Selasa, 14 Juni 2022

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untuk sombong. Di sini, wajar bukan berarti kita setuju dengan sikap sombong, tetapi kesombongan itu sifatnya natural: ada alasan di baliknya.

Keputusan seseorang untuk menyombongkan diri karena ia merasa—dalam penilaian dan perasaannya sendiri—bahwa ia masih lebih baik dari orang lain, masih lebih berkuasa dari orang lain, dan masih lebih hebat dari orang lain, dan sederet alasan kontekstual lainnya. Semua jenis kesombongan itu wajar karena kesombongan lahir dari diri manusia yang memiliki alasan tertentu.

Jenis-jenis kesombongan itu beragam. Saya menyebutnya di sini:

Ada yang sombong karena ia merasa berjasa bagi orang lain

Ada yang sombong karena ia merasa ia lebih aman dan nyaman hidupnya dibanding yang lain

Ada yang sombong karena ia memiliki jabatan yang tinggi

Ada yang sombong karena ia memiliki kekayaan yang besar

Ada yang sombong karena ia memiliki uang yang banyak

Ada yang sombong karena ia mobil atau rumah mewah

Ada yang sombong karena ia telah lulus dari perguruan tinggi dengan nilai yang  tinggi

Ada yang sombong karena ia merasa hebat dari yang lain

Ada yang sombong karena ia pintar dan sangat pandai

Ada yang sombong karena ia telah membenci seseorang

Ada yang sombong karena ia merasa lebih baik dari orang lain

Ada yang sombong karena ia lebih sehat dari yang lain

Ada yang sombong karena ia dipercaya dibanding yang lain

Kesombongan muncul dari banyak faktor. Salah satu faktor yang mendominasi mayoritas pikiran manusia adalah disebabkan oleh “kondisi diri sendiri”. Mengapa harus kondisi diri sendiri? Memang demikian adanya.

Kondisi diri seseorang mengharuskan ia untuk membandingkannya dengan diri orang lain. Ini sifatnya mutlak. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang lain. Hanya esensinya yang membedakannya. Apa yang dibandingkan? Tentu sangat variatif. Tergantung seseorang mau menilai dan membandingkannya dengan apa yang ia miliki dan ia percayai

Kondisi kesombongan manusia tercermin dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Tiga hal tersebut adalah “buah” nyata dari hidup manusia. Filsafat kesombongan adalah sebuah filsafat yang mencermati kesombongan manusia secara bijaksana. Artinya, kesombongan dapat dipahami sebagai bagian yang ada dalam diri manusia yang didasari pada apa yang dimiliki seseorang. Dalam pandangan umum, orang boleh sombong asalkan berbanding lurus dengan apa yang ia miliki, apa yang ia hasilkan, dan apa yang ia harapkan, jika memang itu dapat diraihnya.

Filsafat kesombongan—atau dapat diartikan sebagai pengetahuan mengenai seluk-beluk kesombogan—adalah cara memikirkan alasan-alasan kesombongan manusia yang “pada tempatnya” dan “tidak pada tempatnya”.

Kesombongan yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah kesombongan karena seseorang memiliki uang, harta, dan kekayaan yang banyak. Di samping itu, kesombongan yang satu ini juga tidak kalah terkenalnya yaitu kesombongan karena “telah berjasa”. Telah berjasa ini pun beragam. Ada yang berjasa karena telah menolong orang lain baik materi maupun fisik

Yang lebih menonjol kesombongannya adalah berjasa telah menolong dari segi materi.

Ada orang yang karena pernah menolong orang lain dalam hal materi maka dia berkoar-koar dan dengan sombongnya mengatakan bahwa “kalian pernah mencicipi bantuan saya, jadi tahu dirilah”. Kesombongan ini ada benarnya. Artinya bahwa jika seseorang pernah ditolong atau dibantu oleh orang lain, haruslah berterima kasih dan menurutnya, berterima kasihlah kepadanya telah menolong Anda. Hanya saja, orang yang menolong menekankan hal yang berbeda, dan motivasinya juga berbeda. 

Akan tetapi, kesombongan jenis ini juga ada salahnya. Artinya, orang yang pernah membantu dan menolong mengharuskan orang yang ditolongnya untuk selalu sadar dan tahu diri bahwa ia pernah ditolong olehnya. Kata “mengharuskan” seolah-olah menyatakan bahwa jika tanpa bantuannya, seseorang tidak akan hidup atau tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam alam pemikiran semacam ini, kita perlu mencermati alur situasi dan kondisi yang sebenarnya. Orang yang pernah membantu, mengharapkan bahwa orang yang dibantunya harus selalu ingat dalam segala situasi dan kondisi bahwa ia pernah ditolong, meskipun tidak dalam konteks itu.

Orang semacam ini sedang menggariskan bahwa orang yang pernah berhutang (ditolong) kepadanya haruslah diingat dan disadari sesadar-sadarnya bahwa dia pernah menolong. Apa pun alasannya. Kesombongan macam ini adalah tidak pada tempatnya. Tentu, dari aspek komprehensif hayati manusia, tak seorang pun yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk orang yang sombong tadi – atau pun orang-orang kaya, sekaya-kayanya di dunia ini. Maka, memaksakan dan menggariskan seseorang untuk selalu tahu diri dan sadar bahwa ia pernah ditolong, harus juga diterapkan kepada orang yang sombong itu. Sebab jika tidak, maka ia akan dengan leluasa menyombongkan diri.

Hidup ini ada keseimbangan. Seseorang dapat dikatakan kaya karena ada yang miskin. Seseorang dapat katakan pintar karena ada yang bodoh. Seseorang dapat dikatakan sombong karena ada yang rendah hati. Itu sebabnya, orang yang sombong boleh sombong tetapi kesombongannya itu tidak berdiri sendiri. Ia harus membutuhkan pendamping sebagai padanan kata dan situasi yang sesuai fakta.

Filsafat kesombongan adalah buah pemikiran manusia yang mendalami akar permasalahan kesombongan manusia. Latar belakang kesombongan manusia perlu menjadi sinosur [pusat perhatian, “cynosure”] untuk mendapatkan alasan-alasan yang akurat dan spesifik.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa ditekan dengan rendah hati. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa diabaikan oleh akal budi yang sehat.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihilangkan dengan kesabaran. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dialihkan kepada hal yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dicegah dengan selalu menghargai orang lain. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihentikan dengan ketegasan prinsip dan kualitas diri.

Kesombongan yang over dosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang merasa dirinya paling suci, paling mulia, paling benar, dan paling rohani – seolah-olah dia tidak pernah berbuat dosa. Kesombongan over dosis ini sering dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai pola pikir yang kerdil. Dia merasa bahwa orang-orang telah berhutang budi selamanya kepada dirinya. Kesombongan ini dipunyai oleh orang yang menaruh kebencian terhadap seseorang yang dianggap telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni. Alasan dia menganggap orang tersebut telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni disebabkan oleh hasutan-hasutan dan fitnah-fitnah dari teman sejawatnya atau musuh yang telah menjadi sahabatnya karena keduanya memiliki musuh yang sama.

Berbagai kesombongan yang dia luapkan ke permukaan. Dan karena kesombongannya itu, hal-hal yang tidak terkait dengan “karena jasanya” selalu ia kait-kaitkan. Ini disebut dengan argumentum ad homine – sebuah argumentasi yang dibangun bukan berdasar pada persoalan tetapi kepada personalitas seseorang yang berperan sebagai lawan atau musuhnya.

Filsafat kesombongan sebenarnya secara esensial menghadirkan bentuk-bentuk pemikiran yang membawa seseorang kepada kedewasaan berpikir dan bertindak. Kedewasaan berpikir artinya seseorang memberikan waktu untuk menyelidiki akar persoalan kesombongan manusia. Kedewasaan bertindak artinya seseorang bertindak bukan pada jalur kesombongan atau pada jalur keangkuhan hidup, melainkan pada jalur yang normal dan benar.

Tak jadi soal ketika kita melihat ada orang yang sangat sombong. Tinggal bagaimana kita menilainya berdasarkan buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang sombong itu.

Tentu orang yang menyombongkan diri memiliki beragam alasan di baliknya. Kesombongannya menjadikan diri kita sabar dalam menghadapinya, menjadikan kita belajar berpikir jernih tanpa terpancing kesombongannya yang over dosis.

TUHAN memang adil dan benar. Ia tahu bahwa orang-orang yang sombong akan menerima upah. Upah adalah “hadiah” dari-Nya. Hadiah tersebut berbeda-beda, tergantung dari apa yang telah diperbuat manusia selama hidupnya. Yang hidup dan berbuat sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling terindah dan menyenangkan. Yang hidup dan berbuat tidak sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling mengerikan dan menyiksakan.

Kesombongan adalah soal persepsi yang terkait erat dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi ini juga terkait erat dengan kondisi diri seseorang. Persepsi dapat membentuk karakter seseorang. Karakter yang berkembang dipengaruhi oleh persepsi yang berulang-ulang. Artinya, persepsi tentang dirinya telah menjadi semacam habituasi sedemikian rupa.

Memikirkan kesombongan merupakan hal yang rendah dan merendahkan diri sendiri. Pasalnya, tidak ada manusia yang dapat mengklaim bahwa dirinya yang paling hebat di seluruh dunia. Meskipun ada yang bisa mengklaim demikian, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Klaim tersebut tidaklah universal karena pengklaimannya tidak melibatkan semua orang di seluruh dunia. Kehebatan seseorang hanya terjadi di zamannya, dan bukan di zaman-zaman lainnya.

Manusia, meski sombong, tetap ia terbatas: ia bisa mati kapan saja, bisa sakit, bisa lemah, geger otak, stroke, kejang-kejang, gila, stres, bunuh diri, dan lain sebagainya.

Banyak orang sombong di sepanjang sejarah yang hidupnya berakhir stragis. Namun tetap saja kesombongan menjadi “trending topic” dari zaman ke zaman.

Keangkuhan adalah sahabat kesombongan. Selain keangkuhan, rasa percaya diri yang berlebihan yang pada faktanya tidak berbanding lurus dengan apa adanya dirinya sendiri. Rasa percaya diri ini dapat dimunculkan tatkala ia dengan segala kekayaaannya dapat membayar atau mengatur orang lain. Dengan pengalaman membayar dan mengatur orang lain, dia berpikir bahwa dia bisa mengatur orang-orang lain yang dianggap penting. Ini adalah kesombongan yang tak terkendali dan merupakan sebuah omong kosong. Apalagi, ketika dia mengatakan demikian, secara logika sudah tidak masuk akal.

Nah, kesombongan macam ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak beres kerohaniannya dengan Tuhan, suka mencaci maki, suka memalsukan kebenaran, memfitnah, menggiring opini, berbohong dan menjelek-jelekkan orang lain.

Di sisi lain, orang yang sombong seperti ini, tidak akan pernah berhenti memamerkan kehebatannya di bidang membayar dan mengatur orang, memfitnah orang lain, melakukan penipuan dengan cara memfitnah, menciptakan sejarah dengan mengutamakan dirinya sendiri yang sebenarnya tidaklah demikian.

Filsafat kesombongan yang sedang kita bicarakan ini, dapat memberikan informasi yang bagus bagi pemahaman kita tentang kesombongan seseorang yang secara nyata menyita perhatian, menguras tenaga dan pikiran kita.

Dalam pandangan psikologi, kesombongan dapat terjadi pada orang-orang yang biasa tetapi ketika bergaul dengan orang yang tidak beres pikirannya. Sebut saja ketika orang-orang biasa bergabung dengan para pemberontak, atau perancang kudeta dalam suatu organisasi, mereka disuguhkan dengan berbagai makanan yang berisi racun pikiran di mana makanan tersebut disuap kepada para pengikutnya yang di dalamnya terdiri dari fitnah, pembohongan, pendustaan, pemalsuan data dan fakta, sehingga para pengikut ini dengan berani menentang orang-orang yang telah difitnahkan secara tidak manusiawi. Mereka menjadi sombong karena menganggap tahu segalanya, dan didukung oleh orang[-orang] yang merasa diri hebat, punya uang banyak, dan dianggap memiliki pengaruh yang kuat.

Kesombongan dari para pengikut pemberontak memang cukup beralasan. Mereka sombong karena mereka tahu bahwa ada orang-orang yang punya uang banyak dan lebih hebat dari diri mereka sendiri. Jarang sekali ditemukan bahwa ada orang miskin dan tak punya apa-apa merasa sombong karena mempunyai pemimpin yang juga tidak punya apa-apa. Apa yang mau disombongkan dan dibanggakan?

Itu sebabnya, para pengikut pemberontak akan merasa leluasa meluberkan kesombongannya karena dia anggap pasti ada yang akan membelanya. Ini dinamakan kesombongan berlapis.

Dengan memahami filsafat kesombongan, mengantar kita kepada kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Kita bisa mengetahui banyak hal. Kita bisa mempelajari banyak hal.

Kita pun tahu, bahwa ada orang yang sombong karena punya uang dan jabatan. Orang yang sombong ini menganggap dirinya bisa berbuat semaunya karena yang dibawahinya adalah orang-orang kecil yang dianggap tidak tahu apa-apa. Orang yang sombong ini menggunakan ancaman, di mana ancaman tersebut bisa berakibat bahwa ia bisa melakukan apa saja karena menganggap orang-orang kecil tidak bisa melawannya. Orang seperti ini tidaklah memiliki karakter yang baik. Ia hanya merasa bangga dengan kepunyaannya yang sifatnya fana. Apa yang bisa dipertahankan darinya?

Ini merupakan gejala-gejala ketidakberesan rohani (spiritual) di hadapan Tuhan dan menjelaskan bahwa orang yang sombong itu, memiliki banyak sekali persoalan hidup yang belum diselesaikannya secara tuntas.

Sombongnya seseorang menciptakan siklus ketidaktertarikan atau ketidaksukaan orang lain terhadapnya. Sombong memiliki makna yang sama dengan “belagu”. Belagu adalah perasaan diri seseorang yang dimunculkan tatkala pengalamannya dijadikan dasar untuk bangga diri yang berlebihan. Penekanannya tentu berbeda dengan memaparkan pengalaman sebagai “contoh”. Tetapi, menjadikan pengalaman sebagai seolah-olah sudah tahu banyak, sudah lebih hebat, sudah tambah hebat dan lain sebagainya, membuat seseorang tersebut dicap sebagai “belagu” atau “sombong”, bisa karena harta, uang, telah berjasa, karena pintar, merasa kuat, dan lain sebagainya.

Ingatlah, janganlah kita menyombongkan diri. Alkitab telah memperingatkan kita untuk tidak sombong, karena itu dibenci oleh Dia.

Enam perkara ini yang paling dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara (Amsal 6:16-19).

Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji (1 Samuel 2:3)

Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13)

Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga (Amsal 21:24)

Jagalah diri kita untuk tetap bersyukur atas apa yang Allah berikan. Hanya ucapan syukur yang membuat kita puas, membuat kita sadar bahwa berkat itu datangnya dari Allah. Bersyukur adalah keputusan terbaik untuk menekan kesombongan, bahkan menghancurkannya. Tetaplah rendah hati: “Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahhatian mendahului kehormatan” (Amsal 15:33; 18:12), “Ganjaran kerendahhatian dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan” (Amsal 22:4), dan “Keangkuhan [congkak] merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima [meraih] pujian [kemuliaan, kehormatan]” (Amsal 29:23).

Salam Bae.

 

Senin, 13 Juni 2022

FILSAFAT KERENDAH-HATIAN

Kesombongan adalah bentuk antonim dari rendah hati. Orang yang sombong berarti orang yang meninggikan hatinya (meninggikan diri), karena merasa bahwa ia “memiliki” sesuatu yang juga dia rasa melebihi dari orang lain. Kesombongan menghasilkan sebuah karakter yang “terpaksa” karena seseorang yang sombong itu harus berusaha memenuhi apa yang akan dia sombongkan. Rendah hati menjadi musuh baginya.

Kebalikannya, orang yang rendah hati adalah orang yang memperlihatkan sikap hidup bahwa apa yang dia miliki bukanlah sesuatu yang dapat dibawa mati (maksudnya benda-benda yang dinikmati selama hidupnya). Rendah hati menjadi simbol bahwa seseorang begitu memahami “kehidupan sebagai kemurahan dari Tuhan”—artinya, Tuhanlah yang memberikan kehidupan itu, dan segala sesuatu yang didapatkan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Menjadi rendah hati tentu tidak mudah. Kita perlu membuang ego (mau menang sendiri), kesombongan, dan kemunafikan (hipokrisi). Sebaliknya, kita perlu menampilkan kebaikan, kepedulian, ketulusan (berdasar kasih) dan kejujuran dalam bersikap. Sikap rendah hati adalah wujud dari perilaku yang mengenal dan memahami Tuhan, bahwa Dialah yang membuat kehidupan itu lebih bermakna, berguna, berbuah.

Ketika sikap rendah hati pudar, maka kesombongan akan muncul. Kesombongan seringkali menggerogoti jatidiri sehingga lambat laun menjadi buruk. Siapa yang sombong, tidak melakukan kebenaran di hadapan Tuhan; siapa yang sombong menghasilkan kecongkakan. Sebaliknya, siapa yang rendah hati, dialah orang berhikmat, dialah orang yang dikasihi Tuhan, dialah orang yang akan dihormati, dialah yang menerima pujian, dan dialah yang akan menerima kekayaan, kehormatan, dan kehidupan dari Tuhan (Amsal 22:4).

Terkadang menjadi rendah hati mendapat tantangan dan hambatan tersendiri. Kerasnya perjuangan untuk menghidupi “hidup” membuat beberapa orang—setelah berhasil—menjadi sombong dan merasa bahwa apa yang dia dapatkan setelah menempuh perjuangan yang lama, adalah usahanya sendiri. Kesombongan lahir dari mereka yang merasa bahwa ia dapat bertindak dan berusaha sendiri tanpa Tuhan.

Namun, mereka yang berhasil setelah menempuh perjuangan yang panjang, dan masih tetap rendah hati, adalah mereka yang hatinya begitu kuat dalam prinsip, dan benar-benar memahami bahwa Tuhan di atas segala-galanya. Seperti yang penulis Amsal katakan: “berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Amsal 10:22). Atau dalam Terjemahan Lama, dikatakan: “Bahwa berkat Tuhan juga yang menjadikan kaya, dan tiada disertainya dengan kedukaan”. Juga terjemahan Versi Mudah Dibaca: “Berkat TUHAN membuat engkau sejahtera dan tidak mendatangkan kesulitan.”

Hanya Tuhanlah yang memberikan kita kehidupan, kekuatan, dan kesempatan untuk mendapatkan (meraih) berkat-berkat-Nya. Jikalau Ia tidak memberikan kehidupan, “mustahil kita dapat bergerak”; jikalau Ia tidak memberikan kekuatan, “mustahil kita dapat bekerja”; jikalau Ia tidak memberikan kita kesempatan, mustahil kita dapat meraih berkat”. Semua itu mendidik kita menjadi pribadi yang “rendah hati”. Itulah filsafat kerendah-hatian.

Filsafat kerendah-hatian memperlihatkan kondisi kehidupan manusia di mana di dalam kondisi tersebut, manusia berjuang untuk hidup sekaligus mengasah diri untuk tetap menjadi rendah hati. Kita terus belajar tentang hidup, tentang kekuatan, dan tentang kesempatan. Ketiganya menyatu untuk mendidik kita menjadi orang yang benar di hadapan Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama.

Filsafat kerendah-hatian mengajarkan kita tujuh hal penting:

Pertama, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita terbatas dalam segala hal, membutuhkan Tuhan dan mengandalkan Dia senantiasa.

Kedua, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita juga memerlukan bantuan orang lain.

Ketiga, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Kita harus membangun komunikasi dan relasi dengan sesama, karena dari merekalah kita belajar rendah hati.

Keempat, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki potensi yang tak terduga untuk menggapai apa yang kita harapkan. Potensi ini haruslah melihat bahwa kehidupan, kekuatan, dan kesempatan adalah pemberian Tuhan yang dengannya kita dapat mencapai tujuan.

Kelima, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki bagiannya masing-masing, untuk diusahakan (dalam proses hidup), sebab Tuhan memberikan segala sesuatu kepada setiap orang sesuai keperluannya; apa yang dibutuhkan orang lain, belum tentu itu yang kita butuhkan. Tuhan itu adil dan penuh kasih.

Keenam, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita mendapat upah dari apa yang kita kerjakan. Tuhan memberkati orang yang terus berusaha; dan hanya mereka yang percaya kepada-Nya, diberikan kelimpahan. Orang yang bekerja keras dan mengandalkan Tuhan, pasti akan diberkati berlimpah-limpah.

Ketujuh, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita akan mempertanggung jawabkan apa yang kita perbuat (hukum tabur tuai). Ketika kita menabur kebaikan, kita menuai (menerima) kebaikan; ketika kita menabur kesombongan, kita menuai kesombongan; ketika kita menabur kejahatan, kita menuai kejahatan.

Tuhan itu Mahatahu dan Mahaadil; Ia melihat perbuatan-perbuatan yang kita tabur, dan Ia adil karena memberikan kepada kita berdasarkan apa yang kita tabur.

