Blog ini adalah tulisan-tulisan pribadi yang berkutat pada dunia teologi dengan berbagai pendekatan dan pengamatan, baik terhadap fenomena internal maupun eksternal
Senin, 10 Agustus 2020
FILSAFAT TRINITAS: Memahami Identitas Pribadi Allah
Pengetahuan dan pemahaman akan pribadi
Allah merupakan dasar utama dari iman suatu agama. Semua agama berangkat dari
pemahamannya akan suatu bentuk penyataan personalitas yang “dianggap” ilahi,
kuat, perkasa, kekal, berkuasa, pencipta, dan lain sebagainya. Agama Kristen
adalah salah satu agama yang bermetamorfosis dari bentuk-bentuk pengajaran
bahkan iman monotheisme Yudaisme yang bersumber dari Kitab Suci. Bahkan orang
Kristen memilih jalan lain dalam memahami personalitas Allah yang berseberangan
dengan konsepsi dan iman Yudaisme. Trinitas adalah suatu sistem kepercayaan
yang berkembang dari bentuk-bentuk hermeneutika biblika yang dipakai dan
diadopsi oleh agama Kristen. Meskipun mereka tahu bahwa konsepsi dan
iman tersebut menimbulkan jurang yang dalam bagi status monotheisme yang
seharusnya dipertahankan karena dianggap merupakan warisan Yudaisme.
Akan tetapi, Kristen memiliki
serangkaian keberatan terhadap bentuk-bentuk hermeneutik Yudaisme yang di satu
sisi tetap mempertahankan monotheisme tetapi mengabaikan rujukan-rujukan
kejamakan personalitas Allah yang dijumpai dalam teks-teks Kitab Suci mereka.
Berangkat dari hal ini, Kristen menawarkan bentuk-bentuk iman dan hermeneutik
yang bertolak belakang – jika dapat dianggap seperti itu sebagaimana yang terjadi
sepanjang sejarah – dengan iman Yudaisme yang menurut Kristen, Allah telah
menyatakan cinta kasih-Nya yang besar dengan mengunjungi bumi (manusia) dalam
bentuk “inkarnasi” sebagaimana yang diwujudnyatakan oleh Yesus yang disebut
Kristus.
Banyak orang yang bertanya-tanya tentang seperti apakah Allah itu? Ada yang
bertanya-bertanya berapa sebenarnya pribadi Allah itu. Ada yang bertanya-tanya
dan mempertimbangkan bahwa sebenarnya Allah itu tidak ada; Ia hanya dalam
pemikiran manusia saja – itu soal persepsi semata. Ada yang bertanya-tanya
mungkinkah Allah itu yang menciptakan manusia? Ataukah ada semacam fenomena
alam yang terjadi dengan sendirinya. “Allah” hanyalah sebuah ilusi – mungkin
itu cocok untuk menggambarkan alasan dan kesadaran bahkan sistem kepercayaan
orang-orang zaman ini (meski tidak secara masiv). Alasan ini juga telah
dikumandangkan sejak dulu. Banyak orang yang berusaha memahami pribadi
(personalitas) Allah dan terjebak dalam kurungan logika yang dianggap sebagai
pencetus ide-ide liberalisme dan siap menjadi alasan bahwa Allah itu hanyalah
suatu omong kosong.
Banyak kisah yang terjadi dalam memperebutkan siapa yang dapat menjelaskan tentang
Allah secara benar dan menuntut supaya orang-orang yang dapat dipengaruhinya
untuk ikut mempercayai apa yang diyakininya. Pengkajian secara cermat, bahkan
terkesan ilmiah telah banyak dibahas dari zaman ke zaman dari para
“penyembah-Nya”. Hasilnya, penganut agama tertentu bisa semakin bertambah atau
sebaliknya, berkurang. Alasan orang mempelajari personalitas Allah dikaitkan
dengan sistem kepercayaan yang pada umumnya didasarkan pada narasi Kitab Suci, di mana Kitab Suci
tersebut bermetamorFosis secara alami atau ilahi menjadi bentuknya yang
sekarang ini. Kitab Suci adalah kebanggaan bagi setiap penganut agama-agama di
dunia ini. Menurut hemat saya, Kitab Suci adalah pijakan kuat bagi pengembangan
ajaran-ajaran Allah untuk menambah jumlah komunitas agama. Orientasi
kuantitatif menjadi alasan utama dari agama-agama ketimbang orientasi
kualitatif. Berangkat dari hal tersebut, sering terjadi gejolak dan gesekan di
antara penganut agama-agama di dunia ini.
Perdebatan yang menghasilkan disparitas
tentang personalitas Allah telah mewarnai pergulatan teologis-spiritualitas
sepanjang sejarah. Sejak manusia pertama diciptakan, Allah berkehendak
memperkenalkan diri-Nya kepada mereka: Adam dan Hawa. Sebelum Hawa, Adam telah
mendapatkan hak istimewa karena dialah yang pertama-tama menerima bentuk
penyataan diri Allah sebagai Penciptanya. Hasilnya, Adam memberikan hak
istimewa itu kepada istrinya dalam konteks menyatakan apa yang Allah
perintahkan kepadanya sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.
Meskipun kisah Adam telah banyak diperdebatkan, namun isu-isu keraguan
terhadapnya merupakan bagian penting bagi kekuatan historisitas yang dapat
diandalkan. Secara khusus, banyak ahli meragukan kisah tersebut karena dianggap
mitos atau hanya semacam karangan penulis Kitab Suci semata.
Namun, keraguan tersebut patut kita
hargai tetapi dengan sikap yang berbeda atau kritis. Di samping itu, selaras
dengan bentuk-bentuk keraguan tentang historisitas Adam (dan Hawa),
personalitas Allah juga ikut diragukan. Pasalnya, dalam bentuk pemikiran yang
meragukan, manusia sering mendasarkan argumentasinya pada logika. Tak jadi soal
mengenai kekuatan logika yang dipakai sebagai senjata untuk meragukan dan
menegasikan personalitas Allah. Akan tetapi, untuk menjawabnya juga dibutuhkan
kekuatan logika dan di sini peran apologetika dirasa sangat krusial dna
mendesak. Dalam elaborasi berikut ini, saya hendak memberikan ruang baru bagi
penalaran tentang personalitas Allah dalam kaitannya dengan Trinitas – doktrin
yang paling diperdebatkan, paling dihindari, paling tidak diketahui dan paling
dipertahankan.
Tak ada hal yang melampaui penyataan
diri Allah dari sebuah inisiatif-Nya. Dalam inisiatif Allah, terdapat hal-hal
yang penting seperti kehendak-Nya, kuasa-Nya, rencana-Nya, dan kedaulatan-Nya.
Nilai sebuah inisiatif untuk menyatakan diri, dimungkinkan oleh Allah bagi
tercapainya bentuk-bentuk pengenalan manusia – makhluk ciptaan-Nya – akan
personalitas-Nya meskipun hal itu sering tidak masuk akal. Hasil yang
didapatkan manusia tentang pribadi dan karya Allah meskipun masih dalam taraf
yang terbatas, dimungkinkan Allah untuk menjadi “media” bagi pengenalan akan
diri-Nya. Inisiatif Allah dalam menyatakan diri-Nya kepada manusia telah
dimulai sejak di Taman Eden dan finalitasnya
tampak pada peristiwa Logos menjadi daging, Yesus Kristus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
FILSAFAT KESOMBONGAN
Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...
-
Beberapa waktu lalu, tanggal 19 Mei 2020, kita kehilangan seorang teolog (sekaligus apolget) yang tern ama, Ravi Zacharias. Beliau telah m...
-
Kerangka berpikir manusia pada umumnya dilandasi pada perilaku yang tampak dalam relasi dan komunikasi yang terjadi di masyarakat fisikal ma...
-
Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar