Selasa, 26 Oktober 2021

Korelasi TEOLOGIS ANTARA ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς: Komitmen Kristen untuk Berjuang dan Bersaksi bagi Kristus

Sebagai saksi Kristus, berjuang demi Injil dan mengalami penderitaan adalah sebuah konsekuensi iman. Perjuangan melawan dosa, kebusukan, dan kegelapan dunia adalah wujud dari identitas para murid sebagai garam dunia dan terang dunia. Sejalan dengan itu, perjuangan (ἀγωνίζομαι) orang Kristen juga merupakan wujud dari identitas personal yang melekat padanya yakni ‘garam’ (ἅλας) dan ‘terang’ (φῶς) dunia. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan korelasi teologis antara γωνζομαι dengan λας dan φς. Korelasi tersebut terwujud dalam dua konteks tanggung jawab: pertama, tanggung jawab iman dalam memberitakan Injil, mengawetkan dunia dari pembusukan karena dosa dan kejahatan manusia, sebagai perwujudan dari identitas ἅλας τῆς γῆς; dan kedua, tanggung jawab sebagai pengikut Yesus Kristus dalam memancarkan terang kasih-Nya sebagai perwujudan dari identitas φῶς τοῦ κόσμου. Pendekatan deskriptif-biblika digunakan untuk menjelaskan makna dari teks-teks rujukan dan menjelaskan korelasi teologis antara γωνζομαι dengan λας dan φς.

PENDAHULUAN

Kata “berjuang” dapat digunakan di berbagai konteks kehidupan manusia. Pada tataran ini, kehidupan Kristen dan kehidupan manusia pada umumnya memiliki similaritas. Namun, dari aspek iman, kehidupan Kristen memiliki disimilaritas, karena upaya “berjuang” selalu dikaitkan dengan tanggung jawab iman kepada Yesus Kristus untuk memberitakan Injil-Nya.

Secara fakta, tindakan berjuang dilakukan oleh manusia dalam konteks bertahan hidup, mempertahankan iman, harga diri, dan lain sebagainya. Perjuangan yang dilakukan berangkat dari potensi yang diberikan Tuhan sejak awal Ia menciptakan manusia. Potensi itu digerakkan oleh pikiran dan situasi yang dirasakan. Singkatnya, manusia menggunakan potensinya untuk ‘bertahan’ dan ‘berjuang’.

Secara teologis ketika seseorang bertahan, maka ia sedang berjuang. Dalam perjuangan, ada yang dikorbankan, seperti waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya. Terkait dengan hal tersebut, Yesus menegaskan sebuah prinsip yang mengarahkan orang percaya untuk berjuang mempertahankan identitas “garam dunia dan terang dunia” sebagai bukti iman mereka kepada-Nya. Dua identitas tersebut diwujudkan dalam hal memberitakan Injil, dan menjadi terang bagi dunia. Implikasinya adalah, bahwa seorang Kristen perlu berjuang dan memupuk komitmennya untuk menjadi saksi Kristus. Tiga aspek berikut, yakni ἀγωνίζομαι [agōnizomai], ἅλας [halas], dan φῶς [phōs] akan menjadi dasar untuk menegaskan implikasi tersebut.

Teks-teks Rujukan dan analisis

Untuk membahas ketiga kata di atas, teks-teks rujukan yang digunakan adalah 1 Timotius 4:10, “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya”, dan Matius 5:13-14: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

1. Kata ἀγωνίζομαι [agōnizomai]

Dalam teks 1 Timotius 4:10, Rasul Paulus memberi kesaksian bahwa pelayanan yang dilakukannya melibatkan perjuangan yang berat. Hal ini dilakukan karena ia dipanggil dan ditetapkan Yesus untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain, raja-raja, dan orang-orang Israel (Kis. 9:15). Bagi Paulus, berjuang dan menderita demi Injil adalah konsekuensi imannya (bdk. Kis. 9:16). Perjuangannya melibatkan kerja keras. Alasan bekerja keras dan berjuang adalah karena ia dan rekan-rekannya memiliki pengharapan kepada Allah, Juruselamat mereka. Keyakinan mereka sangat kuat bahwa, pemberitaan Injil yang dilakukan, dijamin oleh Allah melalui pertolongan, penyertaan, dan pemeliharaan-Nya.

Dari segi konteks, Gordon D. Fee menjelaskan, bahwa ayat 10 adalah bagian yang tidak terpisah dari ayat 8b. Ayat 8b memiliki sifat epigrammatic (peribahasa pendek) dan pada ayat 10 adalah bentuk uraiannya; aksentuasinya adalah “ibadah yang dilakukan dengan benar, di situ orang percaya mengakui bahwa ada janji untuk hidup yang dijalani sekarang dan hidup yang akan datang; ada harapan yang didapatkan dari iman kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia. Semua perbuatan orang percaya harus diselaraskan dengan kehendak-Nya; untuk menyelaraskanya, dibutuhkan perjuangan.

John Calvin melihat bahwa, perjuangan di jalan Tuhan tidak mengesampingkan kesengsaraan dan kemalangan. Menurutnya, orang percaya tidak sengsara dalam kesengsaraan, karena hati nurani yang baik mendukung mereka, dan tujuan untuk diberkati dan disenangkan Tuhan, menanti mereka. Dan lebih lagi, kesengsaraan kita disertai dengan pengharapan di dalam Allah yang hidup, dan, harapan dapat adalah sebuah landasan. Berharap kepada Allah hanya dapat dibuktikan dari sikap setia kepada-Nya dan kesetiaan akan menjadi kuat ketika orang percaya perjuangan melawan dosa, kebusukan dunia, dan menangkal ajaran-ajaran sesat (bdk. 1 Tim. 4:7). Singkatnya, tetap percaya dan melakukan apa yang dikehendaki Allah adalah bagian dari perjuangan.

Dalam pengamatan George W. Knight III, ayat 8 dari 1 Timotius 4 merupakan afirmasi kebenaran teologi karena itulah mereka bekerja dan berjuang dan berharap kepada Allah. Artinya, sebagaimana latihan badani membutuhkan perjuangan (usaha), demikian pula (ber)ibadah kepada Allah membutuhkan perjuangan untuk mencapai garis akhir, menerima janji-Nya di kehidupan yang akan datang. Hal ini juga dipahami Fee bahwa, ibadah kepada Allah, atau dengan perkataan lain, “setia kepada Allah”, memiliki indikasi yang kuat yaitu sebagai sebuah kondisi yang eusebeia (goodlines, piety, kesalahen) dalam segala hal, dan menjanjikan hidup, baik untuk saat ini maupun masa mendatang. Untuk mencapai hal ini, “we labor and strive [kita bekerja dan berusaha].” 