Tetaplah rendah hati meski hidup kita berlimpah-limpah dalam kebajikan, harta kekayaan, dan sebagainya. Tetap andalkan Tuhan dalam segala hal, karena dari Dialah kita mendapatkan kehidupan, kekuatan, dan kesempatan.

Salam Bae....

 

KONSEKUENSI HIDUP, KONSEKUENSI LOGIKA: Perjuangan Menikmati dan Mempertahankan Hidup

“Waktu” telah menyediakan kepada kita berbagai hal yang di dalamnya kita turut berjuang menggunakan waktu agar bisa hidup (eksis), bisa mempertahankan hidup, bisa menolong hidup diri sendiri dan orang lain, bisa mengembangkan potensi, talenta, dan sebagainya, bisa menikmati hidup, bisa merenungi hidup, menekan hidup, dan membenci hidup.

Semua hal di atas adalah konsekuensi hidup. Manusia yang hidup menikmati, merasakan, menjalani, dan menghadapi “konsekuensi hidup”. Di samping konsekuensi hidup, ada juga konsekuensi logika. Apa yang kita
pikirkan dan katakan, akan berkonsekuensi pada perbuatan (tindakan) kita. Semua tindakan manusia ditentukan dari konsekuensi logika; manusia yang berpikir akan menghasilkan berbagai hal, entah dalam bentuk ucapan (perkataan), perbuatan (tindakan), atau khayalan semata (tak pernah diwujudkan).

Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup adalah hasil dari konsekuensi hidup dan logika. Kita yang hidup sekarang ini terus mengaplikasikan dan mengimplikasikan kedua konsekuensi tersebut untuk berjuang dan mempertahankan hidup. Mereka yang gagal bisa bangkit lagi, atau bahkan tidak sama sekali. Mereka yang kecewa akan kembali gembira, atau tidak sama sekali. Mereka yang bertahan hidup akan melakukan berbagai cara untuk terus bertahan, atau tidak sama sekali. Mereka yang berjuang mencapai sesuatu akan terus berusaha, atau tidak sama sekali.

Raja Salamo (Sulaiman) menulis: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Artinya, rentetan peristiwa kehidupan yang terjadi dalam diri kita dan orang lain, memang berada dalam masa atau waktunya. Ada waktu lahir; ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yan ditanam. Ada waktu perang; ada waktu damai, dan sederet waktu dan kejadian lainnya yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam kehidupan kita.

Hidup dapat dinikmati, tetapi selalu ada konsekuensi. Peperangan menghasilkan kematian; kecelakaan menghasilkan kematian; kesakitan (sakit penyakit) menghasilkan kematian; pertarungan menghasilkan kematian; kebencian menghasilkan kematian; permusuhan menghasilkan kematian; sakit hati menghasilkan kematian; dendam membara menghasilkan kematian; cemburu menghasilkan kematian; beda keyakinan menghasilkan kematian; mulut kotor dan caci maki menghasilkan kematian. Masih banyak konsekuensi hidup dan logika yang dapat menghasilkan kematian.

Akan tetapi, baik konsekuensi hidup dan logika, juga membawa kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang, cinta kasih, syukur, sukacita, sukaria, senang hati, dan kondisi lainnya yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan bagi manusia. Tetapi kita perlu mengingat pesan-pesan Tuhan melalui firman-Nya yang saya kutip berikut ini (mencakup konsekuensi hidup dan konsekuensi logika):

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21).

Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu (Ulangan 23:21)

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23)

Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti jerat (Lukas 21:34)

Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai (Ulangan 24:17)

Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya (Mazmur 62:11)

Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan (Amsal 3:7)

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya (Amsal 3:27)

Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat (Amsal 4:14)

Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkhotbah 7:9)

Konsekuensi hidup tak bisa dihindari. Oleh karena itu, bertindaklah bijaksana dan mendasari semua perbuatan pada kehendak (firman) Allah. Mereka yang berbuat baik akan menuai kebaikan. Jika tidak sekarang, pasti di kemudian hari. Begitu pula dengan konsekuensi logika, yang tidak bisa dihindari tetapi dijalani. Apa yang dipikirkan jangan sampai bertentangan dengan prinsip-prinsip firman Allah. Pikiran yang baik haruslah dituangkan ke dalam perbuatan-perbuatan sehingga kita dapat menerima buah-buahnya. Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup akan terus kita jalani dan hadapi selagi kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Khalik. Jadilah teladan dalam segala perbuatan baik, pikiran baik, niscaya, konsekuensi hidup dan logika akan menjadi bagian kita—ya, konsekuensi yang baik pula yang kita dapatkan, meski tak menutup kemungkinan bahwa konsekuensi yang tidak baik dapat kita alami juga. Tetapi Tuhan tahu itu semua dan Ia akan menolong, bahkan memberikan upah setimpal dengan apa yang kita kerjakan, pikirkan, lakukan, dan bagikan kepada orang lain sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya.

Salam Bae....

 

IMAN DAN PENGETAHUAN

INTRODUKSI 

Kehidupan semua manusia ditandai dengan berbagai hal dan ditentukan oleh konteks kehidupan itu sendiri. Berbicara makna dan tujuan hidup, juga ditandai dengan berbagai hal atau aspek dan ditentukan oleh konteks hidup itu sendiri. Siapa pun kita, tidak dapat dipisahkan dari sebuah “makna” hidup, entah maknanya penting, tidak terlalu penting, mengharukan, mengesankan, menyedihkan, membosankan, dan sebagainya.

