan hidup akan melakukan berbagai cara untuk terus bertahan, atau tidak sama sekali. Mereka yang berjuang mencapai sesuatu akan terus berusaha, atau tidak sama sekali.
Raja Salamo (Sulaiman) menulis: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Artinya, rentetan peristiwa kehidupan yang terjadi dalam diri kita dan orang lain, memang berada dalam masa atau waktunya. Ada waktu lahir; ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yan ditanam. Ada waktu perang; ada waktu damai, dan sederet waktu dan kejadian lainnya yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam kehidupan kita.
Hidup dapat dinikmati, tetapi selalu ada konsekuensi. Peperangan menghasilkan kematian; kecelakaan menghasilkan kematian; kesakitan (sakit penyakit) menghasilkan kematian; pertarungan menghasilkan kematian; kebencian menghasilkan kematian; permusuhan menghasilkan kematian; sakit hati menghasilkan kematian; dendam membara menghasilkan kematian; cemburu menghasilkan kematian; beda keyakinan menghasilkan kematian; mulut kotor dan caci maki menghasilkan kematian. Masih banyak konsekuensi hidup dan logika yang dapat menghasilkan kematian.
Akan tetapi, baik konsekuensi hidup dan logika, juga membawa kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang, cinta kasih, syukur, sukacita, sukaria, senang hati, dan kondisi lainnya yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan bagi manusia. Tetapi kita perlu mengingat pesan-pesan Tuhan melalui firman-Nya yang saya kutip berikut ini (mencakup konsekuensi hidup dan konsekuensi logika):
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21).
Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu (Ulangan 23:21)
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23)
Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti jerat (Lukas 21:34)
Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai (Ulangan 24:17)
Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya (Mazmur 62:11)
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan (Amsal 3:7)
Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya (Amsal 3:27)
Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat (Amsal 4:14)
Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkhotbah 7:9)
Konsekuensi hidup tak bisa dihindari. Oleh karena itu, bertindaklah bijaksana dan mendasari semua perbuatan pada kehendak (firman) Allah. Mereka yang berbuat baik akan menuai kebaikan. Jika tidak sekarang, pasti di kemudian hari. Begitu pula dengan konsekuensi logika, yang tidak bisa dihindari tetapi dijalani. Apa yang dipikirkan jangan sampai bertentangan dengan prinsip-prinsip firman Allah. Pikiran yang baik haruslah dituangkan ke dalam perbuatan-perbuatan sehingga kita dapat menerima buah-buahnya. Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup akan terus kita jalani dan hadapi selagi kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Khalik. Jadilah teladan dalam segala perbuatan baik, pikiran baik, niscaya, konsekuensi hidup dan logika akan menjadi bagian kita—ya, konsekuensi yang baik pula yang kita dapatkan, meski tak menutup kemungkinan bahwa konsekuensi yang tidak baik dapat kita alami juga. Tetapi Tuhan tahu itu semua dan Ia akan menolong, bahkan memberikan upah setimpal dengan apa yang kita kerjakan, pikirkan, lakukan, dan bagikan kepada orang lain sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya.
Salam Bae....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar