Senin, 10 Agustus 2020

Tokoh Reformasi: MARTIN LUTHER. Meninjau Kembali Makna dan Semangat Reformasi Martin Luther

Stenly R. Paparang*


“Aku berusaha sekeras mungkin untuk menaati peraturan. Aku biasa bertobat, dan membuat daftar dosa-dosaku. Aku mengakukannya terus-menerus. Dengan skrupel aku menjalankan penitensi yang diberikan padaku. Namun suara hatiku tetap gelisah.... Aku mencoba menyembuhkan keragu-raguan dan rasa skrupel suara hati dengan dengan obat manusiawi, tradisi manusia. Semakin aku mencoba obat-obat ini, semakin kacau dan tidak tenang suara hatiku jadinya.”            – Martin Luther –

 

Pendahuluan

Dalam edisi ke-2 ini, Majalah Yesyurun mengetengahkan salah satu tokoh Reformasi yakni Martin Luther berkenaan dengan peringatan hari Reformasi yang ke 405 tahun, pada tanggal 31 Oktober yang lalu. Meskipun peringatannya telah lewat, tetapi kita perlu meninjau kembali dalam memahami “Makna dan Semangat Reformasi” bagi kehidupan rohani kita terlebih kehidupan bergereja.

Tidak semua Gereja yang merayakan atau bahkan mengingat lahirnya Reformasi, karena saya tahu, orang Kristen seringkali melupakan sejarah yang telah membentuk imannya hingga saat ini. Saya tidak melulu menyajikan figur Luther secara keseluruhan, sebab jika saya hanya menyajikan figur Luther dan sejarah lahirnya Reformasi, maka terkesan tidak ada hal yang baru. Mengapa? Bisa saja, setiap kita, jika ingin mengetahui sejarah Reformasi dan figur Luther, dapat mengaksesnya melalui internet.

Saya berpikir lain. Saya mau, apa yang telah dikerjakan oleh Luther dapat kita maknai dan mengikuti semangatnya untuk mencintai kebenaran Alkitab, tidak berkompromi, menganggap remeh Alkitab, menghina Yesus, menjual Yesus, menyangkal Alkitab, atau bermalas-malasan untuk mengabarkan Injil. Ada Gereja yang menyangkal (tidak menerima) Injil Yohanes, ada Gereja yang menyangkal keilahian Yesus, ada pula Gereja yang bersifat sekuler, mulai dari pendetanya sampai ke para majelis Gereja. Suatu fenomena yang aneh.

Perlu bagi kita meninjau kembali makna dan semangat Reformasi yang telah memberikan dampak yang berarti bagi iman dan ajaran kita. Reformasi bukanlah sekadar slogan semata. Bukan pula sejarah tanpa arti yang signifikan. Banyak Gereja yang tidak lagi memperhatikan secara serius makna Reformasi. Masing-masing sibuk dengan urusan organisasi, lomba paduan suara, tuding-menuding penggelapan uang, terlibat dalam politik dan masih banyak lagi, sehingga ajaran yang fundamental tidak menjadi sasaran utama.

Memang, dalam bergereja, banyak hal yang perlu kita pelajari dalam Alkitab. Jika Gereja terlalu banyak mengajarkan tentang kehidupan sehari-hari tanpa dibarengi dengan ajaran teologi (Kristologi) yang kuat, maka iman kepada Yesus ‘mungkin’ menjadi tidak kokoh dan “collaps” (runtuh)  serta menganggap keilahian Yesus hanya relatif saja. Kehidupan rohani semakin merosot dan bobrok. Salah satu contoh, di daerah Asmat (Papua), seorang Kepala Sekolah Dasar, pergi ke perempuan pelacur untuk melakukan hubungan seks bebas. Anehnya, karena ia tidak punya uang, ia berhutang dulu, dan berjanji, bahwa setelah dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) cair, baru ia pergi lagi ke perempuan pelacur tersebut dan melunasi ongkos ‘bermain seks’. Tentu ini adalah perbuatan yang memalukan, sedangkan ia adalah seorang Kristen. Ironis memang!

Banyak orang Kristen yang menghina Yesus bahkan menjual Yesus dan berpindah agama, menjual Yesus demi politik, demi jabatan (pangkat, kedudukan), kekayaan, bahkan karena ‘perempuan cantik’ – menurut analisis saya adalah karena menganggap Yesus biasa-biasa saja. Apa yang telah dikerjakan Yesus, dianggap tidak berarti apa-apa.

 Sekilas sejarah Reformasi Martin Luther

Linda Smith dan William Raeper dalam buku mereka, Ide-ide Filsafat dan Agama: Dulu dan Sekarang menjelaskan secara baik mengenai sejarah Reformasi Luther.

Pada awal abad keenam belas, suatu jeritan diteriakkan di seluruh Eropa. Jeritan ini adalah ‘pembaruan di kepala dan anggota-anggota’ Gereja Katolik Romawi – dan muncullah perdebatan. Perdebatan bukanlah mengenai kebenaran ajaran Roma Katolik melainkan mengenai cara Gereja bertingkah laku. Akibatnya adalah kawah perubahan dan pembaruan, yang sekarang disebut “Reformasi”.

Para pejabat Gereja memegang jabatan-jabatan negara yang berkuasa. Banyak dari mereka bukan hanya menjadi politikus yang kaya. Mereka mengira untuk memajukan kerajaan Allah tampak menyamakan dengan terlalu dekat dengan dunia ini. Gereja menuntut pajak dan menjual harta-harta rohani demi uang – pengampunan dosa, misa, lilin, upacara-upacara, jabatan uskup, dan bahkan jabatan Paus sendiri.

Paus adalah kepala Gereja Katolik Roma, tetapi bertindak seperti pangeran duniawi. Banyak orang menyebut Gereja bejat. Dalam kondisi seperti ini, gerakan Reformasi diperlukan. Reformasi adalah memperbarui Gereja yang bobrok. Reformasi dimulai dengan letupan yang segera menjadi kebakaran. Ada beberapa kejadian penting yang menjadi latar belakang timbulnya Reformasi. Paus Leo X terus-menerus menghadapi kebangkrutan. Pada tahun 1513 ia berhutang sekurang-kurangnya 125.000 dukat, dan ia perlu juga mengumpulkan uang dengan cepat untuk membayar Katedral St. Petrus. Satu cara untuk mengumpulkan uang adalah menjual indulgensi.

Martin Luther, seorang profesor Kitab Suci di Universitas Wittenberg tidak senang dengan praktek indulgensi. Martin Luther terdorong untuk menerbitkan sembilan puluh lima Tesisnya tentang penjualan dokumen-dokumen indulgensi yang menjamin penyelamatan jiwa-jiwa dari api penyucian. Indulgensi ini dijual untuk mengumpulkan uang bagi pembangunan Katedral St. Petrus Roma. Luther melihat ini sebagai penolakan lengkap atas kebenaran pokok – ia percaya kita selamat hanya dengan menempatkan iman kita pada Yesus.

Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa jiwa-jiwa pergi ke suatu tempat yang disebut “Api Pencucian” setelah kematian. Jiwa-jiwa dibersihkan untuk bisa sampai ke surga. Dengan membeli indulgensi, orang-orang biasa percaya bahwa mereka akan membutuhkan sedikit waktu di api pencucian, dan juga bahwa jiwa seseorang yang telah meninggal dapat dibebaskan dari api pencucian dan langsung pergi ke surga. Menutut Tetlze, “Begitu uang logam di koper berbunyi, jiwa meloncat dari api pencucian.” Uskup Agung Albert dari Mainz menggunakan pertapa Dominikan yang bernama Tetlzel untuk menjual indulgensi. Ia berpendapat bahwa bila orang-orang biasa membeli indulgensi, mereka tidak melihat lagi perlunya mengubah tingkah laku mereka. Luther terkejut ketika salinan dari instruksi Uskup Agung kepada Tetlzel ditunjukkan kepadanya.

Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan sebuah plakat pada pintu Gereja puri di Wittenberg, ditulisi “Sembilan puluh lima Tesis mengenai Indulgensi.” Bahkan Luther sendiri tidak menyadari bahwa pada waktu itu Reformasi telah dimulai. 95 Tesis atau dalil yang dipaparkan Luther dipublikasikan dan diedarkan dan pandangannya memperoleh dukungan massa dan ia menjadi pahlawan hampir dalam waktu semalam. Ia menjadi berbahaya bagi Tetlzel untuk berjalan di jalanan. Pemerintah setempat, Elector Frederick dari Saxony, memutuskan untuk melindungi Luther. Frederick lelah dengan paus-paus Itali yang campur tangan terhadap urusan Jerman dan senang karena dan senang karena menjengkelkan Uskup Agung. Begitulah Reformasi menjadi gabungan yang sangat kuat antara agama dan politik.

Tujuan Luther adalah untuk memurnikan Gereja Katolik Roma dan memelihara kebenarannya. Namun, segera ia terlibat dengan peristiwa-peristiwa dan pandangan barunya menjadi reformasi spiritual dan moral terhadap keseluruhan dunia Kristen. Meskipun begitu, baik Luther maupun temannya, Philip Melanchthon, tidak mengira bahwa mereka sedang mendirikan Gereja baru. Luther tidak mau menarik kembali pandangan-pandangannya. Ia memilih memberontak ketimbang otoritas Paus. Demikian pula dengan perdebatannya dengan John Eck pada tahun 1519  di Leipzig. Eck menyudutkan Luther untuk memilih Roma atau Kitab Suci. Tetapi Luther memilih Kitab Suci.

Luther memang menentang keras kekuasaan Paus. Bagi Luther, Paus adalah antikristus, seperti setan sendiri. Luther mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja, seperti penyelewengan surat penghapusan siksa, dan kepausan. Reformasi menekankan untuk kembali kepada Gereja mula-mula. Luther menyerang ajaran transsubstansiasi, selibat para klerus dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman.

Pada tanggal 15 Juni 1520 Roma mengeluarkan Bulla Exsurge Domine, yang mengutuk Luther sebagai seorang bidaah. Orang-orang Kristen yang taat diperintah untuk membakar buku-bukunya. Jawaban Luther adalah membakar Bulla, dokumen dari Paus, di depan khalayak ramai. Luther dicekal dan dinyatakan sebagai buron. Ia bersembunyi di sebuah puri yang disebut Wartburg. Di sana ia mulai menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Jerman. Ia menyelesaikan pekerjaan tersebut pada tahun 1534. Luther percaya bahwa setiap orang harus mampu membaca Kitab Suci, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Sebelumnya Kitab Suci dalam bahasa Latin dan hanya diperuntukkan bagi para imam dan ahli. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diterbitkan dengan mesin cetak, sekarang setiap orang Kristen dapat membaca Kitab Suci.

 Makna dan Semangat Reformasi

Hal yang dapat kita pelajari dari sejarah Reformasi adalah pentingnya menegakkan kebenaran Tuhan. Luther telah menjadi teladan yang baik bagi kita untuk menindaklanjuti keberanian dan semangatnya dalam menegakkan kebenaran, apa pun yang terjadi. Luther tidak pernah takut untuk dikucilkan atau dianggap sesat, karena ia tahu bahwa Gereja Katolik Roma telah menyimpang dari kebenaran Alkitab.

Persoalan indulgensi adalah persoalan serius. Luther menegaskan bahwa dosa-dosa manusia tidak dapat dihapuskan hanya dengan membeli indulgensi. Pengampunan hanyalah milik Tuhan, dan hanyalah Dialah yang dapat mengampuni manusia bukan indulgensi. Penjualan indulgensi adalah karena ada unsur politik. Politik telah merusak prinsip Alkitab.

Karena politik juga, para pendeta bisa terjebak dalam mengatasnamakan Allah. Salah satunya adalah Pendeta Yakob Nahuway, yang pernah mengatakan bahwa ia mendapat wangsit  (pesan gaib) dari Allah bahwa Foke (Fuazi Bowo) pasti terpilih jadi gubernur (DKI Jakarta). Tetapi, kenyataannya, Foke pun kalah dalam Pilgub DKI Jakarta. Siapa yang salah? Allah atau Jacob Nahuway? Allah tidak mungkin salah. Jadi, Jacob Nahwaylah yang salah.

Kebanyakan dari kita, jika dalam kondisi yang sama dengan Luther, lebih memilih mempertahankan jabatan meskipun telah terbukti menyimpang dari prinsip Alkitab, lebih memilih kompromi dengan dosa, dengan intrik-intrik (persekongkolan atau taktik untuk menipu) dalam Gereja dari pada tetap menegakkan kebenaran Alkitab. Saya terlalu sedih melihat perkembangan Gereja saat ini. Keprihatinan saya terfokus pada “menganggap murah segala karya Tuhan”. Anggota jemaat menjadi liar.

Pembaruan dalam Gereja itu perlu – tatkala Gereja sudah mulai menyimpang. Luther melihat kebobrokan Gereja terjadi di masanya. Dan, ia harus bertindak bukan berkompromi. Tindakan Luther memacu Gereja untuk semakin giat mencintai Alkitab dan kebenarannya. Belajar melakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.

Apa yang terjadi di zaman Luther, di mana Gereja Katolik Roma, demi mengumpulkan uang untuk pembangunan katedral, harus menipu jemaat dengan menjual indulgensi. Menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Ini juga yang dilakukan Gereja sekarang.