Memahami hidup, ditentukan dari kondisi hidup seseorang. Konteks ini adalah sifatnya normatif – sebab, semua orang, ketika menilai hidupnya, ia selalu melihat pada situasi dan kondisi (sikon) yang dia alami. Hasil dari nilai hidupnya dapat dilihat secara nyata. Ada orang-orang yang kecewa dengan hidupnya, bosan dengan nasihat, muak dengan ketidakadilan, benci dengan gereja, gelisah dengan sekuritas hidup, takut mati, putus asa, stres, depresi, murung, pesimis, benci terhadap sesama, dan berbagai macam hal lainnya yang semuanya ditentukan oleh sikon di sekitarnya.

Kita tidak dapat menghindar dari berbagai persoalan hidup. Berbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi, terorisme, pembunuhan, penyerangan, fitnah, caci maki, keserakahan, ketamakan, kesombongan, kemunafikan, pembenaran diri, korupsi, penindasan, pembantaian, penculikan, pelecehan seksual, seks bebas, hamil di luar nikah, percekcokan, perselisihan, salah paham, ketidaksukaan dengan sesamanya di lingkungan kerja, persaingan, saling menjatuhkan, mencari muka, menghina orangtua, menganggap remeh, ketidakpedulian, homoseksual, egoisme, mencuri, berzina (perselingkuhan), kebohongan, penipuan, sukuisme, dan sebagainya, merupakan fakta yang terjadi di sekitar kita, sedang terjadi, dan akan terjadi.

 

PERSOALAN DAN REALISASI

Semua tindakan di atas dilakukan oleh dua jenis manusia: [yang] beriman dan [yang] berpengetahuan. Saya tidak memungkiri akan jenis lain yaitu orang yang berpengetahuan sekaligus beriman dan orang yang beriman tanpa pengetahuan yang memadai. Agar lebih jelas mengenai jenis manusia tersebut, saya hanya membahas mengenai dua jenis saja, meskipun dalam pembahasan berikutnya, jenis kemungkinan lainnya dapat serta merta menjadi bagian dari kedua jenis tersebut.

Semua tindakan kejahatan dapat direalisasikan (dilakukan) dengan cara (teknik) pengetahuan atau pun tidak berpengetahuan – dengan cara dipengaruhi oleh iman agamanya (atau kelompok dan organisasi) atau iman dari dirinya sendiri (ideologi atau prinsipnya sendiri). Memang terkesan aneh jika orang beriman lalu kemudian membunuh demi iman kepada Tuhan – atau orang yang berpengetahuan tinggi, lalu melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral, tindakan kotor, tindakan yang merusak kepentingan banyak orang.

Keanehan tersebut, dapat ditelusuri sampai kepada akar utamanya. Orang Kristen sudah pasti dapat mengetahuai secara tepat, bahwa akibat dari semua tindakan kejahatan baik tingkat rendah sampai kepada tingkat tinggi adalah karena “dosa”. Seperti yang Alkitab utarakan, bahwa “semua orang telah berbuat dosa. Tidak ada yang benar, satu pun tidak ada. Semua telah menyeleweng.” Pernyataan tersebut menjadi standar mutlak dari Tuhan bahwa siapa pun dia, telah dikuasai, diikat (dibelenggu), dipengaruhi, dan dipaksa oleh “kuasa” dosa yang sangat kuat melawan dirinya, sehingga ia tidak dapat melawannya – hingga akhirnya, tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum dan aturan TUHAN diperbuatnya dengan sadar dan puas.

Dosa, meskipun orang seringkali tidak merasakan ada apa-apa dari satu kata tersebut – tetapi dampaknya sangat luar biasa.

Siapakah yang dapat menyangka bahwa Adolf Hitler melakukan pembantaian (pembunuhan massal) terhadap jutaan orang Yahudi? Siapakah yang dapat menyangka bahwa demi agama, seseorang bisa membunuh sesamanya?

Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang guru bisa mencabuli muridnya? Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang ibu berani membunuh anaknya sendiri? Siapa yang bisa menyangka seorang ayah tega memperkosa atau mencabuli anaknya sendiri? Siapa yang bisa menyangka seorang anak berbuat khianat terhadap orangtuanya?

Siapa bisa menyangka bahwa para pendeta berebut aset gereja? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen saling memaki dan membenci? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen sampai mati dengan dendam dan kebencian yang tak pernah ia leburkan ke dalam pengampunan sejati?

Bukankah manusia sudah menjadi pemangsa sesamanya seperti yang dilakukan binatang? Lalu di mana moral dan etika manusia? Di mana rasa takut manusia terhadap TUHAN dan hukuman-Nya? Di mana rasa hormat manusia terhadap hukum-hukum TUHAN? Bukankah neraka merupakan tempat yang sangat mengerikan, tempat siksaan kekal, tetapi tidak dihiraukan oleh manusia yang berbuat kebejatan moral, kekejian di mata TUHAN?

Sungguh luar biasa jahatnya tindakan manusia yang beriman dan berpengetahuan. Tidak disangka-sangka, tidak dapat dipikirkan secara akal sehat tindakan-tindakan seperti itu. Tetapi itulah faktanya – dan itu sering terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Mungkin kita pernah menjadi bagian di dalamnya bahkan senang melakukannya karena merasa bahwa tidak ada hukuman langsung dari Tuhan.

Apakah ada kaitan (korelasional) antara iman dan pengetahuan dalam kaitannya dengan kondisi hidup manusia yang telah terkena dampak global yaitu “kuasa dosa”? Tentu ada. Berikut penjelasan singkat.

Dalam Alkitab, “pengetahuan” – atau yang seringkali disebut dengan “pengenalan akan TUHAN” – adalah memiliki kaitan erat dengan iman. Iman adalah pemberian Allah untuk mengenal pribadi, karya, kuasa, rencana-Nya, dan sebagainya. Iman harus membutuhkan pengetahuan yang dalam konteks ini “pengetahuan tentang Dia dan firman-Nya”. Aspek pengetahuan memang luas tetapi perlu dipahami atau dibatasi pada konteksnya. Dengan demikian, iman bisa bertumbuh karena pengetahuan tentang Dia dan Firman-Nya.

Setiap orang yang beriman dan berpengetahuan memiliki jatidiri dan moralitas yang baik di hadapan Tuhan – jika ia mau menghidupi dan merealisasikan imannya secara bertanggung jawab dan selaras dengan firman-Nya. Pertanyaan yang muncul adalah “apakah pengetahuan bisa ada tanpa iman”?

Pertama, harus diklarifikasi terlebih dahulu bahwa pengetahuan apa yang dimaksudkan dalam kaitannya dengan iman, sebab term “pengetahuan” itu luas dan beragam konteks serta bidang keilmuan. Kedua, Jika yang dimaksudkan adalah “pengetahuan” tentang Allah seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka pengetahuan tentang Allah bisa ada atau bisa dipahami oleh setiap orang tanpa beriman. Akan tetapi, meskipun begitu, pilihan lainnya adalah mereka bisa memilih apakah mau beriman kepada Allah atau tidak sesuai dengan konten pengetahuan itu sendiri.

 

PEMAHAMAN DAN WILAYAH PENGETAHUAN DAN IMAN

Pengetahuan, secara umum merupakan tindakan aktif manusia yang tahu sesuatu, memikirkan sesuatu, menganalis sesuatu, mencari tahu sesuatu, dan menghasilkan sesuatu. Pengetahuan sifatnya tidak terbatas. Yang terbatas adalah keingintahuan manusia dan sesuatu yang diketahui manusia. Terbatas karena natur manusia terbatas. Pengetahuan mencakup segala sesuatu yang diciptakan TUHAN.

Wilayah pengetahuan adalah wilayah yang sangat luas. Eksplorasi manusia tidak sanggup mendalaminya atau memahaminya secara utuh dan memadai. Yang dapat dipahami dari eksplorasi dan penelitian manusia hanyalah pengetahuan yang sifatnya faktual dan tidak menutup kemungkinan, imajinatif.

Pengetahuan tentang TUHAN yang kekal dan tidak terbatas, dapat dibuktikan sejauh TUHAN menyatakan diri-Nya – dan jika tidak, pengetahuan manusia tentang Dia, mengalami stagnasi.

Iman, secara umum merupakan tindakan kepercayaan terhadap objek [sesuatu] yang diakui lebih berkuasa darinya, rasa percaya diri terhadap diri sendiri, dan kekuatan keyakinan terhadap ambisi hidup.

Pengetahuan adalah kegiatan pikiran. Pikiran dapat bereksplorasi, berekspansi, dan berkomparasi dengan objek lainnya dan menghasilkan sebuah “statement” [pernyataan], pertanyaan, kesimpulan [tentatif dan definitif], konsepsi, prinsipil [benar dan salah], kebenaran, hukum, aturan, etika, dan kaidah.

Iman adalah keyakinan pikiran dan kegiatan pikiran yang berorientasi kepada masa depan dan terkait dengan pertimbangan masa lalu dan masa depan serta bersandar pada objek yang dipercaya dapat memberikan solusi atau kuasa dari apa yang diyakini. Iman adalah pemberian Tuhan, jika orientasi iman itu berdasar pada kehendak dan rencana-Nya. Iman dapat bertumbuh melalui dua hal: penderitaan dan demonstrasi kuasa Tuhan.

Orang yang beriman berarti orang yang berpengetahuan – dan orang yang berpengetahun memiliki iman yang dibagi ke dalam dua bagian: iman kepada kepercayaan diri sendiri [di luar Tuhan] dan iman kepada Tuhan. Orang beriman seharusnya terus belajar dari Tuhan dan firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya.

Iman berkorelasi dengan pengetahuan. Pengetahuan tentang tuhan seharusnya menghasilkan iman kepada Tuhan meskipun kita tahu bahwa tidak semua orang yang belajar dan mau mengenal Tuhan, menjadi percaya kepada-Nya.

 

REALISASI INTERNAL DAN EKSTERNAL

Hingga pada akhirnya, iman dan pengetahuan yang kita miliki harus terejawantahkan ke dalam lautan kehidupan yang terbatas tetapi berpotensi meluas. Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara internal mencakup tentang bagaimana kita bersikap dalam keseharian; bagaimana kita berkontribusi, bagaimana kita bekerja dan melayani, dan bagaimana kita memberikan pengaruh—“menjadi teladan”—dalam pikiran, kata, dan perbuatan.

Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara eksternal mencakup tentang bagaimana kita bersikap melalui media waktu dan kesempatan. Di media waktu, berarti kita siap sedia pada segala waktu untuk berekspresi; ya, mengekpresikan pengetahuan dan iman kita. Di media kesempatan, berarti kita—dalam setiap kesempatan yang kita miliki dan kita dapatkan dari orang lain, digunakan untuk juga berekspresi.

Secara tepat, di zaman sekarang ini, ada ruang realisasi yang begitu besar di mana kita dapat merealisasikan pengetahuan dan iman melalui berbagai media. Tidak perlu lagi merasa harus mengeluarkan banyak uang untuk memperluas pengetahuan dan [kesaksian] iman kita. Medianya sudah ada, tinggal kita yang mempergunakannya. Jangan sampai kita sibuk dengan segala sesuatu yang hanya memperkaya diri secara tamak, dan melupakan tanggung jawab iman dan pengetahuan kita.

 

PENUTUP

Iman dan pengetahuan yang bersama-sama terealisasi dalam kehidupan semua manusia. Tujuannya jelas yaitu untuk mencapai tingkat pemahaman yang selaras dengan firman Tuhan. Diperlukan sebuah pemahaman yang baik tentang hidup dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Iman dan pengetahuan sudah termasuk di dalamnya—dan pada kesempatan yang ada, keduanya terlihat jelas, sebuah konfirmasi jati diri dan identitas yang sebenarnya.

Hasil-hasil dari proses realisasi iman dan pengetahuan adalah pengaruh terhadap orang lain di mana diri kita sekaligus menjadi teladan utama. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri melainkan tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan di setiap sendi kehidupan. Persoalan hidup tetap ada; mumpung ada waktu dan kesempatan, kita datang kepada Tuhan untuk mengharapkan kekuatan, hikmat, dan bijaksana, serta tuntunan-Nya.

Ada berbagai tindakan yang disebabkan oleh realisasi iman dan pengetahuan, entah baik, entah buruk. Dosa menjadi penghalang bagi mereka yang ingin merealisasikan iman dan pengetahuan yang benar dan pada tempatnya; dosa menjadi pendorong bagi mereka yang sombong dengan iman dan pengetahuan yang dimilikinya, yang tujuannya hanya menyombongkan diri, meraup keutungan, egoisme, dan sikap tidak bersahabat.

Pengetahuan dan iman adalah pedoman untuk menjadikan hidup semakin baik berdasarkan firman Allah, dan mengarahkan hidup kepada-Nya. Dan yang terpenting adalah—sekali lagi: “Orang beriman dan berpengetahuan seharusnya terus belajar dari Tuhan dan firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya, sehingga dapat menjadikan dirinya berkenan kepada Tuhan, pula menjadi teladan dan berkat bagi sesamanya.

 

Salam bae......

 

HIDUP YANG DIUBAHKAN

Secara faktual, manusia memiliki banyak hal yang mendukung perealisasian karakter, pembawaan diri, prinsip hidup, dan habitualisme diri. Biasanya, mereka yang mau hidupnya diubah oleh Tuhan, dengan rela dan lapang dada, meninggalkan semua kenikmatan dunia, semua jenis karakter (tabiat, watak) yang buruk, semua pembawaan diri yang negatif, pembawaan diri yang tidak menguntungkan orang lain (egoisme), semua prinsip hidup yang tidak etis, moralis, dan spiritualis, dan semua habitualisme (paham yang dipegang erat terkait dengan kebiasaan diri) yang tidak memberikan dampak positif.

Kita memerlukan Tuhan untuk mengubah hidup kita. Tuhan akan memberikan kekuatan (potensi) bagi kita ketika kita berkomitmen untuk hidup bagi Dia, hidup melayani Dia, dan hidup dalam terang firman-Nya. Hidup yang diubahkan adalah cerminan dari kekayaan sukacita yang Tuhan berikan kepada mereka. Tuhan sanggup mengubah hidup manusia yang brutal sekalipun.

Mereka yang digerakkan hatinya untuk berubah, perlu untuk menanggalkan pakaian lama (manusia lama) dan mengenakan pakaian baru (manusia baru) yang terus dibarui oleh Roh Kudus. Tuhan mengubah mereka yang telah Ia tetapkan. Mereka yang telah diubahkan harus setia dan taat kepada Tuhan. Mereka yang diubahkan harus siap menderita dalam segala hal, siap menderita untuk dimusuhi dunia, siap untuk dihina, siap untuk tidak masuk hitungan dunia.

Namun, sebaliknya, mereka yang telah diubahkan Tuhan harus bersukacita karena Tuhan tetap memberkatinya; mereka harus siap untuk dipakai Tuhan dalam menggenapi seluruh rencana-Nya; siap melayani-Nya di mana saja; siap melihat berbagai keajaiban dan mukjizat Tuhan; siap untuk dimuliakan; siap untuk memerintah bersama Tuhan di surga-Nya yang mulia; siap untuk menerima upah dari hasil pekerjaan selama di dunia

Tuhan mengubahkan hidup, Tuhan pula yang menjaganya, Tuhan pula yang menjaminnya, Tuhan pula yang meneguhkannya, Tuhan pula yang memeliharnya, Tuhan pula yang menopang dan menyokongnya. Yakinlah bahwa hidup yang diubahkan adalah suatu natur hidup yang diberkati, dimuliakan, dan dijamin.

Hidup yang diubahkan menandakan bahwa kita telah dipanggil Tuhan untuk berbagi dalam pekerjaan-Nya yang mulia. Tugas kita adalah melakukan kehendak-Nya, menyenangkan hati-Nya dan memuliakan nama-Nya, selamanya….!


Salam Bae.......

 

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...