Kata ἀγωνίζομαι (berjuang) memiliki kaitan dengan konteks olahraga. Beberapa penjelasan berikut ini dapat menjadi dasar pemahaman mengenai maksud Paulus. ἀγωνίζομαι to contend for a prize (berjuang/bertanding untuk mendapatkan hadiah), struggle (berjuang); korelasi makna ἀγωνίζομαι juga dipahami sebagai engage in an (athletic) contest (1 Cor. 9:25 [ikut serta dalam kontes]; fight (berjuang), struggle (perjuangan), strive (berjuang, berusaha keras) (John 18:36; Col. 4:12; 1 Ti 4:10). Dua kata kerja dari teks 1 Timotius 4:10—berjerih payah (kopiaō, laborm to toil, berlelah, bekerja keras) dan berjuang/berusaha (strive, struggle), menurut Fee, merujuk pada apa yang dilakukan Paulus dan rekan-rekannya (bdk. Kol. 1:29). Kata kerja pertama, kita bekerja (keras), ada hubungannya dengan kontes atletik (Lih. 6:12 [bertandinglah]; 2 Tim. 4:7 [aku telah mengakhiri pertandingan….]; 1 Kor. 9:25 [tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, ….]) dan dengan demikian metafora atletik dimulai dari ayat 7. Kata kerja berusaha (berjerih payah) tampak pada pasal 5:17 mengenai pelayanan pengajaran para penatua. Dua makna dari kata-kata kerja tersebut menegaskan sebuah usaha untuk merealisasikan iman. Dalam pemahaman Paul M. Zehr, di sini Paulus tiba-tiba mengubah metafora. Dia bergerak dari metafora pemeliharaan dan pedagogi ke metafora atletik saat ia menginstruksikan Timotius untuk melatih dirinya dalam kesalehan. Pada saat yang sama, Timotius perlu menjauh dari mitos profan dan dongeng dari nenek-nenek tua (1 Tim. 4:7)—yang memutarbalikkan perkataan-perkataan suci (ajaran-ajaran sehat). Dengan demikian, kaitan antara iman dan perjuangan tidak hanya berada pada tataran realisasi iman, melainkan pada sikap hidup—sebagaimana pesan Paulus kepada Timotius—untuk menjaga kesalehan, menjauhkan diri dari berbagai ajaran-ajaran sesat.

Dalam konteks atlet, Raymond F. Collins menjelaskan bahwa, sebagai seorang atlet yang melatih tubuhnya di gym, Timothy juga perlu melatih dirinya dalam kesalehan (4:7-8). Paulus menggunakan seruan retoris—yang sering kita lihat dalam retorika rabbinik di kemudian hari—untuk menekankan pentingnya kesalehan. Sebagaimana atlet menjaga kebugaran tubuhnya, demikianlah Timotius menjaga dirinya agar tetap saleh. Di sini, analogi yang digunakan Paulus sangatlah tepat menggambarkan kondisi tubuh dan kesalahen. Akan tetapi, dari segi manfaat, antara atlet (olahragawan) dan kesalahen (orang percaya) memiliki perbedaan yang mendasar. Paul M. Zehr mengemukakan, jika atlet memenangkan perlombaan, manfaatnya bersifat sementara. Sebaliknya, kesalehan adalah berharga dalam segala hal, memegang janji untuk kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang (ay. 8). Meskipun latihan tubuh dapat menguntungkan atlet sedikit untuk hari ini, kesalehan memiliki manfaat abadi bagi kehidupan di masa kini dan juga di usia yang akan datang. Selaras dengan pemahaman ini, Fee menegaskan, “True godliness entails genuine faith, the truth, and its visible expression in life” (Kesalehan sejati memerlukan iman yang tulus, kebenaran, dan ungkapan yang terlihat dalam kehidupan). Iman dan kesalahen tampaknya sangat koheren. Dengan demikian, eusebeia (kesalehan [yang sejati) mengekspresikan iman yang tulus, iman yang lahir dari kebenaran yang tampak dari perbuatan-perbuatan saleh, dan salah satunya adalah “beribadah kepada Allah” (bdk. ay. 8).

Selain itu, Zehr melihat bahwa Paulus juga membandingkan kesalehan dengan mitos tanpa Tuhan dan pertapaan keagamaan. Dia menyamakan asketisme (1 Tim 4:1-5) dalam nama agama dan latihan tubuh (ay. 8) bagi atlet yang mengikuti latihan untuk Pertandingan Olimpiade. Di sini terlihat, ketekunan seorang atlet dapat menghasilkan kemenangan pada sebuah pertandingan. Sebaliknya, kesalehan dapat menghasilkan ketaatan kepada Tuhan yang berdampak tidak hanya pada hari ini, melainkan juga pada hari mendatang. Hal ini tampak dari pernyataan Zehr, bahwa “godliness has to do with the essence of faith and one’s response to the living God. Godliness affects both present and future life” (kesalehan ada hubungannya dengan esensi iman dan respons seseorang terhadap Allah yang hidup. Kesalehan mempengaruhi kehidupan sekarang dan masa depan). Zehr menambahkan, “Godliness that holds promise for both the present life and the life to come is explained in several distinct ways; it involves human struggle, it is based on hope in the living God, and it is God’s gift of salvation” (Kesalehan yang memiliki janji bagi kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang dijelaskan dengan beberapa cara yang berbeda; itu melibatkan perjuangan manusia, itu didasarkan pada pengharapan di dalam Allah yang hidup, dan itu adalah anugerah keselamatan dari Allah). Kesalehan didapatkan dari latihan diri, termasuk latihan beribadah (ay. 7); “Christians struggle (agōnizomai, 4:10) to achieve (mencapai) godliness.” 

Gambaran ini juga dilihat dari fakta yang disuguhkan Paulus bahwa berjuang identik dengan banyak atlet yang mempersiapkan diri mengikuti perlombaan Olimpiade. Penulis 4 Maccabees 11:20 menggunakan kata perjuangan (agōnos, ‘kontes’) bagi atlet yang berjuang di arena sampai menderita kematian sebagai seorang martir. Ketika fakta “berjuang” dilekatkan pada konteks pengikut Yesus, hal ini memberikan petunjuk bahwa perjuangan untuk tetap setia (memiliki pengharapan) kepada-Nya dan kebenaran-Nya dapat berdampak pada penderitaan dan kematian sebagai martir yang setia. Meskipun demikian, kematian orang benar diberikan jaminan dari Allah yang hidup. Pengharapan orang percaya adalah sebuah kehidupan yang aktif di hadapan Allah.

Implikasi yang tampak dari konteks di atas adalah, bahwa “kerja keras dan perjuangan bukan untuk pemenuhan pribadi, tetapi demi Injil.” Benarlah apa yang dinyatakan Zehr, bahwa “hanya Allah yang hidup yang dapat memberikan kehidupan yang akan datang (1 Tim. 4:8). Kebangkitan Yesus Kristus menegaskan Allah yang hidup ini (1 Kor. 15:15).” Tentu, dalam teologi Paulus, kebangkitan Kristus adalah kekuatan dan pemenuhan harapan orang percaya; mereka tidak sia-sia percaya kepada-Nya; dan Injil yang diberikan mencakup penegasan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus memberikan keselamatan bagi umat pilihan-Nya yang bekerja keras dan berjuang demi Injil.

