Keputusan seseorang untuk menyombongkan diri karena ia merasa—dalam penilaian dan perasaannya sendiri—bahwa ia masih lebih baik dari orang lain, masih lebih berkuasa dari orang lain, dan masih lebih hebat dari orang lain, dan sederet alasan kontekstual lainnya. Semua jenis kesombongan itu wajar karena kesombongan lahir dari diri manusia yang memiliki alasan tertentu.
Jenis-jenis kesombongan itu beragam. Saya menyebutnya di sini:
Ada yang sombong karena ia merasa berjasa bagi orang lain
Ada yang sombong karena ia merasa ia lebih aman dan nyaman hidupnya dibanding yang lain
Ada yang sombong karena ia memiliki jabatan yang tinggi
Ada yang sombong karena ia memiliki kekayaan yang besar
Ada yang sombong karena ia memiliki uang yang banyak
Ada yang sombong karena ia mobil atau rumah mewah
Ada yang sombong karena ia telah lulus dari perguruan tinggi dengan nilai yang tinggi
Ada yang sombong karena ia merasa hebat dari yang lain
Ada yang sombong karena ia pintar dan sangat pandai
Ada yang sombong karena ia telah membenci seseorang
Ada yang sombong karena ia merasa lebih baik dari orang lain
Ada yang sombong karena ia lebih sehat dari yang lain
Ada yang sombong karena ia dipercaya dibanding yang lain
Kesombongan muncul dari banyak faktor. Salah satu faktor yang mendominasi mayoritas pikiran manusia adalah disebabkan oleh “kondisi diri sendiri”. Mengapa harus kondisi diri sendiri? Memang demikian adanya.
Kondisi diri seseorang mengharuskan ia untuk membandingkannya dengan diri orang lain. Ini sifatnya mutlak. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang lain. Hanya esensinya yang membedakannya. Apa yang dibandingkan? Tentu sangat variatif. Tergantung seseorang mau menilai dan membandingkannya dengan apa yang ia miliki dan ia percayai
Kondisi kesombongan manusia tercermin dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Tiga hal tersebut adalah “buah” nyata dari hidup manusia. Filsafat kesombongan adalah sebuah filsafat yang mencermati kesombongan manusia secara bijaksana. Artinya, kesombongan dapat dipahami sebagai bagian yang ada dalam diri manusia yang didasari pada apa yang dimiliki seseorang. Dalam pandangan umum, orang boleh sombong asalkan berbanding lurus dengan apa yang ia miliki, apa yang ia hasilkan, dan apa yang ia harapkan, jika memang itu dapat diraihnya.
Filsafat kesombongan—atau dapat diartikan sebagai pengetahuan mengenai seluk-beluk kesombogan—adalah cara memikirkan alasan-alasan kesombongan manusia yang “pada tempatnya” dan “tidak pada tempatnya”.
Kesombongan yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah kesombongan karena seseorang memiliki uang, harta, dan kekayaan yang banyak. Di samping itu, kesombongan yang satu ini juga tidak kalah terkenalnya yaitu kesombongan karena “telah berjasa”. Telah berjasa ini pun beragam. Ada yang berjasa karena telah menolong orang lain baik materi maupun fisik
Yang lebih menonjol kesombongannya adalah berjasa telah menolong dari segi materi.
Ada orang yang karena pernah menolong orang lain dalam hal materi maka dia berkoar-koar dan dengan sombongnya mengatakan bahwa “kalian pernah mencicipi bantuan saya, jadi tahu dirilah”. Kesombongan ini ada benarnya. Artinya bahwa jika seseorang pernah ditolong atau dibantu oleh orang lain, haruslah berterima kasih dan menurutnya, berterima kasihlah kepadanya telah menolong Anda. Hanya saja, orang yang menolong menekankan hal yang berbeda, dan motivasinya juga berbeda.
Akan tetapi, kesombongan jenis ini juga ada salahnya. Artinya, orang yang pernah membantu dan menolong mengharuskan orang yang ditolongnya untuk selalu sadar dan tahu diri bahwa ia pernah ditolong olehnya. Kata “mengharuskan” seolah-olah menyatakan bahwa jika tanpa bantuannya, seseorang tidak akan hidup atau tidak dapat berbuat apa-apa.
Dalam alam pemikiran semacam ini, kita perlu mencermati alur situasi dan kondisi yang sebenarnya. Orang yang pernah membantu, mengharapkan bahwa orang yang dibantunya harus selalu ingat dalam segala situasi dan kondisi bahwa ia pernah ditolong, meskipun tidak dalam konteks itu.
Orang semacam ini sedang menggariskan bahwa orang yang pernah berhutang (ditolong) kepadanya haruslah diingat dan disadari sesadar-sadarnya bahwa dia pernah menolong. Apa pun alasannya. Kesombongan macam ini adalah tidak pada tempatnya. Tentu, dari aspek komprehensif hayati manusia, tak seorang pun yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk orang yang sombong tadi – atau pun orang-orang kaya, sekaya-kayanya di dunia ini. Maka, memaksakan dan menggariskan seseorang untuk selalu tahu diri dan sadar bahwa ia pernah ditolong, harus juga diterapkan kepada orang yang sombong itu. Sebab jika tidak, maka ia akan dengan leluasa menyombongkan diri.
Hidup ini ada keseimbangan. Seseorang dapat dikatakan kaya karena ada yang miskin. Seseorang dapat katakan pintar karena ada yang bodoh. Seseorang dapat dikatakan sombong karena ada yang rendah hati. Itu sebabnya, orang yang sombong boleh sombong tetapi kesombongannya itu tidak berdiri sendiri. Ia harus membutuhkan pendamping sebagai padanan kata dan situasi yang sesuai fakta.
Filsafat kesombongan adalah buah pemikiran manusia yang mendalami akar permasalahan kesombongan manusia. Latar belakang kesombongan manusia perlu menjadi sinosur [pusat perhatian, “cynosure”] untuk mendapatkan alasan-alasan yang akurat dan spesifik.
Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa ditekan dengan rendah hati. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa diabaikan oleh akal budi yang sehat.
Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihilangkan dengan kesabaran. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dialihkan kepada hal yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.
Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dicegah dengan selalu menghargai orang lain. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihentikan dengan ketegasan prinsip dan kualitas diri.
Kesombongan yang over dosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang merasa dirinya paling suci, paling mulia, paling benar, dan paling rohani – seolah-olah dia tidak pernah berbuat dosa. Kesombongan over dosis ini sering dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai pola pikir yang kerdil. Dia merasa bahwa orang-orang telah berhutang budi selamanya kepada dirinya. Kesombongan ini dipunyai oleh orang yang menaruh kebencian terhadap seseorang yang dianggap telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni. Alasan dia menganggap orang tersebut telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni disebabkan oleh hasutan-hasutan dan fitnah-fitnah dari teman sejawatnya atau musuh yang telah menjadi sahabatnya karena keduanya memiliki musuh yang sama.
Berbagai kesombongan yang dia luapkan ke permukaan. Dan karena kesombongannya itu, hal-hal yang tidak terkait dengan “karena jasanya” selalu ia kait-kaitkan. Ini disebut dengan argumentum ad homine” – sebuah argumentasi yang dibangun bukan berdasar pada persoalan tetapi kepada personalitas seseorang yang berperan sebagai lawan atau musuhnya.
Filsafat kesombongan sebenarnya secara esensial menghadirkan bentuk-bentuk pemikiran yang membawa seseorang kepada kedewasaan berpikir dan bertindak. Kedewasaan berpikir artinya seseorang memberikan waktu untuk menyelidiki akar persoalan kesombongan manusia. Kedewasaan bertindak artinya seseorang bertindak bukan pada jalur kesombongan atau pada jalur keangkuhan hidup, melainkan pada jalur yang normal dan benar.
