
“Kehidupan” menyediakan berbagai jenis konteks yang harus kita hadapi, jalani, dan maknai. Ada koherensi yang terjadi antara pikiran dan perilaku. Dalam ruang iman, perilaku (perbuatan) adalah wujud dari iman itu sendiri. Apa yang diimani terlihat jelas dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang.
Perbuatan-perbuatan adalah matra karismatik bagi seseorang. Iman juga demikian. Matra iman adalah perbuatan-perbuatan yang direalisasikan dalam kehidupan (relasi dan komunikasi). Semua bentuk perbuatan baik, dilandasi dengan prinsip KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya), KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]), dan prinsip BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena seseorang mengasihi Dia). Iman Kristen bergerak dari ketiga aspek tersebut.
Pada tahap ini, kita dapat memahami apa itu matra karismatik iman Kristen. Tiga aspek yang saya sebut di atas, adalah matranya. Untuk lebih jelasnya, saya menguraikannya secara singkat berikut ini.
Matra Pertama: KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, menampilkan sikap “kesetiaan” pada ajaran-ajaran-Nya, terutama tentang “mengasihi Dia dan sesama, mendoakan musuh, dan memberkati orang yang mengutuk”. Kesetiaan ini tampil ke permukaan dalam hal beribadah, berdoa, dan menyatakan kepedulian kepada sesama. Inilah tanggung jawab iman.
Jangan bicara soal iman jika tidak bertanggung jawab. Jangan bicara soal iman, jika tidak setia kepada Yesus Kristus. Para martir Kristen sepanjang abad, menunjukkan matra karismatik dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Meski mereka disiksa dan bunuh, mereka tetap setia kepada Yesus dan tahu bahwa ada jaminan setelah kematian. Mereka juga tahu bahwa para pembunuh mereka, juga akan mati, hanya cara matinya yang mungkin berbeda. Tetapi apakah para pembunuh itu memiliki jaminan setelah kematian?
KESETIAAN adalah tanggung jawab iman. Matra ini begitu kuat terlihat di sepanjang sejarah pada mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Meski dianggap bahwa mereka “menyembah manusia”, tetapi Yesus adalah manusia yang berbeda kualitasnya dengan manusia pada umumnya. Ia datang dan lahir dari Allah—Logos Allah yang kekal—datang ke dalam dunia “menjadi daging” (ho logos sarks egeneto [Yoh. 1:14]), dan menyatakan bahwa Allah yang Mahakuasa itu adalah “Imanuel”, Allah yang “menjadi” dekat dengan manusia, mengenakan daging manusia untuk menunjukkan bahwa Ia mengasihi lebih dari apa yang manusia pikirkan dan pahami.
KESETIAAN kepada Yesus Kristus tidak bertepuk sebelah tangan. JAMINAN disediaan bagi mereka yang percaya dan setia seperti penegasan Rasul Yohanes: “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Allah yang “menjadi” adalah Allah yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya, dan Ia pula menyatakan diri sebagai Allah yang imanen: IMANUEL.
Sebagai matra karismatik iman Kristen, KESETIAAN menjadi taruhan iman sepanjang hayat. Gumul juang adalah bagian dalam proses realisasi kesetiaan itu. KESETIAAN itu mahal harganya; bahkan hidup kita adalah bayarannya. Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan untuk SETIA sampai mati. Matra ini menjadi kualitas dan kemampuan orang Kristen untuk menunjukkan bahwa mereka tidak salah beriman kepada Yesus Kristus. Ia menjamin dan memberkati, serta memberikan kemenangan.
Matra Kedua: KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]). Keberanian ini mengikuti teladan Yesus Kristus. Ia berterus terang menyatakan bahwa “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka [domba-domba-Nya, sebuah arti kiasan bagi orang-orang pilihan-Nya] dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:28-30).
Jika Yesus menyatakan yang benar dengan berani, maka setiap orang percaya pun melakukan hal yang sama. Berani bersaksi bagi dan tentang Yesus adalah realisasi dari lima identitas Kristen yang diikat oleh kasih kepada Yesus Kristus:
(1) Identitas sebagai PENJALA MANUSIA (ἁλιεῖς ἀνθρώπων [halieis anthrōpōn, fishers of men). Sebagai penjala, orang percaya menjala orang yang belum percaya, orang berdosa dan pendosa, dengan Injil (Kabar Baik); membawanya kepada Yesus Kristus, mengajarkan dan mengarahkan mereka kepada kehidupan yang kudus, mengampuni, dan peduli. BERANI BERSAKSI melalui tindakan menjala manusia.
(2) Identitas sebagai GARAM DUNIA [ἅλας τῆς γῆς]. Sebagai garam dunia, orang percaya, kita mengarahkan pandangan untuk melihat bahwa dunia adalah ladang misi Allah dan mengubahnya menjadi dunia yang tumbuh buah-buah kebenaran, kasih, keadilan, dan kedamaian. Yesus menjadikan kita sebagai garam dunia untuk berjuang dan menghentikan kerusakan karena dosa. Ini menjadi tanggung jawab orang percaya untuk “mengubah” dunia menjadi tempat yang penuh kasih, kebenaran, keadilan, dan kedamaian.
Sebagai matra karismatik, KEBERANIAN menampilkan identitas garam dunia, adalah tindakan yang memang berisiko, tetapi sekaligus menjadi upaya menaburkan benih-benih firman Tuhan, yang dengannya kita memelihara dunia dari pembusukan karena dosa, dan menjadi pengawet relasi dan komunikasi dalam masyarakat mikro maupun makro.
(3) Identitas sebagai TERANG DUNIA [φῶς τοῦ κόσμου]. Menjadi terang dunia berarti menjelaskan pengaruh yang lebih luas. Yesus menjadikan para murid-Nya sebagai terang dunia, bersifat “derivatif” [turunan, yang diturunkan] dari pengakuan Yesus sebagai “Terang Dunia” [Ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου, Egō eimi to phōs tou kosmou; Yoh. 8:12; bdk. Mat. 4:16]. Orang percaya telah diterangi oleh Yesus Kristus dan konsekuensinya adalah mereka memancarkan dan menjadi terang dunia.
Identitas sebagai terang dunia bertujuan agar orang yang melihat perbuatan kita “memuliakan Bapa” (Mat. 5:16). Kita adalah terang dunia dan berani menampilkan gaya hidup yang “terang” [memancarkan] sehingga kita dapat menjadi teladan. Kita menerangi dunia yang “gelap” karena dosa; dunia yang suka memandang pada kegelapan [kejahatan]. Kita harus berani menjadi terang, kapan pun, dan di mana pun. Menurut John Piper, “ketika perbuatan baik kita mendapat cita rasa dari garam dan cahaya dari terang ini, dunia akan disadarkan untuk mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu, kemuliaan Allah di dalam Yesus” (John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, alih bahasa Miriam Santoso [Malang: Literatur SAAT, 2012], 401). Dan menurut Margaret Davies, orang percaya dilarang bersahabat dengan dunia dalam konteks kedagingan yang berlawanan dengan kehendak Allah. Orang percaya—meski dilarang bersahabat dengan dunia—tetapi “para pengikut Yesus tidak harus menjadi terpisah dari dunia, melaikan mereka eksis sebagai terang bagi dunia” (Margaret Davies, Matthew. Second Edition [Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009. Department of Biblical Studies, University of Sheffield], 51).
(4) Identitas sebagai PELAKU FIRMAN. Rasul Yakobus menulis: “Γίνεσθε δὲ ποιηταὶ λόγου, καὶ μὴ μόνον ἀκροαταί, παραλογιζόμενοι ἑαυτούς” [Ginesthe de poiētai logou, kai mē monon akhroatai, paralogizomenoi eautous], “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”. Menjadi pelaku firman harus berani. Matra ini begitu kuat dan jelas dalam konteks penerapannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas menjadi pelaku firman dilahirkan dari pemahaman akan tanggung jawab iman; iman yang berani bertindak, dan bukan iman hanya pada tataran kata-kata belaka. Menjadi pelaku firman, berarti BERANI BERSAKSI.
(5) Identitas sebagai MURID KRISTUS. Aspek ini menegaskan prinsip “saling mengasihi”. Menjadi murid Yesus Kristus, mutlak harus saling mengasihi dan BERANI mengasihi meski musuh sekalipun. Yesus berkata (Yoh. 13:34-35): “Ἐντολὴν καινὴν δίδωμι ὑμῖν, ἵνα ἀγαπᾶτε ἀλλήλους· καθὼς ἠγάπησα ὑμᾶς, ἵνα καὶ ὑμεῖς ἀγαπᾶτε ἀλλήλους. Ἐν τούτῳ γνώσονται πάντες ὅτι ἐμοὶ μαθηταί ἐστε, ἐὰν ἀγάπην ἔχητε ἐν ἀλλήλοις [Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi]. Matra ini menunjukan karismatik iman seseorang, bahkan totalitas jati dirinya, seutuhnya.
Menjadi murid Yesus berarti BERANI BERSAKSI dan juga MENGASIHI, tanpa syarat. Yesus telah mengasihi kita maka kitapun harus saling mengasihi. Bahkan lebih dari itu, Yesus sendiri menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh. 10:11): Ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός· ὁ ποιμὴν ὁ καλὸς τὴν ψυχὴν αὐτοῦ τίθησιν ὑπὲρ τῶν προβάτων [Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya].
BERANI BERSAKSI adalah pernyataan sikap yang jujur—tidak menyembunyikan iman. Jujur berarti melakukan dan mengatakan yang sebenarnya. Pada ranah ini, setiap orang percaya dapat berlaku jujur karena imannya kepada Tuhan Yesus. Iman Kristen menancapkan kualifikasi karakter diri pada sikap jujur yang terkorelasi dengan prinsip “kasih”. Kejujuran yang dipisahkan dari prinsip kasih bukanlah bagian dari iman Kristen. Dan kasih itu mendorong kita memperlihatkan KEBERANIAN untuk BERSAKSI.
Matra Ketiga: BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena mengasihi Dia). Setiap penganut agama membuat komitmen untuk berpegang pada setiap ajaran yang tertulis di dalam kitab sucinya masing-masing. Dalam konteks ini, Kekristenan menunjukkan sikap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Yesus. Ajaran-ajaran-Nya begitu dalam dan kuat, menekankan sikap hidup yang mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat. 22:37-39): “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Matra karismatik untuk BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus diteruskan dan dibuktikan oleh para rasul (Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan lainnya). Dan kita yang hidup di zaman sekarang ini juga menerima dan melakukan matra karismatik tersebut. Sikap berpegang teguh adalah bagian dari iman kepada Yesus Kristus. Konteks ini telah dibuktikan oleh para martir, para pahlawan iman yang telah meninggalkan teladan iman mereka kepada setiap generasi, sampai kepada kita sekarang ini.
Pada akhirnya, kita harus menunjukkan kualitas iman kita melalui KESETIAAN kepada Yesus Kristus, KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran-Nya. Itulah ketiga matra karismatik iman Kristen yang telah dibuktikan, diuji, dan diwartakan dari zaman ke zaman.
Sudahkah kita mengambil bagian untuk merealisasikan matra karismatik iman Kristen tersebut? Kiranya Tuhan memimpin dan menguatkan kita untuk dapat menunjukkan KESETIAAN, KEBERANIAN BERSAKSI, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus, di sepanjang hayat kita: kini, dan selamanya.
Salam Bae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar