Stenly R. Paparang*
“Aku berusaha sekeras mungkin untuk menaati peraturan. Aku biasa bertobat, dan membuat daftar dosa-dosaku. Aku mengakukannya terus-menerus. Dengan skrupel aku menjalankan penitensi yang diberikan padaku. Namun suara hatiku tetap gelisah.... Aku mencoba menyembuhkan keragu-raguan dan rasa skrupel suara hati dengan dengan obat manusiawi, tradisi manusia. Semakin aku mencoba obat-obat ini, semakin kacau dan tidak tenang suara hatiku jadinya.” – Martin Luther –
Pendahuluan
Dalam
edisi ke-2 ini, Majalah Yesyurun
mengetengahkan salah satu tokoh Reformasi yakni Martin Luther berkenaan dengan
peringatan hari Reformasi yang ke 405 tahun, pada tanggal 31 Oktober yang lalu.
Meskipun peringatannya telah lewat, tetapi kita perlu meninjau kembali dalam memahami
“Makna dan Semangat Reformasi” bagi kehidupan rohani kita terlebih kehidupan
bergereja.
Tidak
semua Gereja yang merayakan atau bahkan mengingat lahirnya Reformasi, karena
saya tahu, orang Kristen seringkali
melupakan sejarah yang telah membentuk imannya hingga saat ini. Saya tidak
melulu menyajikan figur Luther secara keseluruhan, sebab jika saya hanya
menyajikan figur Luther dan sejarah lahirnya Reformasi, maka terkesan tidak ada
hal yang baru. Mengapa? Bisa saja, setiap kita, jika ingin mengetahui sejarah
Reformasi dan figur Luther, dapat mengaksesnya melalui internet.
Saya
berpikir lain. Saya mau, apa yang telah dikerjakan oleh Luther dapat kita
maknai dan mengikuti semangatnya untuk mencintai kebenaran Alkitab, tidak berkompromi,
menganggap remeh Alkitab, menghina Yesus, menjual Yesus, menyangkal Alkitab,
atau bermalas-malasan untuk mengabarkan Injil. Ada Gereja yang menyangkal (tidak
menerima) Injil Yohanes, ada Gereja yang menyangkal keilahian Yesus, ada pula
Gereja yang bersifat sekuler, mulai dari pendetanya sampai ke para majelis
Gereja. Suatu fenomena yang aneh.
Perlu
bagi kita meninjau kembali makna dan semangat Reformasi yang telah memberikan dampak
yang berarti bagi iman dan ajaran kita. Reformasi bukanlah sekadar slogan
semata. Bukan pula sejarah tanpa arti yang signifikan. Banyak Gereja yang tidak
lagi memperhatikan secara serius makna Reformasi. Masing-masing sibuk dengan
urusan organisasi, lomba paduan suara, tuding-menuding penggelapan uang, terlibat
dalam politik dan masih banyak lagi, sehingga ajaran yang fundamental tidak
menjadi sasaran utama.
Memang,
dalam bergereja, banyak hal yang perlu kita pelajari dalam Alkitab. Jika Gereja
terlalu banyak mengajarkan tentang kehidupan sehari-hari tanpa dibarengi dengan
ajaran teologi (Kristologi) yang kuat, maka iman kepada Yesus ‘mungkin’ menjadi
tidak kokoh dan “collaps” (runtuh) serta
menganggap keilahian Yesus hanya relatif saja. Kehidupan rohani semakin merosot
dan bobrok. Salah satu contoh, di daerah Asmat (Papua), seorang Kepala Sekolah
Dasar, pergi ke perempuan pelacur untuk melakukan hubungan seks bebas. Anehnya,
karena ia tidak punya uang, ia berhutang dulu, dan berjanji, bahwa setelah dana
BOS (Biaya Operasional Sekolah) cair, baru ia pergi lagi ke perempuan pelacur
tersebut dan melunasi ongkos ‘bermain seks’. Tentu ini adalah perbuatan yang
memalukan, sedangkan ia adalah seorang Kristen. Ironis memang!
Banyak
orang Kristen yang menghina Yesus bahkan menjual Yesus dan berpindah agama,
menjual Yesus demi politik, demi jabatan (pangkat, kedudukan), kekayaan, bahkan
karena ‘perempuan cantik’ – menurut analisis saya adalah karena menganggap
Yesus biasa-biasa saja. Apa yang telah dikerjakan Yesus, dianggap tidak berarti
apa-apa.
Linda
Smith dan William Raeper dalam buku mereka, Ide-ide
Filsafat dan Agama: Dulu dan Sekarang menjelaskan secara baik mengenai
sejarah Reformasi Luther.