Luther telah mewariskan semangat keberanian dalam menegakkan kebenaran meskipun mendapat tentangan yang hebat dari pihak Paus. Makna Reformasi adalah “berani melawan ketidakbenaran dan penyimpangan terhadap Alkitab”. Semangat Reformasi mendorong kita untuk selalu waspada terhadap perkembangan ajaran di dalam Gereja. Banyak pendeta, para pelayan yang menyebarkan ajaran-ajaran yang tidak beres dan menyimpang – dan ini perlu dinilai secara baik dan kritis, karena Gereja yang teguh dan mandiri adalah Gereja yang mempertahankan ajaran Alkitab secara serius.

 Aplikasi bagi Kita

Dari sejarah Reformasi, kita dapat melihat bahwa perjuangan Martin Luther untuk melawan ketidakberesan Gereja Katolik Roma telah membuahkan hasil. Itu berarti, jika dalam Gereja terjadi ketidakberesan ajaran, permainan politik jabatan, monopoli keuangan, monopoli ajaran Alkitab dan kejahatan lainnya, maka harus segera dibereskan.

Para pejabat Gereja yang ikut dalam dunia politik, sebenarnya tidak memberikan dampak yang berarti bagi Gereja. Kita bisa berbeda pendapat mengenai hal ini. Jika Gereja dan politik menyatu, maka kerohanian jemaat akan merosot dan penuh dengan segala penipuan – menghalalkan segala cara.

Ada Gereja-gereja yang hanya mementingkan keuangan (atau mencari uang untuk kepuasan diri), mementingkan paduan suara, mementingkan perpuluhan dan mementingkan bagaimana mendapat uang sebanyak mungkin dari ibadah-ibadah yang dilakukan. Ini adalah penipuan yang luar biasa bobroknya.

Mari kita berbenah diri, berjuang dalam menegakkan kebenaran seperti yang dilakukan Luther. Semangat dan keberanian Luther patut kita contohi. Dan dengan demikian, kita semakin mencintai kebenaran, semakin mencintai Tuhan dan semakin mencerminkan sikap dan karakter sebagai hamba-bamba TUHAN dan meneladani Yesus Kristus serta menjadi serupa dengan Dia.

Gereja perlu juga untuk menilai dirinya sendiri, apakah sudah menyimpang atau tidak, sama seperti pesan Paulus kepada Timotius: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1 Tim. 4:16).

 

*Penulis adalah Ketua Departemen Literatur dan

Media Arastamar (DELIMA) SETIA Jakarta

 

Glosari

Bula: surat resmi dari Paus yang dimeteraikan dengan bulla; dekrit atau perintah dari Paus.

Bulla: berasal dari bahasa Latin yang berarti meterai, biasanya dari timah hitam yang dikenakan pada bula resmi.

Dukat: uang emas dan perak yang nilainya berbeda-beda.

Exsurge Domine: (dari bahasa Latin) adalah kata-kata pertama dari bula paus Leo X, diterbitkan untuk menolak 95 dalil Martin Luther dan yang dibakar Luther pada tanggal 2 Januari 1521.

Indulgensi: surat penghapusan dosa; surat yang menjamin pengurangan hukuman dalam api penyucian yang sebenarnya harus dijalani orang berdosa.

Penitensi: kesedihan dan penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan atau keadaan menyesali dosa. Dalam bahasa Inggris disebut “penitence”. Penitensi diserap dari bahasa Belanda.

Skrupel: kecemasan yang berlebihan tentang baik tidaknya perbuatan tertentu, yang mengganggu seperti batu kecil yang tajam (Lat. scrupulus) dalam sepatu waktu berjalan; pertimbangan etis yang menyebabkan orang tidak bertindak.

Transsubstansiasi: berasal dari bahasa Latin (trans: ‘di atas’ dan substantia: ‘hakikat’), adalah ajaran Katolik Roma yang ditentukan Konsili Lateran (tahun 1215) mengenai makna misa, yang mengajarkan bahwa pada kesempatan Ekaristi, ketika roti dan anggur diberkati, maka hakikat (substansi) roti dan anggur menjadi hakikat tubuh dan darah Kristus, sehingga Kristus hadir di atas altar.

 

 Sumber Referensi:

 Majalah Warta Bangsa: Warta untuk Semua. Edisi 3 Tahun 1 - 2012

Paparang, Stenly R., Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa, (Jakarta: Delima, 2012).

Salim, Peter & Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991).

Smith, Linda & William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, diterjemahkan oleh P. Hardono Hadi, (Yogyakarta: Kanisius, 2004). Judul asli: A Beginner’s Guide to Ideas, (Oxford, England: Lion Publishing, 1991).

ten Napel, Henk, Kamus Teologi Inggris – Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001).

Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, edisi revisi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...