Senin, 13 Juni 2022

FILSAFAT KERENDAH-HATIAN

Kesombongan adalah bentuk antonim dari rendah hati. Orang yang sombong berarti orang yang meninggikan hatinya (meninggikan diri), karena merasa bahwa ia “memiliki” sesuatu yang juga dia rasa melebihi dari orang lain. Kesombongan menghasilkan sebuah karakter yang “terpaksa” karena seseorang yang sombong itu harus berusaha memenuhi apa yang akan dia sombongkan. Rendah hati menjadi musuh baginya.

Kebalikannya, orang yang rendah hati adalah orang yang memperlihatkan sikap hidup bahwa apa yang dia miliki bukanlah sesuatu yang dapat dibawa mati (maksudnya benda-benda yang dinikmati selama hidupnya). Rendah hati menjadi simbol bahwa seseorang begitu memahami “kehidupan sebagai kemurahan dari Tuhan”—artinya, Tuhanlah yang memberikan kehidupan itu, dan segala sesuatu yang didapatkan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Menjadi rendah hati tentu tidak mudah. Kita perlu membuang ego (mau menang sendiri), kesombongan, dan kemunafikan (hipokrisi). Sebaliknya, kita perlu menampilkan kebaikan, kepedulian, ketulusan (berdasar kasih) dan kejujuran dalam bersikap. Sikap rendah hati adalah wujud dari perilaku yang mengenal dan memahami Tuhan, bahwa Dialah yang membuat kehidupan itu lebih bermakna, berguna, berbuah.

Ketika sikap rendah hati pudar, maka kesombongan akan muncul. Kesombongan seringkali menggerogoti jatidiri sehingga lambat laun menjadi buruk. Siapa yang sombong, tidak melakukan kebenaran di hadapan Tuhan; siapa yang sombong menghasilkan kecongkakan. Sebaliknya, siapa yang rendah hati, dialah orang berhikmat, dialah orang yang dikasihi Tuhan, dialah orang yang akan dihormati, dialah yang menerima pujian, dan dialah yang akan menerima kekayaan, kehormatan, dan kehidupan dari Tuhan (Amsal 22:4).

Terkadang menjadi rendah hati mendapat tantangan dan hambatan tersendiri. Kerasnya perjuangan untuk menghidupi “hidup” membuat beberapa orang—setelah berhasil—menjadi sombong dan merasa bahwa apa yang dia dapatkan setelah menempuh perjuangan yang lama, adalah usahanya sendiri. Kesombongan lahir dari mereka yang merasa bahwa ia dapat bertindak dan berusaha sendiri tanpa Tuhan.

Namun, mereka yang berhasil setelah menempuh perjuangan yang panjang, dan masih tetap rendah hati, adalah mereka yang hatinya begitu kuat dalam prinsip, dan benar-benar memahami bahwa Tuhan di atas segala-galanya. Seperti yang penulis Amsal katakan: “berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Amsal 10:22). Atau dalam Terjemahan Lama, dikatakan: “Bahwa berkat Tuhan juga yang menjadikan kaya, dan tiada disertainya dengan kedukaan”. Juga terjemahan Versi Mudah Dibaca: “Berkat TUHAN membuat engkau sejahtera dan tidak mendatangkan kesulitan.”

Hanya Tuhanlah yang memberikan kita kehidupan, kekuatan, dan kesempatan untuk mendapatkan (meraih) berkat-berkat-Nya. Jikalau Ia tidak memberikan kehidupan, “mustahil kita dapat bergerak”; jikalau Ia tidak memberikan kekuatan, “mustahil kita dapat bekerja”; jikalau Ia tidak memberikan kita kesempatan, mustahil kita dapat meraih berkat”. Semua itu mendidik kita menjadi pribadi yang “rendah hati”. Itulah filsafat kerendah-hatian.

Filsafat kerendah-hatian memperlihatkan kondisi kehidupan manusia di mana di dalam kondisi tersebut, manusia berjuang untuk hidup sekaligus mengasah diri untuk tetap menjadi rendah hati. Kita terus belajar tentang hidup, tentang kekuatan, dan tentang kesempatan. Ketiganya menyatu untuk mendidik kita menjadi orang yang benar di hadapan Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama.

Filsafat kerendah-hatian mengajarkan kita tujuh hal penting:

Pertama, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita terbatas dalam segala hal, membutuhkan Tuhan dan mengandalkan Dia senantiasa.

Kedua, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita juga memerlukan bantuan orang lain.

Ketiga, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Kita harus membangun komunikasi dan relasi dengan sesama, karena dari merekalah kita belajar rendah hati.

Keempat, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki potensi yang tak terduga untuk menggapai apa yang kita harapkan. Potensi ini haruslah melihat bahwa kehidupan, kekuatan, dan kesempatan adalah pemberian Tuhan yang dengannya kita dapat mencapai tujuan.

Kelima, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki bagiannya masing-masing, untuk diusahakan (dalam proses hidup), sebab Tuhan memberikan segala sesuatu kepada setiap orang sesuai keperluannya; apa yang dibutuhkan orang lain, belum tentu itu yang kita butuhkan. Tuhan itu adil dan penuh kasih.

Keenam, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita mendapat upah dari apa yang kita kerjakan. Tuhan memberkati orang yang terus berusaha; dan hanya mereka yang percaya kepada-Nya, diberikan kelimpahan. Orang yang bekerja keras dan mengandalkan Tuhan, pasti akan diberkati berlimpah-limpah.

Ketujuh, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita akan mempertanggung jawabkan apa yang kita perbuat (hukum tabur tuai). Ketika kita menabur kebaikan, kita menuai (menerima) kebaikan; ketika kita menabur kesombongan, kita menuai kesombongan; ketika kita menabur kejahatan, kita menuai kejahatan.

Tuhan itu Mahatahu dan Mahaadil; Ia melihat perbuatan-perbuatan yang kita tabur, dan Ia adil karena memberikan kepada kita berdasarkan apa yang kita tabur.

Tetaplah rendah hati meski hidup kita berlimpah-limpah dalam kebajikan, harta kekayaan, dan sebagainya. Tetap andalkan Tuhan dalam segala hal, karena dari Dialah kita mendapatkan kehidupan, kekuatan, dan kesempatan.

Salam Bae....

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...