Pada
awal abad keenam belas, suatu jeritan diteriakkan di seluruh Eropa. Jeritan ini
adalah ‘pembaruan di kepala dan anggota-anggota’ Gereja Katolik Romawi – dan
muncullah perdebatan. Perdebatan bukanlah mengenai kebenaran ajaran Roma
Katolik melainkan mengenai cara Gereja bertingkah laku. Akibatnya adalah kawah
perubahan dan pembaruan, yang sekarang disebut “Reformasi”.
Para
pejabat Gereja memegang jabatan-jabatan negara yang berkuasa. Banyak dari
mereka bukan hanya menjadi politikus yang kaya. Mereka mengira untuk memajukan kerajaan
Allah tampak menyamakan dengan terlalu dekat dengan dunia ini. Gereja menuntut
pajak dan menjual harta-harta rohani demi uang – pengampunan dosa, misa, lilin,
upacara-upacara, jabatan uskup, dan bahkan jabatan Paus sendiri.
Paus
adalah kepala Gereja Katolik Roma, tetapi bertindak seperti pangeran duniawi.
Banyak orang menyebut Gereja bejat. Dalam kondisi seperti ini, gerakan
Reformasi diperlukan. Reformasi adalah memperbarui Gereja yang bobrok.
Reformasi dimulai dengan letupan yang segera menjadi kebakaran. Ada beberapa
kejadian penting yang menjadi latar belakang timbulnya Reformasi. Paus Leo X
terus-menerus menghadapi kebangkrutan. Pada tahun 1513 ia berhutang
sekurang-kurangnya 125.000 dukat, dan ia perlu juga mengumpulkan uang dengan
cepat untuk membayar Katedral St. Petrus. Satu cara untuk mengumpulkan uang
adalah menjual indulgensi.
Martin
Luther, seorang profesor Kitab Suci di Universitas Wittenberg tidak senang
dengan praktek indulgensi. Martin Luther terdorong untuk menerbitkan sembilan puluh
lima Tesisnya tentang penjualan dokumen-dokumen indulgensi yang menjamin
penyelamatan jiwa-jiwa dari api penyucian. Indulgensi ini dijual untuk
mengumpulkan uang bagi pembangunan Katedral St. Petrus Roma. Luther melihat ini
sebagai penolakan lengkap atas kebenaran pokok – ia percaya kita selamat hanya
dengan menempatkan iman kita pada Yesus.
Gereja
Katolik Roma mengajarkan bahwa jiwa-jiwa pergi ke suatu tempat yang disebut “Api
Pencucian” setelah kematian. Jiwa-jiwa dibersihkan untuk bisa sampai ke surga.
Dengan membeli indulgensi, orang-orang biasa percaya bahwa mereka akan
membutuhkan sedikit waktu di api pencucian, dan juga bahwa jiwa seseorang yang
telah meninggal dapat dibebaskan dari api pencucian dan langsung pergi ke
surga. Menutut Tetlze, “Begitu uang logam di koper berbunyi, jiwa meloncat dari
api pencucian.” Uskup Agung Albert dari Mainz menggunakan pertapa Dominikan
yang bernama Tetlzel untuk menjual indulgensi. Ia berpendapat bahwa bila
orang-orang biasa membeli indulgensi, mereka tidak melihat lagi perlunya
mengubah tingkah laku mereka. Luther terkejut ketika salinan dari instruksi
Uskup Agung kepada Tetlzel ditunjukkan kepadanya.
Pada
tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan sebuah plakat pada pintu Gereja puri di
Wittenberg, ditulisi “Sembilan puluh lima Tesis mengenai Indulgensi.” Bahkan
Luther sendiri tidak menyadari bahwa pada waktu itu Reformasi telah dimulai. 95
Tesis atau dalil yang dipaparkan Luther dipublikasikan dan diedarkan dan
pandangannya memperoleh dukungan massa dan ia menjadi pahlawan hampir dalam
waktu semalam. Ia menjadi berbahaya bagi Tetlzel untuk berjalan di jalanan.
Pemerintah setempat, Elector Frederick dari Saxony, memutuskan untuk melindungi
Luther. Frederick lelah dengan paus-paus Itali yang campur tangan terhadap
urusan Jerman dan senang karena dan senang karena menjengkelkan Uskup Agung.
Begitulah Reformasi menjadi gabungan yang sangat kuat antara agama dan politik.
Tujuan
Luther adalah untuk memurnikan Gereja Katolik Roma dan memelihara kebenarannya.
Namun, segera ia terlibat dengan peristiwa-peristiwa dan pandangan barunya
menjadi reformasi spiritual dan moral terhadap keseluruhan dunia Kristen.
