Senin, 13 Juni 2022

IMAN DAN PENGETAHUAN

INTRODUKSI 

Kehidupan semua manusia ditandai dengan berbagai hal dan ditentukan oleh konteks kehidupan itu sendiri. Berbicara makna dan tujuan hidup, juga ditandai dengan berbagai hal atau aspek dan ditentukan oleh konteks hidup itu sendiri. Siapa pun kita, tidak dapat dipisahkan dari sebuah “makna” hidup, entah maknanya penting, tidak terlalu penting, mengharukan, mengesankan, menyedihkan, membosankan, dan sebagainya.

Memahami hidup, ditentukan dari kondisi hidup seseorang. Konteks ini adalah sifatnya normatif – sebab, semua orang, ketika menilai hidupnya, ia selalu melihat pada situasi dan kondisi (sikon) yang dia alami. Hasil dari nilai hidupnya dapat dilihat secara nyata. Ada orang-orang yang kecewa dengan hidupnya, bosan dengan nasihat, muak dengan ketidakadilan, benci dengan gereja, gelisah dengan sekuritas hidup, takut mati, putus asa, stres, depresi, murung, pesimis, benci terhadap sesama, dan berbagai macam hal lainnya yang semuanya ditentukan oleh sikon di sekitarnya.

Kita tidak dapat menghindar dari berbagai persoalan hidup. Berbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi, terorisme, pembunuhan, penyerangan, fitnah, caci maki, keserakahan, ketamakan, kesombongan, kemunafikan, pembenaran diri, korupsi, penindasan, pembantaian, penculikan, pelecehan seksual, seks bebas, hamil di luar nikah, percekcokan, perselisihan, salah paham, ketidaksukaan dengan sesamanya di lingkungan kerja, persaingan, saling menjatuhkan, mencari muka, menghina orangtua, menganggap remeh, ketidakpedulian, homoseksual, egoisme, mencuri, berzina (perselingkuhan), kebohongan, penipuan, sukuisme, dan sebagainya, merupakan fakta yang terjadi di sekitar kita, sedang terjadi, dan akan terjadi.

 

PERSOALAN DAN REALISASI

Semua tindakan di atas dilakukan oleh dua jenis manusia: [yang] beriman dan [yang] berpengetahuan. Saya tidak memungkiri akan jenis lain yaitu orang yang berpengetahuan sekaligus beriman dan orang yang beriman tanpa pengetahuan yang memadai. Agar lebih jelas mengenai jenis manusia tersebut, saya hanya membahas mengenai dua jenis saja, meskipun dalam pembahasan berikutnya, jenis kemungkinan lainnya dapat serta merta menjadi bagian dari kedua jenis tersebut.

Semua tindakan kejahatan dapat direalisasikan (dilakukan) dengan cara (teknik) pengetahuan atau pun tidak berpengetahuan – dengan cara dipengaruhi oleh iman agamanya (atau kelompok dan organisasi) atau iman dari dirinya sendiri (ideologi atau prinsipnya sendiri). Memang terkesan aneh jika orang beriman lalu kemudian membunuh demi iman kepada Tuhan – atau orang yang berpengetahuan tinggi, lalu melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral, tindakan kotor, tindakan yang merusak kepentingan banyak orang.

Keanehan tersebut, dapat ditelusuri sampai kepada akar utamanya. Orang Kristen sudah pasti dapat mengetahuai secara tepat, bahwa akibat dari semua tindakan kejahatan baik tingkat rendah sampai kepada tingkat tinggi adalah karena “dosa”. Seperti yang Alkitab utarakan, bahwa “semua orang telah berbuat dosa. Tidak ada yang benar, satu pun tidak ada. Semua telah menyeleweng.” Pernyataan tersebut menjadi standar mutlak dari Tuhan bahwa siapa pun dia, telah dikuasai, diikat (dibelenggu), dipengaruhi, dan dipaksa oleh “kuasa” dosa yang sangat kuat melawan dirinya, sehingga ia tidak dapat melawannya – hingga akhirnya, tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum dan aturan TUHAN diperbuatnya dengan sadar dan puas.

Dosa, meskipun orang seringkali tidak merasakan ada apa-apa dari satu kata tersebut – tetapi dampaknya sangat luar biasa.

Siapakah yang dapat menyangka bahwa Adolf Hitler melakukan pembantaian (pembunuhan massal) terhadap jutaan orang Yahudi? Siapakah yang dapat menyangka bahwa demi agama, seseorang bisa membunuh sesamanya?

Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang guru bisa mencabuli muridnya? Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang ibu berani membunuh anaknya sendiri? Siapa yang bisa menyangka seorang ayah tega memperkosa atau mencabuli anaknya sendiri? Siapa yang bisa menyangka seorang anak berbuat khianat terhadap orangtuanya?

Siapa bisa menyangka bahwa para pendeta berebut aset gereja? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen saling memaki dan membenci? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen sampai mati dengan dendam dan kebencian yang tak pernah ia leburkan ke dalam pengampunan sejati?

Bukankah manusia sudah menjadi pemangsa sesamanya seperti yang dilakukan binatang? Lalu di mana moral dan etika manusia? Di mana rasa takut manusia terhadap TUHAN dan hukuman-Nya? Di mana rasa hormat manusia terhadap hukum-hukum TUHAN? Bukankah neraka merupakan tempat yang sangat mengerikan, tempat siksaan kekal, tetapi tidak dihiraukan oleh manusia yang berbuat kebejatan moral, kekejian di mata TUHAN?

Sungguh luar biasa jahatnya tindakan manusia yang beriman dan berpengetahuan. Tidak disangka-sangka, tidak dapat dipikirkan secara akal sehat tindakan-tindakan seperti itu. Tetapi itulah faktanya – dan itu sering terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Mungkin kita pernah menjadi bagian di dalamnya bahkan senang melakukannya karena merasa bahwa tidak ada hukuman langsung dari Tuhan.

Apakah ada kaitan (korelasional) antara iman dan pengetahuan dalam kaitannya dengan kondisi hidup manusia yang telah terkena dampak global yaitu “kuasa dosa”? Tentu ada. Berikut penjelasan singkat.

Dalam Alkitab, “pengetahuan” – atau yang seringkali disebut dengan “pengenalan akan TUHAN” – adalah memiliki kaitan erat dengan iman. Iman adalah pemberian Allah untuk mengenal pribadi, karya, kuasa, rencana-Nya, dan sebagainya. Iman harus membutuhkan pengetahuan yang dalam konteks ini “pengetahuan tentang Dia dan firman-Nya”. Aspek pengetahuan memang luas tetapi perlu dipahami atau dibatasi pada konteksnya. Dengan demikian, iman bisa bertumbuh karena pengetahuan tentang Dia dan Firman-Nya.

Setiap orang yang beriman dan berpengetahuan memiliki jatidiri dan moralitas yang baik di hadapan Tuhan – jika ia mau menghidupi dan merealisasikan imannya secara bertanggung jawab dan selaras dengan firman-Nya. Pertanyaan yang muncul adalah “apakah pengetahuan bisa ada tanpa iman”?

Pertama, harus diklarifikasi terlebih dahulu bahwa pengetahuan apa yang dimaksudkan dalam kaitannya dengan iman, sebab term “pengetahuan” itu luas dan beragam konteks serta bidang keilmuan. Kedua, Jika yang dimaksudkan adalah “pengetahuan” tentang Allah seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka pengetahuan tentang Allah bisa ada atau bisa dipahami oleh setiap orang tanpa beriman. Akan tetapi, meskipun begitu, pilihan lainnya adalah mereka bisa memilih apakah mau beriman kepada Allah atau tidak sesuai dengan konten pengetahuan itu sendiri.

 

PEMAHAMAN DAN WILAYAH PENGETAHUAN DAN IMAN

Pengetahuan, secara umum merupakan tindakan aktif manusia yang tahu sesuatu, memikirkan sesuatu, menganalis sesuatu, mencari tahu sesuatu, dan menghasilkan sesuatu. Pengetahuan sifatnya tidak terbatas. Yang terbatas adalah keingintahuan manusia dan sesuatu yang diketahui manusia. Terbatas karena natur manusia terbatas. Pengetahuan mencakup segala sesuatu yang diciptakan TUHAN.

Wilayah pengetahuan adalah wilayah yang sangat luas. Eksplorasi manusia tidak sanggup mendalaminya atau memahaminya secara utuh dan memadai. Yang dapat dipahami dari eksplorasi dan penelitian manusia hanyalah pengetahuan yang sifatnya faktual dan tidak menutup kemungkinan, imajinatif.

Pengetahuan tentang TUHAN yang kekal dan tidak terbatas, dapat dibuktikan sejauh TUHAN menyatakan diri-Nya – dan jika tidak, pengetahuan manusia tentang Dia, mengalami stagnasi.

Iman, secara umum merupakan tindakan kepercayaan terhadap objek [sesuatu] yang diakui lebih berkuasa darinya, rasa percaya diri terhadap diri sendiri, dan kekuatan keyakinan terhadap ambisi hidup.

Pengetahuan adalah kegiatan pikiran. Pikiran dapat bereksplorasi, berekspansi, dan berkomparasi dengan objek lainnya dan menghasilkan sebuah “statement” [pernyataan], pertanyaan, kesimpulan [tentatif dan definitif], konsepsi, prinsipil [benar dan salah], kebenaran, hukum, aturan, etika, dan kaidah.

Iman adalah keyakinan pikiran dan kegiatan pikiran yang berorientasi kepada masa depan dan terkait dengan pertimbangan masa lalu dan masa depan serta bersandar pada objek yang dipercaya dapat memberikan solusi atau kuasa dari apa yang diyakini. Iman adalah pemberian Tuhan, jika orientasi iman itu berdasar pada kehendak dan rencana-Nya. Iman dapat bertumbuh melalui dua hal: penderitaan dan demonstrasi kuasa Tuhan.

Orang yang beriman berarti orang yang berpengetahuan – dan orang yang berpengetahun memiliki iman yang dibagi ke dalam dua bagian: iman kepada kepercayaan diri sendiri [di luar Tuhan] dan iman kepada Tuhan. Orang beriman seharusnya terus belajar dari Tuhan dan firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya.

Iman berkorelasi dengan pengetahuan. Pengetahuan tentang tuhan seharusnya menghasilkan iman kepada Tuhan meskipun kita tahu bahwa tidak semua orang yang belajar dan mau mengenal Tuhan, menjadi percaya kepada-Nya.

 

REALISASI INTERNAL DAN EKSTERNAL

Hingga pada akhirnya, iman dan pengetahuan yang kita miliki harus terejawantahkan ke dalam lautan kehidupan yang terbatas tetapi berpotensi meluas. Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara internal mencakup tentang bagaimana kita bersikap dalam keseharian; bagaimana kita berkontribusi, bagaimana kita bekerja dan melayani, dan bagaimana kita memberikan pengaruh—“menjadi teladan”—dalam pikiran, kata, dan perbuatan.

Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara eksternal mencakup tentang bagaimana kita bersikap melalui media waktu dan kesempatan. Di media waktu, berarti kita siap sedia pada segala waktu untuk berekspresi; ya, mengekpresikan pengetahuan dan iman kita. Di media kesempatan, berarti kita—dalam setiap kesempatan yang kita miliki dan kita dapatkan dari orang lain, digunakan untuk juga berekspresi.

Secara tepat, di zaman sekarang ini, ada ruang realisasi yang begitu besar di mana kita dapat merealisasikan pengetahuan dan iman melalui berbagai media. Tidak perlu lagi merasa harus mengeluarkan banyak uang untuk memperluas pengetahuan dan [kesaksian] iman kita. Medianya sudah ada, tinggal kita yang mempergunakannya. Jangan sampai kita sibuk dengan segala sesuatu yang hanya memperkaya diri secara tamak, dan melupakan tanggung jawab iman dan pengetahuan kita.

 

PENUTUP

Iman dan pengetahuan yang bersama-sama terealisasi dalam kehidupan semua manusia. Tujuannya jelas yaitu untuk mencapai tingkat pemahaman yang selaras dengan firman Tuhan. Diperlukan sebuah pemahaman yang baik tentang hidup dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Iman dan pengetahuan sudah termasuk di dalamnya—dan pada kesempatan yang ada, keduanya terlihat jelas, sebuah konfirmasi jati diri dan identitas yang sebenarnya.

Hasil-hasil dari proses realisasi iman dan pengetahuan adalah pengaruh terhadap orang lain di mana diri kita sekaligus menjadi teladan utama. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri melainkan tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan di setiap sendi kehidupan. Persoalan hidup tetap ada; mumpung ada waktu dan kesempatan, kita datang kepada Tuhan untuk mengharapkan kekuatan, hikmat, dan bijaksana, serta tuntunan-Nya.

Ada berbagai tindakan yang disebabkan oleh realisasi iman dan pengetahuan, entah baik, entah buruk. Dosa menjadi penghalang bagi mereka yang ingin merealisasikan iman dan pengetahuan yang benar dan pada tempatnya; dosa menjadi pendorong bagi mereka yang sombong dengan iman dan pengetahuan yang dimilikinya, yang tujuannya hanya menyombongkan diri, meraup keutungan, egoisme, dan sikap tidak bersahabat.

Pengetahuan dan iman adalah pedoman untuk menjadikan hidup semakin baik berdasarkan firman Allah, dan mengarahkan hidup kepada-Nya. Dan yang terpenting adalah—sekali lagi: “Orang beriman dan berpengetahuan seharusnya terus belajar dari Tuhan dan firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya, sehingga dapat menjadikan dirinya berkenan kepada Tuhan, pula menjadi teladan dan berkat bagi sesamanya.

 

Salam bae......

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...