Tak jadi soal ketika kita melihat ada orang yang sangat sombong. Tinggal bagaimana kita menilainya berdasarkan buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang sombong itu.
Tentu orang yang menyombongkan diri memiliki beragam alasan di baliknya. Kesombongannya menjadikan diri kita sabar dalam menghadapinya, menjadikan kita belajar berpikir jernih tanpa terpancing kesombongannya yang over dosis.
TUHAN memang adil dan benar. Ia tahu bahwa orang-orang yang sombong akan menerima upah. Upah adalah “hadiah” dari-Nya. Hadiah tersebut berbeda-beda, tergantung dari apa yang telah diperbuat manusia selama hidupnya. Yang hidup dan berbuat sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling terindah dan menyenangkan. Yang hidup dan berbuat tidak sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling mengerikan dan menyiksakan.
Kesombongan adalah soal persepsi yang terkait erat dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi ini juga terkait erat dengan kondisi diri seseorang. Persepsi dapat membentuk karakter seseorang. Karakter yang berkembang dipengaruhi oleh persepsi yang berulang-ulang. Artinya, persepsi tentang dirinya telah menjadi semacam habituasi sedemikian rupa.
Memikirkan kesombongan merupakan hal yang rendah dan merendahkan diri sendiri. Pasalnya, tidak ada manusia yang dapat mengklaim bahwa dirinya yang paling hebat di seluruh dunia. Meskipun ada yang bisa mengklaim demikian, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Klaim tersebut tidaklah universal karena pengklaimannya tidak melibatkan semua orang di seluruh dunia. Kehebatan seseorang hanya terjadi di zamannya, dan bukan di zaman-zaman lainnya.
Manusia, meski sombong, tetap ia terbatas: ia bisa mati kapan saja, bisa sakit, bisa lemah, geger otak, stroke, kejang-kejang, gila, stres, bunuh diri, dan lain sebagainya.
Banyak orang sombong di sepanjang sejarah yang hidupnya berakhir stragis. Namun tetap saja kesombongan menjadi “trending topic” dari zaman ke zaman.
Keangkuhan adalah sahabat kesombongan. Selain keangkuhan, rasa percaya diri yang berlebihan yang pada faktanya tidak berbanding lurus dengan apa adanya dirinya sendiri. Rasa percaya diri ini dapat dimunculkan tatkala ia dengan segala kekayaaannya dapat membayar atau mengatur orang lain. Dengan pengalaman membayar dan mengatur orang lain, dia berpikir bahwa dia bisa mengatur orang-orang lain yang dianggap penting. Ini adalah kesombongan yang tak terkendali dan merupakan sebuah omong kosong. Apalagi, ketika dia mengatakan demikian, secara logika sudah tidak masuk akal.
Nah, kesombongan macam ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak beres kerohaniannya dengan Tuhan, suka mencaci maki, suka memalsukan kebenaran, memfitnah, menggiring opini, berbohong dan menjelek-jelekkan orang lain.
Di sisi lain, orang yang sombong seperti ini, tidak akan pernah berhenti memamerkan kehebatannya di bidang membayar dan mengatur orang, memfitnah orang lain, melakukan penipuan dengan cara memfitnah, menciptakan sejarah dengan mengutamakan dirinya sendiri yang sebenarnya tidaklah demikian.
Filsafat kesombongan yang sedang kita bicarakan ini, dapat memberikan informasi yang bagus bagi pemahaman kita tentang kesombongan seseorang yang secara nyata menyita perhatian, menguras tenaga dan pikiran kita.
Dalam pandangan psikologi, kesombongan dapat terjadi pada orang-orang yang biasa tetapi ketika bergaul dengan orang yang tidak beres pikirannya. Sebut saja ketika orang-orang biasa bergabung dengan para pemberontak, atau perancang kudeta dalam suatu organisasi, mereka disuguhkan dengan berbagai makanan yang berisi racun pikiran di mana makanan tersebut disuap kepada para pengikutnya yang di dalamnya terdiri dari fitnah, pembohongan, pendustaan, pemalsuan data dan fakta, sehingga para pengikut ini dengan berani menentang orang-orang yang telah difitnahkan secara tidak manusiawi. Mereka menjadi sombong karena menganggap tahu segalanya, dan didukung oleh orang[-orang] yang merasa diri hebat, punya uang banyak, dan dianggap memiliki pengaruh yang kuat.
Kesombongan dari para pengikut pemberontak memang cukup beralasan. Mereka sombong karena mereka tahu bahwa ada orang-orang yang punya uang banyak dan lebih hebat dari diri mereka sendiri. Jarang sekali ditemukan bahwa ada orang miskin dan tak punya apa-apa merasa sombong karena mempunyai pemimpin yang juga tidak punya apa-apa. Apa yang mau disombongkan dan dibanggakan?
Itu sebabnya, para pengikut pemberontak akan merasa leluasa meluberkan kesombongannya karena dia anggap pasti ada yang akan membelanya. Ini dinamakan kesombongan berlapis.
Dengan memahami filsafat kesombongan, mengantar kita kepada kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Kita bisa mengetahui banyak hal. Kita bisa mempelajari banyak hal.
Kita pun tahu, bahwa ada orang yang sombong karena punya uang dan jabatan. Orang yang sombong ini menganggap dirinya bisa berbuat semaunya karena yang dibawahinya adalah orang-orang kecil yang dianggap tidak tahu apa-apa. Orang yang sombong ini menggunakan ancaman, di mana ancaman tersebut bisa berakibat bahwa ia bisa melakukan apa saja karena menganggap orang-orang kecil tidak bisa melawannya. Orang seperti ini tidaklah memiliki karakter yang baik. Ia hanya merasa bangga dengan kepunyaannya yang sifatnya fana. Apa yang bisa dipertahankan darinya?
Ini merupakan gejala-gejala ketidakberesan rohani (spiritual) di hadapan Tuhan dan menjelaskan bahwa orang yang sombong itu, memiliki banyak sekali persoalan hidup yang belum diselesaikannya secara tuntas.
Sombongnya seseorang menciptakan siklus ketidaktertarikan atau ketidaksukaan orang lain terhadapnya. Sombong memiliki makna yang sama dengan “belagu”. Belagu adalah perasaan diri seseorang yang dimunculkan tatkala pengalamannya dijadikan dasar untuk bangga diri yang berlebihan. Penekanannya tentu berbeda dengan memaparkan pengalaman sebagai “contoh”. Tetapi, menjadikan pengalaman sebagai seolah-olah sudah tahu banyak, sudah lebih hebat, sudah tambah hebat dan lain sebagainya, membuat seseorang tersebut dicap sebagai “belagu” atau “sombong”, bisa karena harta, uang, telah berjasa, karena pintar, merasa kuat, dan lain sebagainya.
Ingatlah, janganlah kita menyombongkan diri. Alkitab telah memperingatkan kita untuk tidak sombong, karena itu dibenci oleh Dia.
Enam perkara ini yang paling dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara (Amsal 6:16-19).
Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji (1 Samuel 2:3)
Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13)
Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga (Amsal 21:24)
Jagalah diri kita untuk tetap bersyukur atas apa yang Allah berikan. Hanya ucapan syukur yang membuat kita puas, membuat kita sadar bahwa berkat itu datangnya dari Allah. Bersyukur adalah keputusan terbaik untuk menekan kesombongan, bahkan menghancurkannya. Tetaplah rendah hati: “Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahhatian mendahului kehormatan” (Amsal 15:33; 18:12), “Ganjaran kerendahhatian dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan” (Amsal 22:4), dan “Keangkuhan [congkak] merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima [meraih] pujian [kemuliaan, kehormatan]” (Amsal 29:23).
Salam Bae.