Berjuang untuk suatu tujuan—sebagaimana yang terkandung dalam kata ἀγωνίζομαιmenunjukkan sebuah komitmen perjuangan [untuk] memberitakan Injil selain dari pada berjuang untuk hidup setia kepada Allah yang hidup—kehidupan yang aktif. Paulus menggunakan pikirannya untuk bekerja keras dan berjuang dalam mewartakan Injil Yesus. Begitu jugan dengan rekan-rekan sepelayanannya. Mereka menghadapi berbagai tantangan yang berat, bahkan maut mengancam hidup mereka. Namun, per-juangan, dalam pemikiran Paulus diibaratkan sebagai sebuah pertandingan atletik: siapa yang mencapai garis finis, dialah yang mendapat hadiah, tanda kemenangan. Hadiah tersebut berbanding lurus dengan perjuangan telah diupayakan. Kemenangan itu ditandai dengan adanya orang-orang yang percaya kepada Yesus, bertobat, mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Dalam bingkai ini pula, Knight menyatakan, bahwa “The words that follow, κοπιῶμεν καὶ ἀγωνιζόμεθα, are reminiscent of Col. 1:29 (cf. also Col. 2:1) (Perkataan yang mengikuti, kopiōmen kai agōnizometha, mengingatkan pada Kolose 1:29 (“Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku”). Paul now speaks of his own and his colleagues’ spiritual struggle and exercise, not only in terms that apply to every Christian believer, but in terms that he also applies to the activities of the ministers (diakonoi) who are the leaders within the congregation. κοπιάω means “work hard, toil, labor” and may indicate mental and spiritual as well as physical exertion (Paulus sekarang berbicara tentang perjuangan rohani dan latihan dirinya sendiri dan rekan-rekannya, tidak hanya dalam hal yang berlaku untuk setiap orang Kristen yang percaya, tetapi dalam hal itu dia juga berlaku untuk kegiatan pelayanan yang merupakan pemimpin dalam jemaat. “Kopiaō” berarti bekerja keras, kerja berat [sukar, sulit] dan mungkin menunjukkan mental dan spiritual serta usaha [aktivitas] fisik). Dari penjelasan Knight, dapat dipahami bahwa spirit perjuangan dan pengalaman merupakan bagian dari iman (dan tanggung jawab) orang yang percaya dalam semua aktivitas pelayanan (diakonia), dan berbagai pekerjaan yang berat sekalipun. Kata berjuang tentu mengindikasikan sebuah pekerjaan dan tantangan yang berat atau sulit, termasuk pekerjaan pemberitaan Injil.

Knight menyelidiki bahwa, kata ἀγωνιζόμεθα memiliki variannya yakni ὀνειδιζόμεθα yang berarti menderita: “ἀγωνιζόμεθα is to be preferred over the textual variant ὀνειδιζόμεθα (suffer reproach, to reproach), “partly because it has slightly better attestation and partly because it seems better suited to the context. ἀγωνίζομαι means generally “struggle or strive” and may be used more specifially of an athletic contest or of fighting with weapons. Here the emphasis falls on striving after a goal (εἰς τοῦτο) (perjuangan harus lebih disukai daripada varian tekstual oneidizometha [menderita cela, mencela], sebagian karena memiliki kesaksian [pembuktian] sedikit lebih baik dan sebagian karena tampaknya lebih sesuai dengan konteksnya. ἀγωνίζομαι secara umum berarti berjuang atau berupaya dan dapat digunakan lebih spesifik dari kontes atletik atau bertarung dengan senjata. Di sini penekanannya adalah pada perjuangan [upaya] mengejar [mencapai] tujuan). Seorang atletik harus berjuang. Dalam perjuangan ada penderitaan yang datang tanpa ia duga dan inginkan. Konsekuensi dari ἀγωνίζομαι adalah “menderita”. Menderita tidak selalu dipahami sebagai sesuatu yang mengerikan. Hal ini dimaksudkan bahwa kondisi jasmani manusia itu terbatas. Dalam berjuang, manusia dapat saja terhenti karena keterbatasan fisik; demikian pula dengan seorang atletik. Tetapi bagi orang percaya, perjuangan mereka dijamin—meski menderita karena Injil—baik hidup sekarang maupun di masa mendatang.

Memahami kata ἀγωνίζομαι menyangkut kondisi yang telah diamati dan kondisi yang akan terjadi di masa depan yakni: ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran-ajaran setan, ada tipu daya pendusta-pendusta, ada yang melarang kawin, melarang makan makanan yang diciptakan Allah (ada makanan-makanan khusus yang dilarang). Berangkat dari kondisi yang diamati dan prediksi yang akan terjadi di masa mendatang, Paulus menegaskan bahwa Timotius perlu menjadi pelayan Kristus yang setia, terdidik dalam soal-soal pokok iman dalam ajaran sehat, menjauhi takhayul (dongeng), rajin beribadah, jadi teladan, tekun membaca Kitab-kitab suci, menggunakan karunia yang diberikan Tuhan, mengawasi diri dan ajaran, dan bertekun. Dan di atas semuanya itu, Timotius perlu memberitakan apa yang telah ia miliki.

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa korelasi teologis antara ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς terwujud melalui fakta berjuang menjadi saksi Kristus, mempertahankan iman, memberitakan Injil, dan hidup dalam kesalahen.

Untuk lebih melihat lebih dalam mengenai korelasi ini, penjelasan berikut ini, yaitu mengenai makna kata ἅλας dan φῶς dapat memperkuat tataran pemahanan korelasi teologis dimaksud.

 

2. ἅλας dan φῶς 

Konteks Matius 5:13-14 adalah sebuah pernyataan. Pernyataan ini meneguhkan sekaligus mengkonfirmasi bahwa para murid diberikan identitas yang lebih tinggi dari sekadar murid. Menurut Frederick Dale Bruner, murid Yesus sebagai garam dan terang dunia menunjukkan “keunikan” tersendiri. Hal ini tampak dari sebelum dua kata benda untuk halas dan phos) yaitu kamu adalah. Dua identitas tersebut merupakan sebuah pengakuan fungsi para murid sebagai pemberita Injil yang harus membawa dunia kepada Kristus. Seperti yang dinyatakan Leon Morris, frasa “kamu adalah” menegaskan bahwa Yesus tidak memberikan janji melainkan membuat pernyataan. 

Sarjana  Perjanjian Baru, Hans Dieter Betz, melihat Matius 5:13-16 sebagai pernyataan yang secara bersamaan berbentuk deskriptif, deklaratif, dan imperatif. Ketiganya dapat dibahasakan demikian: deskriptif berarti menjelaskan identitas para murid dan analoginya; deklaratif berarti Yesus memberikan pernyataan yang jelas kepada para murid-Nya; imperatif berarti Yesus memerintah para murid—dengan dua identitas baru—untuk menyatakan Injil dan terang Kristus di dunia. Dua penegasan identitas tersebut secara substansial merujuk kepada “gerakan penginjilan” mengikuti apa yang telah Yesus lakukan. Di sini, Yesus menghendaki bahwa para murid haruslah mengikuti teladan-Nya. Dalam memenuhi dua identitas itu, para murid tidak dapat mengabaikan tindakan ἀγωνίζομαι yang darinya Injil Yesus Kristus dapat diwartakan kepada dunia di kemudian hari, seperti yang perintahkan Yesus di akhir pelayanan-Nya di bumi, kepada para murid: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19).

a. Kata ἅλας [halas] [τῆς γῆς]

Teks Matius 5:13 terkait erat dengan teks-teks sebelumnya yang berbicara mengenai makarios [blessed], ay. 3-12 [meski pada ay. 12 kata yang digunakan adalah khairete dan agalliasthe, be joyful and triumphant]). Dengan demikian, memahami makna ἅλας τῆς γῆς perlu melihat pernyataan yang terkandung dalam ucapan bahagia (ay. 3-10). Pada ayat 11-12 dijelaskan mengenai risiko mengikut (percaya) Yesus, yaitu dicela, dianiaya dan difitnah. R. T. France berpendapat bahwa, seruan untuk menerima penganiayaan dengan sukacita sekarang diikuti dalam ayat 13-16 oleh serangkaian gambar yang menjelaskan mengapa penting bahwa para murid hendaknya berbeda dan dipandang berbeda. Berbeda atau unik tampak dari identitas yang disebutkan Yesus.

Sebelum penulis menjelaskan makna ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου, berikut ini dijelaskan mengenai ucapan bahagia, yang kemudian dikaitkan dengan “garam dan terang dunia”. Ucapan Bahagia setidaknya menjelaskan dua hal yaitu: pertama, tugas orang percaya menjadi garam dan terang dunia dan perjuangannya (berjuang, ἀγωνιζόμεθα) dalam melakukan tugas pemberitaan Injil, dan kedua, orang percaya yang mengalami penderitaan karena Injil namun tetap diperintahkan untuk “berbahagia”.

Pertama, berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Terjemahan lain menyebutkan: berbahagialah mereka yang miskin roh: NIV: “Blessed are the poor in spirit, for theirs is the kingdom of heaven” (Μακάριοι οἱ πτωχοὶ τῷ πνεύματι, ὅτι αὐτῶν ἐστιν ἡ βασιλεία τῶν οὐρανῶν). Kemungkinan arti dari πτωχοὶ τῷ πνεύματι, adalah mereka yang merasa haus akan pertolongan Tuhan, yang selalu rindu bergantung pada Tuhan. Ada rasa kehilangan (miskin) jika tidak mengandalkan Tuhan. Ini prinsip kebergantungan manusia terhadap Tuhan. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti memberikan kesaksian kepada yang lain tentang sikap kebergantungan kepada Tuhan, juga sekaligus memberikan pengaruh kepada yang lain untuk mengikuti jejak yang sama.

Kedua, berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Ini adalah prinsip umum yang sering dirasakan oleh manusia. Tuhan adalah Sang Penghibur; ketika orang percaya meneladani Tuhan, maka ia juga perlu menghibur sesamanya. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti memberi penghiburan kepada mereka yang berdukacita; peduli dan berbagi rasa.

Ketiga, berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti menjadi teladan dalam sikap hidup yang lemah lembut.

Keempat, berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti memberi pertolongan bagi mereka yang lapar dan haus akan kebenaran Tuhan.

Kelima, berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti menjadi teladan dalam sikap murah hati kepada sesama.

Keenam, berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti menjadi teladan dalam kesucian hati.

Ketujuh, berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti menjadi saksi dalam hal membawa damai di dalam totalitas kehidupan.

Kedelapan, berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti siap dianiaya (sebagai konsekuensi logis dari beriman kepada Yesus Kristus) dan siap menolong mereka yang teraniaya, tanpa memandang perbedaan.

Kesembilan, berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti siap menerima risiko untuk dicela dan dianiaya, siap memberi dukungan kepada orang-orang percaya yang dicela, dianiaya, dan difitnahkan segala yang jahat. Iman kepada Yesus memiliki konsekuensi logis. Meskipun demikian, orang percaya dituntut tetap konsisten, setia, dan beriman kepada Yesus.

Kesepuluh, bersukacita dan bergembira-lah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Merealisasikan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου berarti siap menghadapi risiko menjadi pengikut Yesus Kristus dan bahkan memberikan teladan dalam hal mengikut Yesus: sampai mati (bdk. Why. 2:10b). Penderitaan dan aniaya tidak menjadi hambatan dalam menjaga kesetiaan kepada Tuhan. Di dalam penderitaan, Tuhan mengizinkan umat-Nya untuk melewatinya, dan mengajarkan, bahwa dalam segala hal, beriman kepada Tuhan adalah pilihan yang terbaik.

Di atas telah dijelaskan kaitan antara Ucapan Bahagia dengan ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου, dan sekarang beralih kepada penjelasan makna dari frasa “Garam Dunia”. Wisdom of Sirach (Ecclesiasticus) 39:26 menyebutkan bahwa garam sebagai salah satu hal penting bagi kehidupan manusia. Dalam Soperim 15:8, dituliskan bahwa “The world cannot endure without salt”. Salt is a basic necessity of life. Pliny, dalam Natural History 31, 102 menyebutkan bahwa, tidak ada yang lebih berguna daripada garam dan sinar matahari. Selaras dengan itu dalam analoginya dengan garam, menurut R. T. France, para murid Yesus tidak kalah penting bagi kesejahteraan “bumi” (dunia). Craig Blomberg menjelaskan, bahwa dari sekian banyak hal yang dapat dirujuk garam di jaman dahulu, penggunaannya sebagai pengawet dalam makanan mungkin adalah fungsinya yang paling mendasar. Garam digunakan dalam dunia kuno untuk rasa makanan dan bahkan dalam dosis kecil sebagai pupuk.

Penjelasan R. T. France juga memiliki indikasi yang sama. Dua penggunaan yang paling signifikan garam di dunia kuno adalah untuk penyedap dan untuk pengawetan makanan, dan salah satu atau keduanya digunakan untuk memberikan pengertian yang tepat di sini: para murid adalah untuk memberikan rasa kepada dunia mereka tinggal, dan/atau mereka akan membantu untuk mencegah kerusakan … murid adalah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Kegunaan penting dari garam mengantar kita pada konteks “murid”. Efek yang ditimbulkan oleh keunikan para murid—tentu dengan berjuang memberitakan Injil—adalah mengubah dunia menjadi tempat yang baik yaitu tempat di mana damai sejahtera Kristus memerintah di dalamnya. Jika mereka ingin memberikan kontribusi pada masyarakat, maka mereka harus unik, yaitu menjadi seperti garam, yang asin, yang berbeda dari dunia. Selaras dengan hal tersebut, France menyatakan, bahwa  if it is not salty, it is not salt (jika tidak asin, itu bukan garam). Pernyataan tersebut, memberi arti bahwa: “jika tidak unik—berbeda dari dunia—itu bukan murid.” Dengan demikian, keunikan para murid adalah menggarami dunia dengan Injil—mencegah kerusakan karena dosa, kejahatan, dan kegelapan.

Yesus mengarahkan para murid untuk melihat dunia dan mengubahnya menjadi selaras dengan apa yang dikehendaki-Nya. Pernyataan Blomberg berikut ini sangatlah tepat: “Jesus thus calls his disciples to arrest corruption and prevent moral decay in their world (Yesus memanggil murid-muridnya untuk menghentikan kerusakan dan mencegah kerusakan moral di dunia mereka). Perintah Yesus tersebut sekaligus melekatkan tanggung jawab para murid untuk mengubah dunia menjadi tempat yang baik.

Agenda penting dari menjadi “garam dunia” adalah mencegah menjalarnya kerusakan moral di dunia, dan mengubahnya menjadi tempat yang penuh damai sejahtera Kristus. Origen menafsirkan, karena garam memelihara daging dari proses membusuk, demikian juga para murid Kristus memiliki efek pengawet. Menurut Hilary dan Chromatius, para murid tidak boleh kehilangan rasa yang menyenangkan, suatu rasa yang menegaskan identitas hakiki yang berpotensi mengubah dunia, menggarami dunia. Lebih dari pada itu, bagi Chromatius, mereka yang telah dididik untuk kebijaksanaan surgawi harus tetap teguh agar tidak menjadi hambar oleh pengkhianatan Iblis. Menjadi garam dunia berarti memberikan pemeliharaan atas bumi dan atas moralitas manusia, mempertahankan rasa asin (seperti garam) untuk tetap berada pada jalan Tuhan, dan juga tetap teguh melawan kuasa Iblis, sehingga tidak menjadi hambar, tanpa keunikan.

 Dalam konteks yang sama, jika garam mencegah makanan mengalami pembusukan, dan jika tanpa garam, makanan menjadi tak berguna, menurut Simonetti, “begitu juga dengan para murid Kristus, berdiri di jalan bau busuk yang datang dari dosa keberhalaan dan percabulan….” Para murid juga tetap mempertahankan kuasa dan identitas yang diberikan Yesus kepada mereka. Chrysostom mengajukan pertanyaan yang menarik mengenai hal ini: mengapa para murid harus jadi garam dunia? Jawabannya adalah karena “Yesus hendak mengatakan bahwa pada dasarnya “para murid tidak hanya bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri tetapi juga untuk seluruh dunia.” Dengan mengatakan “kamu adalah garam di dunia”, Yesus menandakan bahwa semua sifat manusia itu sendiri telah kehilangan rasa, telah menjadi busuk melalui dosa. Pada konteks ini, menjadi garam dunia berarti para murid memiliki tanggung jawab atas dunia yang lebih luas dan memeliharanya (mengawetkan) dari pembusukan karena dosa.

Selain itu, suplemen signifikan mengenai korelasi menjadi garam dunia dengan penginjilan tampak pada penjelasan Robert H. Gundry. Yesus menggunakan metafora—lukisan yang berdasarkan persamaan—garam yang umumnya digunakan manusia sebagai penguat rasa, dengan garam dunia dari aspek pemberitaan Injil bagi dunia yang berdosa.  Matius membuat metafora tentang garam dengan motif penginjilan di seluruh dunia (bdk. 28:19-20). Gundry menyatakan bahwa, perkataan mengenai garam (Mat. 5:13; bdk. Mrk. 9:49-50; Luk. 14:34-35; dalam Markus dan pernyataan Lukas garam mewakili kualitas kemuridan) memperkenal-kan kembali alasan penganiayaan terhadap para murid: kesaksian tentang perbuatan baik mereka di dunia yang jahat. 

Pernyataan Gundry adalah sebuah pengamatan bahwa sebagai garam dunia, para murid tidak berarti bebas dari penderitaan, melainkan tetap berjuang untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan Yesus. Bagi Gundry, “garam” adalah metafora sebagai penyedap rasa (bumbu memasak), pemurnian (purification), pengawetan (preservation), dan bahkan pemupukan, yang mana metafora tersebut diidentikan dengan tugas para murid. Sebagaimana garam memperkuat rasa, maka para murid memperkuat identitas mereka yang berbeda dengan dunia melalui sikap hidup dan kerja penginjilan membawa berita surgawi: Allah peduli dan mengasihi dunia. Para murid hadir bagi dunia: mengubahnya, meng-awetkannya, menjadikannya sebagai tempat yang menyenangkan bagi Allah melalui pujian, penyembahan, dan ketaatan orang-  orang percaya dan mereka yang dimenangkan bagi Kristus melalui pemberitaan Injil.

Sebagaimana kekuatan garam datang dari rasa asinnya; tanpa rasa asin, garam sama sekali tidak berguna, demikian juga dengan orang percaya, tanpa menyatakan identitas, tanpa kekudusan—natur orisinalnya, seperti garam dan rasa asinnya, menjadi hambar dan tak berguna. Menurut John Calvin, orang percaya diasinkan oleh Firman Injil, agar mereka dapat dikuduskan. Hasil dari Firman Injil—terhadap pada murid—adalah memberi-kan identitas pembeda (unik) dari dunia meskipun mereka ada di dunia. Sejalan dengan itu, kekuatan para murid ada pada identitas iman dan berita yang mereka bawa. Dengan melihat pada fungsi garam yang dilekatkan pada para murid, maka menurut Morris, “apa yang rusak harus mereka lawan; mereka mempenetrasikan masyarakat dengan kebaikan dan bertindak bagaikan antiseptik moral. Dengan demikian, bagi Morris, garam ada untuk makanan, demikian murid ada untuk dunia. 

Dunia tanpa murid dengan berita yang dibawa mereka akan menjadi hambar, dosa terus menampakkan wajahnya, kejahatan terus menguasai manusia, kebusukan moralitas terus menggerogoti manusia; untuk itulah, dunia yang rusak dan kotor itu, hanya dapat diperbaiki dan dibersihkan melalui berita Injil yang dibawa oleh para murid. Para murid harus menolong manusia-manusia yang berada di dalam dunia yang rusak dan kotor itu. Dari wilayah yang kecil sampai ke wilayah yang luas lagi. Selaras dengan itu, Bruner menyatakan bahwa, keinginan terdalam orang Kristen, setelah kesetiaan kepada Allah dalam Yesus, adalah dipakai Yesus untuk menolong orang. Yesus sekarang meyakinkan mereka lagi bahwa mereka sedang, dan akan, dipakai oleh Allah untuk membantu orang dan, pada kenyataannya, pada skala terluas, untuk menjadi  “garam dunia yang sebenarnya” (dan bukan hanya, katakanlah, “dari Galilea” atau “dari Palestina”)]. Garam dunia merujuk pada lokus yang universal. Itu berarti, “pengaruh mereka tidak boleh hanya sebatas lingkaran kecil.”

Dengan identitas “garam dunia”, menurut Bruner, dapat diartikan bahwa para murid melanjutkan (tanpa sepenuhnya menggan-tikan) Israel sebagai umat Allah dalam sejarah. Para murid adalah umat Allah yang ditetapkan-Nya dan melalui Yesus pemilihan, itu menjadi nyata. Umat Allah perlu bergerak untuk membawa misi Allah kepada bangsa-bangsa lain. Bruner berpendapat, bahwa “Salt’s main mission is penetrating food; Christians main mission is penetrating the earth” (Misi utama garam adalah menembus makanan; misi utama orang Kristen adalah menembus bumi). Konteks yang dibicarakan Bruner menunjukkan sebuah perjuangan orang Kristen menembus (memasuki) dunia untuk memberitakan Injil—menjangkau seluruh umat manusia. Penegasan Yesus kepada para murid secara substansial menjawab kebutuhan mereka: “mereka membutuhkan peringatan dan dorongan semangat: peringatan, agar mereka tetap menjadi murid; dorongan, sehingga mereka tidak berpikir bahwa efektivitas mereka terserah kepada mereka.” Mereka tidak bekerja untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk Yesus Kristus. Hingga di kemudian hari, hal ini menjadi jelas ketika Yesus memberikan perintah: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, “Baptislah mereka dalam Bapa, Anak, dan Roh Kudus”, dan “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.

Dengan demikian, ὑμεῖς ἐστε τὸ ἅλας τῆς γῆς [humeis este to halas tēs gēs]: “Kamu adalah garam dunia”, mengindikasikan adanya sebuah ἀγωνίζομαι (perjuangan) untuk mewartakan Injil “keluar” yaitu ke dunia yang lebih luas. ἀγωνίζομαι ini mendorong orang Kristen untuk sadar bahwa dirinya adalah garam yang harus difungsikan ke dalam dunia. Setiap orang Kristen perlu memiliki komitmen untuk berjuang sebagai garam dunia—meleburkan diri ke dalam pola kehidupan setiap hari tanpa terpengaruh dengannya; mengubah dunia yang busuk karena dosa menjadi dunia yang baik, memupuk komitmen untuk menjadi saksi bagi Kristus ke dalam lautan hayati majemuk, agar nama Tuhan dipuji, dan menjadi berkat bagi orang lain.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan di bagian akhir Matius 5:13, yaitu “menjadi asin” dan “dibuang dan diinjak orang”. Menurut Gundry, bagian terakhir dari ayat 13 memperingatkan terhadap kegagalan untuk bertekun dalam perbuatan baik. Kegagalan semacam itu akan memalsukan sebuah profesi kemuridan dan menempatkan satu kalimat penghakiman yang tidak dapat ditarik kembali. “Dilempar keluar dan diinjak-injak oleh manusia” (bdk. Luk. 14:35) merujuk pada tanggapan dunia terhadap orang Kristen jika mereka tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Selanjutnya, tugas penting orang percaya adalah menghentikan kerusakan, sebagaimana yang dinyatakan Blomberg: “Believers who fail to arrest corruptiorbecome worthless as agents of change and redemption” (orang percaya yang gagal menghentikan kerusakan, menjadi tidak berguna sebagai agen perubahan dan penebusan).

a. φῶς [τοῦ κόσμου]

Frasa φῶς τοῦ κόσμου memiliki pengertian yang sama dengan frasa ἅλας τῆς γῆς. γῆς dan κόσμου memiliki objek yang sama yaitu “bumi” atau “dunia”. γῆς berarti bumi, dunia, tanah, wilayah, dan kota; κόσμου menekankan pada dunia atau semesta yang lebih luas. Seperti yang dikemukakan Morris, bahwa pengaruh para murid dalam menampilkan identitas mereka untuk memberitakan Injil tidak hanya sebatas lingkaran kecil (wilayah tertentu saja), melainkan pada dunia yang lebih luas.

Dalam konteks tersebut, pengikut Yesus merefleksikan terang-Nya (Yesus adalah Terang Dunia, Yoh. 8:12; 9:5; bdk. 12:35). Chromatius dan Chrysostom menafsirkan teks tersebut dengan menyatakan bahwa, murid Yesus disebut terang dunia karena mereka diterangi oleh seseorang yang adalah cahaya yang benar dan abadi yang tentu mengacu pada Yesus. Menurut Gundry, metafora “cahaya” [terang] berasal dari peribahasa tentang lampu yang menggunakan kandil agar orang yang masuk dapat melihat cahaya (bdk. Luk. 8:16; 11:33). Untuk menekankan pada kemuridan dan sejajar dengan ayat 13, Matius sekali lagi menarik persamaan dengan para murid itu sendiri. Seperti Yesus adalah terang (4:16) demikian juga mereka. Hal yang sama juga dikemukakan John Piper, bahwa tuntutan agar terang kita bercahaya adalah dunia bertujuan: agar orang memuliakan Bapa kita yang di sorga. Di samping itu, “terang yang kita pancarkan adalah terang tentang siapa kita. Yesus berkata: ‘Kamu adalah terang dunia’ (Mat. 5:14). Itu berarti ada suatu gerakan dari dalam keluar. Apa yang orang lihat dari luar adalah “perbuatan baik” kita. Tetapi bukan siapa kita. Perbuatan baik mempunyai sumber terang dari dalam. Memang benar, gerakan dari dalam-keluar merupakan wujud dari pekabaran Injil. Yesus memulai dari para murid dan kemudian melalui mereka, pancaran cahaya dan kekuatan garam menerangi dunia, dan mengobati dunia yang telah rusak oleh dosa.

Dunia membutuhkan terang, “sebab terang yang bersinar keluar adalah terang Allah, atau terang dari Yesus yang adalah wahyu kemuliaan Allah.” Sebagai terang dunia, para murid didorong untuk menyatakan kemuliaan Yesus bagi dunia yang berdosa dan gelap. Sama seperti garam, terang dunia mengindikasikan lokus yang luas. Yesus menegaskan sebuah identitas yang memiliki jangkauan terbesar (terluas) sebagai realisasi dari kemahakuasaan-Nya atas dunia. Yesus berkuasa atas seluruh bumi, dan karena itu, murid-murid-Nya dijadikan terang dunia untuk keseluruhannya di mana Ia ada dan berkuasa. Chrysostom mengemukakan bahwa, kamu adalah terang dunia—bukan dari satu bangsa atau dua puluh kota tetapi dari seluruh bumi yang dihuni.

Dunia butuh terang kemuliaan Allah. Menurut Piper, “ketika perbuatan baik kita mendapat cita rasa dari garam dan cahaya dari terang ini, dunia akan disadarkan untuk mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu, kemuliaan Allah di dalam Yesus.” Meski demikian, orang percaya dilarang bersahabat dengan dunia dalam konteks kedagingan yang berlawanan dengan kehendak Allah. Orang percaya—meski dilarang bersahabat dengan dunia—tetapi “para pengikut Yesus tidak harus menjadi terpisah dari dunia, melaikan mereka eksis sebagai terang bagi dunia.”

Dengan melekatnya identitas dan tugas yang sedemikian penting itu, menurut Piper, ketika Yesus memanggil kita untuk memancarkan terang kita agar orang lain melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Allah, Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya melakukan panggilan-Nya. Di mana ada cahaya orang dapat menemukan jalan mereka dan semuanya jelas; di mana ada kegelapan mereka tersandung dan tersesat; citra ini sangat berkembang terutama dalam Injil keempat, di mana Yesus sendiri yang merupakan “terang dunia” (Yohanes 8:12; cf. 1:4-5, 9), dan itu dapat berarti bahwa terang yang Yesus bawa juga disediakan oleh murid-muridnya dalam pelayanan dan proklamasi pembebasan (lih. Yes. 42:6; 49:6).

Merealisasikan φῶς τοῦ κόσμου berarti orang percaya memperluas pengaruhnya (dari tempat di mana mereka hidup) kepada dunia yang lebih besar [luas, makro] dalam konteks penginjilan. Untuk memberi pengaruh yang lebih luas, dimulai dari mempengaruhi yang kecil. Idealnya, menjadi φῶς τοῦ κόσμου seorang Kristen penting untuk bergerak keluar—ke dunia yang luas itu—untuk mewartakan Injil. Dengan demikian, ὑμεῖς ἐστε τὸ φῶς τοῦ κόσμου [humeis este to phōs kosmou], mengindikasikan adanya sebuah ἀγωνίζομαι yaitu menjadi terang ke seluruh penjuru dunia sejauh yang dapat dijangkau. ἀγωνίζομαι mendorong kesadaran diri orang Kristen bahwa dirinya adalah terang dunia yang harus menerangi sekitarnya dan dunia yang lebih luas. Melalui ἀγωνίζομαι, setiap orang Kristen perlu memiliki komitmen untuk berjuang menjadi terang dunia, menghasilkan karya-karya pelayanan (dengan berbagai ragamnya) yang terpublikasi secara luas.

Korelasi Teologis ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς 

Dari deskripsi biblika di atas, tampak bahwa ἀγωνίζομαι, ἅλας dan φῶς memiliki korelasi teologis yang signifikan. Artinya, sebuah ἀγωνίζομαι berdampak tidak hanya pada bagaimana seorang Kristen berjuang memberitakan Injil Yesus Kristus—di dunia yang berdosa, rusak, busuk dan gelap karena dosa—melainkan juga berdampak pada bagaimana seseorang untuk berjuang dalam aspek kehidupan lainnya, termasuk aspek doktrinal.

Berjuang mempertahankan iman kepada Yesus adalah bagian yang harus diper-juangkan mengingat tantangan, perlawanan, kejahatan, kebusukan moralitas dapat menjadi hambatan tersendiri bagi proses pekabaran Injil. Meskipun demikian, upaya untuk berjuang memberitakan Injil dan mem-perlihatkan keunikan identitas sebagai garam dan terang dunia, tetap menjadi prioritas iman dan pelayanan.

ἀγωνίζομαι menyadarkan setiap orang percaya untuk melihat kondisi dan identitas dirinya, kemudian bergerak dan bekerja menghasilkan sesuatu bagi keberlangsungan hidupnya dan pelayanan kepada Tuhan. Di sini, ἀγωνίζομαι dihubungkan dengan tanggung jawab dan kesadaran diri sebagai ἅλας [garam] dan φῶς [terang] dunia. Jika mengamati tulisan Pengkhotbah: “Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari (Pkh. 8:15), maka tugas orang percaya adalah bertanggung jawab untuk mempertahankan hidup (berjuang) bagi kehidupannya dan tetap mempriotaskan pelayanan pekabaran Injil. Orang percaya tidak hanya mengurusi hal-hal jasmani, tetapi berjuang untuk pelayanan Tuhan di segala bidang kehidupan. Manusia diberikan kebahagiaan di bawah matahari untuk menikmati makan minum dan bersukaria. Di dalam menikmati makan minum dan bersukaria, ada aspek ἀγωνίζομαι, berjerih payah, untuk mempertahankan hidup. Dorongan mempertahankan hidup telah dimandatkan Allah sejak awal penciptaan manusia sehingga tidak ada alasan untuk tidak berjuang bagi hidup. Namun, lebih dari itu, orang percaya tidak boleh melupakan tanggung jawabnya imannya sebagai pengikut Kristus dalam memberitakan Injil.

Beberapa aspek korelasi teologis antara γωνζομαι dengan λας dan φς yang dapat dipahami di sini adalah sebagai berikut:

Pertama, γωνζομαι adalah sebuah kesadaran iman dalam merealisasikan identitas sebagai garam dan terang dunia.

Kedua, γωνζομαι adalah usaha untuk tetap mempertahankan iman kepada Yesus yang dilakukan melalui dua cara yaitu menggarami dunia (realisasi dari ἅλας τῆς γῆς) yang telah busuk karena dosa, dan menerangi dunia (realisasi dari φῶς τοῦ κόσμου) dari kegelapan dosa.

Ketiga, berjuang menjadi saksi Kristus, dengan cara memberitakan Injil sebagai perwujudan identitas garam dan terang dunia, berjuang mempertahankan iman dan kesalehan kepada Allah.

Keempat, berjuang untuk mempertahan-kan aspek doktrinal (penganjaran) sebagai pewartaan Injil tidak dapat melepaskan diri dari pengajaran yang benar Yesus dan karya-Nya.

Kelima, komitmen Kristen untuk tetap menjadi ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου tidak dapat dipisahkan dengan perjuangan menunaikan tanggung jawab memberitakan Injil.

Keenam, berjuang di jalan Tuhan dalam konteks pemberitaan Injil hanya dapat dilakukan secara benar dan tulus oleh mereka yang telah memahami makna garam [λας] dan terang [φς] dunia serta fungsi-fungsinya bagi terwujudnya kehidupan yang telah digarami, kehidupan yang diterangi oleh kasih dan Injil Kristus.

Dengan demikian, pemahaman atas korelasi teologis antara γωνζομαι dengan λας dan φς memperlihatkan tanggung jawab orang percaya yang menyandang identitas sebagai ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου yang melalui tanggung jawab itu, komitmen untuk menjadi saksi Kristus di dunia dapat terwujud. Dunia adalah tempat bagi para murid—sebagaimana yang juga Yesus lakukan—untuk mewartakan Injil Yesus Kristus, mengawetkannya dari pembusukan karena dosa, mengubahnya menjadi tempat yang layak, dan meneranginya dari kegelapan agar cahaya Injil terus bersinar, membawa orang-orang berdosa kepada Kristus.

Komitmen untuk menjadi saksi Kristus tidaklah mudah, bukan tanta tantangan atau perlawanan. Dibutuhkan perjuangan dan upaya mempertahankan iman, termasuk di dalamnya mempertahankan identitas yang unik, identitas pembeda—ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου—yang membedakan orang percaya dengan dunia yang berdosa, dan gelap karena dosa.

Kesimpulan

Korelasi teologis antara ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς tampak dari bagaimana orang percaya berjuang mewartakan Injil sebagai perwujudan dari identitas personal yang dilekatkan Yesus pada mereka yaitu ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου. Korelasi teologis itu juga tampak dan diwujudkan melalui dua konteks tanggung jawab yaitu: pertama, tanggung jawab iman dalam memberitakan Injil, di mana melalui mereka, Injil itu dapat mengawetkan dunia dari pembusukan dan kebusukan karena dosa, juga menjadikan dunia yang rusak karena dosa sebagai tempat yang layak di mana kasih dan kemuliaan Tuhan ada dan bersinar; dan kedua, tanggung jawab sebagai pengikut Yesus dalam memancarkan terang kasih-Nya, karena melalui identitas φῶς τοῦ κόσμου, para murid dapat secara nyata menampilkan terang Injil yang telah mereka percayai.

Dengan demikian, korelasi teologis antara ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς merupakan konsep pelayanan yang mencakup tanggung jawab (berjuang) dan pengajaran (Injil) yang diberitakan, dan konsep diri yang mencakup perjuangan mempertahankan iman, kesalehan, dan identitas personal sebagai ἅλας τῆς γῆς dan φῶς τοῦ κόσμου. Orang percaya berani berjuang karena ada iman dan identitas yang diberikan Yesus kepadanya. Komitmen menjadi pengikut Kristus adalah prinsip yang tetap dipegang teguh dan sepanjang hayat dapat terus menggarami dunia sebagai realisasi ἅλας τῆς γῆς, dan memancarkan terang kasih Kristus sebagai realisasi φῶς τοῦ κόσμου.

Identitas garam dan terang dunia bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah sukacita dalam melakukan segala perintah Tuhan terkait dengan pemberitaan Injil, berjuang dalam hidup dan pelayanan, dan hal-hal penting lainnya yang selaras dengan kehendak-Nya. Secara substansial, ada korelasi teologis antara ἀγωνίζομαι dengan ἅλας dan φῶς; tak mungkin orang percaya yang berjuang tanpa menunjukkan identitasnya. Keduanya secara simultan dilakukan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.


Catatan Kaki

Gordon D. Fee, 1 and 2 Timothy, Titus. New International Biblical Commentary (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1988), 104.

Fee, 1 and 2 Timothy, Titus, 105.

John Calvin, Commentary on Timothy, Titus, Philemon (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library), 86.

Calvin, Commentary on Timothy, Titus, Philemon, 87.

George W. Knight III, The Pastoral Epistles. The New International Greek Testament Commentary (NIGTC) (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Com., 1992), 202. Menurut Knight, such effort is undertaken ultimately because our hope is fixed on θεῷ ζῶντι, who can give such ζῶἠ (v.10b) as the Savior of all who believe on him (v.10c), Knight III, The Pastoral Epistles, 202.

Fee, 1 and 2 Timothy, Titus, 105.

Fee, 1 and 2 Timothy, Titus, 105.

F. Wilbur Gingrich, Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, 3, dalam BibleWork9. Beberapa terjemahan Lukas 13:24: RSV: strive to enter; ESV: strive to enter; ASV: strive to enter; NET: exert every to enter; NKJV: strive to enter; RYLT: be striving to go.

Fee, 1 and 2 Timothy, Titus, 105.

Paul M. Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus (Scottdale, Pennsylvania: Herald Press), 99.

Raymond F. Collins, 1 and 2 Timothy and Titus: A Commentary. New Testament Library (Louisville, KY: Westminster John Knox, 2002), 122, dikutip Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 99.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 99.

Gordon D. Fee, 1 and 2 Timothy, Titus. New International Biblical Commentary (Peabody, MA: Hendrickson, 1988), 104, dikutip Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 99.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 99.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 99.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 99-100.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 100.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 100.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 100.

Zehr, Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus, 100.

Knight III, The Pastoral Epistles, 202.

Knight III, The Pastoral Epistles, 202.

Frederick Dale Bruner, Matthew: A Commentary Matthew 1-12 (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Pub., 2004), n.p. versi pdf.

Leon Morris, Injil Matius, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2016), 110.

Betz menambahkan 2 ayat yaitu 15-16 sebagai penegasan dan imperatif dari dua identitas yang disebutkan sebelumnya.

Hans Dieter Betz, The Sermon on the Mount: A Commentary on the Sermon on the Mount (Including the Sermon on the Plain Matthew 5:3-7:27 and Luke 6:20-49). Hermeneia-a critical and historical commentary on the Bible, Adela Yarbro Collins (ed.) Minneapolis: Augsburg Fortress, 1995), 155.

ἅλας, ατος, τό (v.l. ἅλα Mt 5:13 and elsewhere. The classical ἅλς is represented only by the v.l. ἁλί Mk 9:49) salt lit. Lk 14:34; fig. Mt 5:13a; Col 4:6. Gingrich, Shorter Lexicon of the Greek New Testament, 8.

μακάριος, ία, ιον blessed, fortunate, happy usually in the sense of privileged recipient of divine favor Mt 11:6; 13:16; Lk 11:27; 23:29; J 13:17; Js 1:25; 1 Pt 3:14. μακάριος ὁ blessed is one who Mt 5:3–11; Lk 6:20–22; J 20:29; Rv 1:3; 22:7, 14. Of God as the source of all benefaction 1 Ti 6:15. Gingrich, Shorter Lexicon of the Greek New Testament, 121.

R. T. France, The New International Commentary On The New Testament: The Gospel of Matthew (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2007), n.p. versi pdf.

Margaret Davies, Matthew. Second Edition (Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009. Department of Biblical Studies, University of Sheffield), 51.

D. A. Carson, “Matthew”, in D. A. Carson, Walter W. Wessel, dan Walter L. Liefeld, Matthew, Mark, Luke. The Expositors Bible Commentary with The New International Version of the Holy Bible. Volume 8 (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Corporation, 1984), 138.

France, The Gospel of Matthew, n.p.

Craig Blomberg, Matthew. The New American Commentary (Nashvile Tennessee: Broadman Press, 1992), 102.

Carson, “Matthew”, in Matthew, Mark, Luke, 138.

France, The Gospel of Matthew, n.p.

France, The Gospel of Matthew, n.p.

Blomberg, Matthew, 102.

Manlio Simonetti (ed.), Matthew 1-13. Ancient Christian Commentary on Scripture New Testament. General Editor Thomas C. Oden (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2001), n.p. versi pdf.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Robert H. Gundry, Matthew: A Commentary on His Literary and Theological Art (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Com., 1983), 75.

Gundry, Matthew, 75.

Gundry, Matthew, 75.

Morris, Injil Matius, 111.

John Calvin, Commentary on Matthew, Mark, Luke - Volume 1 (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library), 240. Selain itu, Calvin berpendapat bahwa, orang percaya mungkin tidak menolak untuk disucikan oleh api dan garam; karena, tanpa keduanya, mereka tidak bisa menjadi suci kepada Allah. Yesus merujuk kepada berlakunya hukum itu—secara khusus garam—sebagaimana tertulis dalam Imamat 2:13, “setiap persembahan persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam” (Im. 2:13). Calvin, Commentary on Matthew, Mark, Luke - Volume 1, 240.

Morris, Injil Matius, 111.

Bruner, Matthew.

Bruner, Matthew.

Morris, Injil Matius, 111.

Bruner, Matthew.

Bruner, Matthew. 

Bruner, Matthew.

Gundry, Matthew, 76.

Blomberg, Matthew, 102.

Blomberg, Matthew, 102.

Morris, Injil Matius, 111.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Gundry, Matthew, 76.

John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, alih bahasa Miriam Santoso (Malang: Literatur SAAT, 2012), 393.

Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, 399-400.

Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, 400.

Simonetti, Matthew 1-13, n.p.

Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, 401.

Davies, Matthew, 51.

Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, 403.

France, The Gospel of Matthew, n.p.

France, The Gospel of Matthew, n.p.

Kejadian 1:28-29 dipandang penulis sebagai bagian integral dari konteks memahami ἀγωνίζομαι, ἅλας dan φῶς. Dalam teks tersebut terkandung beberapa kata penegas, dan tersimpan potensi ἀγωνίζομαι yang dapat dikorelasikan dengan ἅλας dan φῶς. Pula, Kejadian 1:28-29, menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan berbagai potensi untuk “berjuang”. Itu berarti, semua potensi seyogianya tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Berikut penjelasan teks Kejadian 1:28-29: Pertama, penuhilah bumi, mengindikasikan adanya sebuah perjuangan: perjuangan untuk meluaskan wilayah dengan usaha dan kerja, sekaligus menempati wilayah tersebut. Kedua, taklukkanlah, mengindikasikan adanya sebuah perjuangan: perjuangan untuk bekerja untuk mendapatkan hasil dari alam yang diciptakan Tuhan (bdk. Kej. 1:29). Ketiga, ayat 29 di atas menegaskan sebuah perjuangan untuk bekerja dan mengusahakan tanah yang diciptakan Tuhan: “... Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji ... itulah akan menjadi makananmu”. Kesimpulannya adalah: tak ada alasan untuk tidak berjuang karena potensi berjuang sudah diberikan Tuhan, baik di dalam diri manusia maupun di dalam alam semesta sebagaimana dijelaskan di atas.

Daftar Pustaka

Betz, Hans Dieter, The Sermon on the Mount: A Commentary on the Sermon on the Mount (Including the Sermon on the Plain Matthew 5:3-7:27 and Luke 6:20-49). Hermeneia-a critical and historical commentary on the Bible, Adela Yarbro Collins (ed.) Minneapolis: Augsburg Fortress, 1995).

Blomberg, Craig, Matthew. The New American Commentary (Nashvile Tennessee: Broadman Press, 1992).

Bruner, Frederick Dale, Matthwew: A Commentary Matthew 1-12 (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Pub., 2004). versi pdf.

Calvin, John, Commentary on Matthew, Mark, Luke - Volume 1 (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library).

______. Commentary on Timothy, Titus, Philemon (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library).

Carson, D. A., “Matthew”, in D. A. Carson, Walter W. Wessel, dan Walter L. Liefeld, Matthew, Mark, Luke. The Expositors Bible Commentary with The New International Version of the Holy Bible. Volume 8 (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Corporation, 1984).

Davies, Margaret, Matthew. Second Edition (Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009. Department of Biblical Studies, University of Sheffield)

Fee, Gordon D., 1 and 2 Timothy, Titus. New International Biblical Commentary (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1988)

France, R. T., The Gospel of Matthew. The New International Commentary On The New Testament (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2007), versi pdf.

Gingrich, F. Wilbur, Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, 3, dalam BibleWork9.

Gundry, Robert H., Matthew: A Commentary on His Literary and Theological Art (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Com., 1983).

Knight III, George W. The Pastoral Epistles. The New International Greek Testament Commentary (NIGTC). Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Com., 1992.

Morris, Leon, Injil Matius, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2016)

Piper, John, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, alih bahasa Miriam Santoso (Malang: Literatur SAAT, 2012).

Simonetti, Manlio (ed.), Ancient Christian Commentary on Scripture New Testament: Matthew 1-13. General Editor Thomas C. Oden (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2001), versi pdf.

Zehr, Paul M., Believers Church Bible Commentary 1 & 2 Timothy & Titus (Scottdale, Pennsylvania: Herald Press).


Artikel ini telah dimuat dalam Jurnal Didache STT Moriah Volume 1 Nomor 1 Desember 2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...