Meskipun begitu, baik Luther maupun temannya, Philip Melanchthon, tidak mengira
bahwa mereka sedang mendirikan Gereja baru. Luther tidak mau menarik kembali
pandangan-pandangannya. Ia memilih memberontak ketimbang otoritas Paus.
Demikian pula dengan perdebatannya dengan John Eck pada tahun 1519 di Leipzig. Eck menyudutkan Luther untuk
memilih Roma atau Kitab Suci. Tetapi Luther memilih Kitab Suci.
Luther
memang menentang keras kekuasaan Paus. Bagi Luther, Paus adalah antikristus,
seperti setan sendiri. Luther mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja,
seperti penyelewengan surat penghapusan siksa, dan kepausan. Reformasi
menekankan untuk kembali kepada Gereja mula-mula. Luther menyerang ajaran
transsubstansiasi, selibat para klerus dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas
Jerman.
Pada
tanggal 15 Juni 1520 Roma mengeluarkan Bulla
Exsurge Domine, yang mengutuk Luther
sebagai seorang bidaah. Orang-orang Kristen yang taat diperintah untuk membakar
buku-bukunya. Jawaban Luther adalah membakar Bulla, dokumen dari Paus, di depan khalayak ramai. Luther dicekal
dan dinyatakan sebagai buron. Ia bersembunyi di sebuah puri yang disebut
Wartburg. Di sana ia mulai menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Jerman. Ia
menyelesaikan pekerjaan tersebut pada tahun 1534. Luther percaya bahwa setiap
orang harus mampu membaca Kitab Suci, dari yang paling tinggi sampai yang
paling rendah. Sebelumnya Kitab Suci dalam bahasa Latin dan hanya diperuntukkan
bagi para imam dan ahli. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan
diterbitkan dengan mesin cetak, sekarang setiap orang Kristen dapat membaca
Kitab Suci.
Hal
yang dapat kita pelajari dari sejarah Reformasi adalah pentingnya menegakkan
kebenaran Tuhan. Luther telah menjadi teladan yang baik bagi kita untuk
menindaklanjuti keberanian dan semangatnya dalam menegakkan kebenaran, apa pun
yang terjadi. Luther tidak pernah takut untuk dikucilkan atau dianggap sesat,
karena ia tahu bahwa Gereja Katolik Roma telah menyimpang dari kebenaran
Alkitab.
Persoalan
indulgensi adalah persoalan serius. Luther menegaskan bahwa dosa-dosa manusia
tidak dapat dihapuskan hanya dengan membeli indulgensi. Pengampunan hanyalah
milik Tuhan, dan hanyalah Dialah yang dapat mengampuni manusia bukan
indulgensi. Penjualan indulgensi adalah karena ada unsur politik. Politik telah
merusak prinsip Alkitab.
Karena
politik juga, para pendeta bisa terjebak dalam mengatasnamakan Allah. Salah
satunya adalah Pendeta Yakob Nahuway, yang pernah mengatakan bahwa ia mendapat
wangsit (pesan gaib) dari Allah bahwa
Foke (Fuazi Bowo) pasti terpilih jadi gubernur (DKI Jakarta). Tetapi,
kenyataannya, Foke pun kalah dalam Pilgub DKI Jakarta. Siapa yang salah? Allah
atau Jacob Nahuway? Allah tidak mungkin salah. Jadi, Jacob Nahwaylah yang salah.
Kebanyakan
dari kita, jika dalam kondisi yang sama dengan Luther, lebih memilih
mempertahankan jabatan meskipun telah terbukti menyimpang dari prinsip Alkitab,
lebih memilih kompromi dengan dosa, dengan intrik-intrik (persekongkolan atau
taktik untuk menipu) dalam Gereja dari pada tetap menegakkan kebenaran Alkitab.
Saya terlalu sedih melihat perkembangan Gereja saat ini. Keprihatinan saya
terfokus pada “menganggap murah segala karya Tuhan”. Anggota jemaat menjadi
liar.
Pembaruan
dalam Gereja itu perlu – tatkala Gereja sudah mulai menyimpang. Luther melihat
kebobrokan Gereja terjadi di masanya. Dan, ia harus bertindak bukan
berkompromi. Tindakan Luther memacu Gereja untuk semakin giat mencintai Alkitab
dan kebenarannya. Belajar melakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.
Apa
yang terjadi di zaman Luther, di mana Gereja Katolik Roma, demi mengumpulkan
uang untuk pembangunan katedral, harus menipu jemaat dengan menjual indulgensi.
Menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Ini juga yang dilakukan Gereja
sekarang.
Luther
telah mewariskan semangat keberanian dalam menegakkan kebenaran meskipun
mendapat tentangan yang hebat dari pihak Paus. Makna Reformasi adalah “berani
melawan ketidakbenaran dan penyimpangan terhadap Alkitab”. Semangat Reformasi
mendorong kita untuk selalu waspada terhadap perkembangan ajaran di dalam
Gereja. Banyak pendeta, para pelayan yang menyebarkan ajaran-ajaran yang tidak
beres dan menyimpang – dan ini perlu dinilai secara baik dan kritis, karena
Gereja yang teguh dan mandiri adalah Gereja yang mempertahankan ajaran Alkitab
secara serius.
Dari
sejarah Reformasi, kita dapat melihat bahwa perjuangan Martin Luther untuk
melawan ketidakberesan Gereja Katolik Roma telah membuahkan hasil. Itu berarti,
jika dalam Gereja terjadi ketidakberesan ajaran, permainan politik jabatan,
monopoli keuangan, monopoli ajaran Alkitab dan kejahatan lainnya, maka harus
segera dibereskan.
Para
pejabat Gereja yang ikut dalam dunia politik, sebenarnya tidak memberikan
dampak yang berarti bagi Gereja. Kita bisa berbeda pendapat mengenai hal ini. Jika
Gereja dan politik menyatu, maka kerohanian jemaat akan merosot dan penuh
dengan segala penipuan – menghalalkan segala cara.
Ada
Gereja-gereja yang hanya mementingkan keuangan (atau mencari uang untuk
kepuasan diri), mementingkan paduan suara, mementingkan perpuluhan dan mementingkan
bagaimana mendapat uang sebanyak mungkin dari ibadah-ibadah yang dilakukan. Ini
adalah penipuan yang luar biasa bobroknya.
Mari
kita berbenah diri, berjuang dalam menegakkan kebenaran seperti yang dilakukan
Luther. Semangat dan keberanian Luther patut kita contohi. Dan dengan demikian,
kita semakin mencintai kebenaran, semakin mencintai Tuhan dan semakin
mencerminkan sikap dan karakter sebagai hamba-bamba TUHAN dan meneladani Yesus
Kristus serta menjadi serupa dengan Dia.
Gereja
perlu juga untuk menilai dirinya sendiri, apakah sudah menyimpang atau tidak,
sama seperti pesan Paulus kepada Timotius: “Awasilah dirimu sendiri dan
awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat
demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar
engkau” (1 Tim. 4:16).
*Penulis
adalah Ketua Departemen Literatur dan
Media
Arastamar (DELIMA) SETIA Jakarta
Glosari
Bula: surat resmi dari
Paus yang dimeteraikan dengan bulla;
dekrit atau perintah dari Paus.
Bulla: berasal dari bahasa
Latin yang berarti meterai, biasanya dari timah hitam yang dikenakan pada bula
resmi.
Dukat: uang emas dan
perak yang nilainya berbeda-beda.
Exsurge
Domine: (dari bahasa Latin)
adalah kata-kata pertama dari bula paus Leo X, diterbitkan untuk menolak 95
dalil Martin Luther dan yang dibakar Luther pada tanggal 2 Januari 1521.
Indulgensi: surat penghapusan
dosa; surat yang menjamin pengurangan hukuman dalam api penyucian yang
sebenarnya harus dijalani orang berdosa.
Penitensi: kesedihan
dan penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan atau keadaan menyesali dosa.
Dalam bahasa Inggris disebut “penitence”. Penitensi diserap dari bahasa
Belanda.
Skrupel: kecemasan
yang berlebihan tentang baik tidaknya perbuatan tertentu, yang mengganggu
seperti batu kecil yang tajam (Lat. scrupulus)
dalam sepatu waktu berjalan; pertimbangan etis yang menyebabkan orang tidak
bertindak.
Transsubstansiasi: berasal dari bahasa
Latin (trans: ‘di atas’ dan substantia:
‘hakikat’), adalah ajaran Katolik Roma yang ditentukan Konsili Lateran (tahun 1215)
mengenai makna misa, yang mengajarkan bahwa pada kesempatan Ekaristi, ketika
roti dan anggur diberkati, maka hakikat (substansi)
roti dan anggur menjadi hakikat tubuh dan darah Kristus, sehingga Kristus hadir
di atas altar.
Paparang, Stenly
R., Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus
dengan Multi Bahasa, (Jakarta: Delima, 2012).
Salim, Peter &
Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia
Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991).
Smith, Linda & William
Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama, Dulu
dan Sekarang, diterjemahkan oleh P. Hardono Hadi, (Yogyakarta: Kanisius,
2004). Judul asli: A Beginner’s Guide to
Ideas, (Oxford, England: Lion Publishing, 1991).
ten Napel,
Henk, Kamus Teologi Inggris – Indonesia, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2001).
Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, edisi revisi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar