ran-Nya, kemudian diterapkan dalam kehidupan dan pergumulan hidup orang percaya.
Alkitab menjelaskan bahwa Allah telah menyatakan diri kepada orang-orang pilihan-Nya. Dari Allah, kita belajar tentang kuasa, kasih, dan kedaulatan-Nya atas kehidupan manusia. Dari orang-orang pilihan kita belajar ketaatan dan kesetiaan kepada Allah.
Dengan demikian, kita belajar dari Allah dan dari mereka yang telah mendapat kasih karunia Allah (orang-orang pilihan), di mana kehidupan mereka hanya diarahkan kepada Allah saja. Itulah sebabnya, kita mengakui bahwa apa yang diwahyukan Allah, itulah yang kita pahami, imani, dan terima (dengan iman dan ketundukan kepada Allah).
Dalam konteks ini, kita dapat merangkum sebuah filsafat teologi, sebuah upaya memahami karya dan pengajaran Allah dalam kehidupan manusia. Sebagaimana di atas telah saya singgung bahwa “memahami prinsip-prinsip Alkitab dapat dikategorikan sebagai tindakan mempelajari teologi dan berteologi”, setiap orang percaya yang masuk dalam empirikal bersama Allah, telah dan sedang merumuskan konsep teologi, dan ia “berteologi”.
NATUR TEOLOGI. Teologi itu mengandung tiga sifat dasarnya:
(1) MENGUBAH. Teologi harus mengubah seseorang: mengubah karakter dan relasinya yang buruk. Sebagai “mengubah”, teologi berperan mengarahkan seseorang kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah, kehidupan yang benar, kehidupan yang menjadi berkat bagi orang, kehidupan yang menjalin relasi penuh damai dengan orang lain, dan kehidupan yang dipenuhi dengan segala pekerjaan baik, sebagaimana yang ditegaskan Rasul Paulus, bahwa: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10);
(2) MENGGERAKKAN. Teologi harus menggerakkan kita untuk bekerja dan melayani bagi Tuhan. Teologi memang menggerakkan setiap orang yang sadar bahwa ia dikasihi Tuhan. Kita harus bergerak (melayani dan bekerja); jika tidak, apa yang kita pahami hanyalah sebuah kebohongan belaka;
(3) MENGUATKAN. Teologi harus menguatkan. Apa
yang dikuatkan? iman, pengharapan dan kasih kita kepada sesama. Memang ada
fakta kebalikannya ketika seseorang belajar teologi dan berteologi, yaitu
“meninggalkan imannya”, dan atau “menjadi skeptis”. Fakta ini bukanlah masalah
serius sebab “pilihan” untuk memilih sesuatu adalah natur dari manusia itu
sendiri. Akan tetapi, kita pun dapat juga memilih menjadi lebih baik dari
sebelumnya, iman yang dulunya lemah, kini menjadi kuat; pengharapan yang
dulunya masih kabur, kini menjadi terang dan terkonfirmasi; dan kasih yang
dulunya masih “pilih-pilih”, kini menjadi tidak pilih kasih.
PERAN TEOLOGI. Teologi memiliki peran penting dalam kesinambungan kehidupan orang percaya. Setidaknya ada tiga peran teologi:
(1) MENGHUBUNGKAN. Teologi dan berteologi haruslah menghubungkan kita dengan orang lain. Teologi tidak dapat dinikmati sendiri. Jangankan itu, ajaran sesat malahan lebih potensial dan berjuang untuk menghubungkan mereka dengan orang lain. Masakan teologi yang baik tidak memiliki usaha untuk menghubungkannya dengan orang lain? Jadilah Garam dan Terang Dunia. Itulah upaya kita menghubungkan teologi yang kita miliki dengan orang lain.
(2) MEMAKNAI. Teologi dan berteologi harus memaknai bahwa kehidupan yang kita jalani menyimpan banyak misteri. Kendati demikian, kita harus yakin bahwa Tuhan selalu berbuat yang terbaik bagi kita dan mendidik kita supaya kita bersandar sepenuhnya kepada Dia. Teologi yang “memaknai” segala sesuatu sebagai kehendak Tuhan, mengarahkan kita kepada sebuah wilayah iman yang sangat besar.
(3). MENYADARKAN. Teologi dan berteologi
haruslah menyadarkan kita akan segala keterbatasan kita. Jangan merasa sombong,
apalagi merasa paling hebat dari yang lain. Teologi yang baik adalah teologi
yang mengarahkan pandangan kita kepada sebuah kehidupan yang Tuhan kehendaki
untuk kita jalani, menyadarkan kita tentang kehidupan dan kematian sebagai
kehendak Tuhan. Berteologi juga tidak hanya menyadarkan diri sendiri, tetapi
juga menyadarkan orang lain tentang kehidupan, pelayanan, dan pekerjaan. Itulah
sikap berteologi yang sejati. Jangan hanya ingin menyadarkan orang lain, tetapi
diri sendiri belum “sadar-sadar dari keangkuhannya” yang terus memuncak.
MUARA TEOLOGI. Pada akhirnya kita yang belajar teologi dan berteologi akan melihat akhir dari tindakan-tindakan itu.
(1) Teologi menghasilkan PERUBAHAN PARADIGMA secara total, di mana seseorang menempatkan dirinya pada dan di dalam kehendak Tuhan yang luar biasa itu. Segala sesuatu yang kita pelajari dan alami, membawa kita kepada paradigma yang kuat bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan itu dikendalikan oleh Tuhan.
(2) Teologi menghasilkan kekuatan KARAKTER. Seseorang yang belajar teologi dan berteologi, pada akhirnya akan memperlihatkan karakternya sepanjang hayat. Jika demikian, kita dapat memahami apa makna pernyataan Rasul Yakobus: “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17).
(3) Teologi menghasilkan—pada akhirnya—sebuah kehidupan yang MENJADI BERKAT (BERPENGARUH) bagi orang lain. Jika teologi yang Anda bangun tidak mempengaruhi orang lain, maka teologi Anda perlu dipertanyakan. Teologi sesat saja bisa mempengaruhi, masakan teologi yang baik tidak memiliki pengaruh?
Melihat pada Natu, Natur, dan Muara teologi, kita perlu—dengan segera dan cermat—memperhatikan apa dan bagaimana teologi dan sikap berteologi kita yang selama ini kita bangun. Seyogianya, dimulai dari diri kita dulu, barulah kita mengajarkan orang lain apa dan bagaimana teologi itu.
Apa yang kita miliki saat ini—jangan dilupakan—adalah kemurahan dan anugerah dari Sang Khalik. Kita adalah alat di tangan-Nya, untuk menyatakan Dia dan ajaran-ajaran-Nya, kepada “dunia” di mana kita hidup dan bergerak. Jadilah teladan dalam pemikiran, perkataan, dan perbuatan.
Salam Bae

Tidak ada komentar:
Posting Komentar