Senin, 10 Agustus 2020

MATRA KARISMATIK IMAN KRISTEN

Kerangka berpikir manusia pada umumnya dilandasi pada perilaku yang tampak dalam relasi dan komunikasi yang terjadi di masyarakat fisikal maupun masyarakat digital. Perilaku menjadi matra untuk melihat kadar karismatik dari seseorang. Baik-buruknya, dinilai melalui perilaku. Singkatnya, manusia memperlihatkan karakternya melalui perilaku, dan perilaku yang dilakukan, bergantung pada pemikirannya dan konteks di mana manusia itu berada.

“Kehidupan” menyediakan berbagai jenis konteks yang harus kita hadapi, jalani, dan maknai. Ada koherensi yang terjadi antara pikiran dan perilaku. Dalam ruang iman, perilaku (perbuatan) adalah wujud dari iman itu sendiri. Apa yang diimani terlihat jelas dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang.

Perbuatan-perbuatan adalah matra karismatik bagi seseorang. Iman juga demikian. Matra iman adalah perbuatan-perbuatan yang direalisasikan dalam kehidupan (relasi dan komunikasi). Semua bentuk perbuatan baik, dilandasi dengan prinsip KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya), KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]), dan prinsip BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena seseorang mengasihi Dia). Iman Kristen bergerak dari ketiga aspek tersebut.

Pada tahap ini, kita dapat memahami apa itu matra karismatik iman Kristen. Tiga aspek yang saya sebut di atas, adalah matranya. Untuk lebih jelasnya, saya menguraikannya secara singkat berikut ini.

Matra Pertama: KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, menampilkan sikap “kesetiaan” pada ajaran-ajaran-Nya, terutama tentang “mengasihi Dia dan sesama, mendoakan musuh, dan memberkati orang yang mengutuk”. Kesetiaan ini tampil ke permukaan dalam hal beribadah, berdoa, dan menyatakan kepedulian kepada sesama. Inilah tanggung jawab iman.

Jangan bicara soal iman jika tidak bertanggung jawab. Jangan bicara soal iman, jika tidak setia kepada Yesus Kristus. Para martir Kristen sepanjang abad, menunjukkan matra karismatik dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Meski mereka disiksa dan bunuh, mereka tetap setia kepada Yesus dan tahu bahwa ada jaminan setelah kematian. Mereka juga tahu bahwa para pembunuh mereka, juga akan mati, hanya cara matinya yang mungkin berbeda. Tetapi apakah para pembunuh itu memiliki jaminan setelah kematian?

KESETIAAN adalah tanggung jawab iman. Matra ini begitu kuat terlihat di sepanjang sejarah pada mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Meski dianggap bahwa mereka “menyembah manusia”, tetapi Yesus adalah manusia yang berbeda kualitasnya dengan manusia pada umumnya. Ia datang dan lahir dari Allah—Logos Allah yang kekal—datang ke dalam dunia “menjadi daging” (ho logos sarks egeneto [Yoh. 1:14]), dan menyatakan bahwa Allah yang Mahakuasa itu adalah “Imanuel”, Allah yang “menjadi” dekat dengan manusia, mengenakan daging manusia untuk menunjukkan bahwa Ia mengasihi lebih dari apa yang manusia pikirkan dan pahami.

KESETIAAN kepada Yesus Kristus tidak bertepuk sebelah tangan. JAMINAN disediaan bagi mereka yang percaya dan setia seperti penegasan Rasul Yohanes: “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Allah yang “menjadi” adalah Allah yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya, dan Ia pula menyatakan diri sebagai Allah yang imanen: IMANUEL.

Sebagai matra karismatik iman Kristen, KESETIAAN menjadi taruhan iman sepanjang hayat. Gumul juang adalah bagian dalam proses realisasi kesetiaan itu. KESETIAAN itu mahal harganya; bahkan hidup kita adalah bayarannya. Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan untuk SETIA sampai mati. Matra ini menjadi kualitas dan kemampuan orang Kristen untuk menunjukkan bahwa mereka tidak salah beriman kepada Yesus Kristus. Ia menjamin dan memberkati, serta memberikan kemenangan.

Matra Kedua: KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]). Keberanian ini mengikuti teladan Yesus Kristus. Ia berterus terang menyatakan bahwa “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka [domba-domba-Nya, sebuah arti kiasan bagi orang-orang pilihan-Nya] dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:28-30).

Jika Yesus menyatakan yang benar dengan berani, maka setiap orang percaya pun melakukan hal yang sama. Berani bersaksi bagi dan tentang Yesus adalah realisasi dari lima identitas Kristen yang diikat oleh kasih kepada Yesus Kristus:

(1) Identitas sebagai PENJALA MANUSIA (ἁλιεῖς ἀνθρώπων [halieis anthrōpōn,  fishers of men). Sebagai penjala, orang percaya menjala orang yang belum percaya, orang berdosa dan pendosa, dengan Injil (Kabar Baik); membawanya kepada Yesus Kristus, mengajarkan dan mengarahkan mereka kepada kehidupan yang kudus, mengampuni, dan peduli. BERANI BERSAKSI melalui tindakan menjala manusia.

(2) Identitas sebagai GARAM DUNIA [ἅλας τῆς γῆς]. Sebagai garam dunia, orang percaya, kita mengarahkan pandangan untuk melihat bahwa dunia adalah ladang misi Allah dan mengubahnya menjadi dunia yang tumbuh buah-buah kebenaran, kasih, keadilan, dan kedamaian. Yesus menjadikan kita sebagai garam dunia untuk berjuang dan menghentikan kerusakan karena dosa. Ini menjadi tanggung jawab orang percaya untuk “mengubah” dunia menjadi tempat yang penuh kasih, kebenaran, keadilan, dan kedamaian.

Sebagai matra karismatik, KEBERANIAN menampilkan identitas garam dunia, adalah tindakan yang memang berisiko, tetapi sekaligus menjadi upaya menaburkan benih-benih firman Tuhan, yang dengannya kita memelihara dunia dari pembusukan karena dosa, dan menjadi pengawet relasi dan komunikasi dalam masyarakat mikro maupun makro.

(3) Identitas sebagai TERANG DUNIA [φῶς τοῦ κόσμου]. Menjadi terang dunia berarti menjelaskan pengaruh yang lebih luas. Yesus menjadikan para murid-Nya sebagai terang dunia, bersifat “derivatif” [turunan, yang diturunkan] dari pengakuan Yesus sebagai “Terang Dunia” [Ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου, Egō eimi to phōs tou kosmou; Yoh. 8:12; bdk. Mat. 4:16]. Orang percaya telah diterangi oleh Yesus Kristus dan konsekuensinya adalah mereka memancarkan dan menjadi terang dunia.

Identitas sebagai terang dunia bertujuan agar orang yang melihat perbuatan kita “memuliakan Bapa” (Mat. 5:16). Kita adalah terang dunia dan berani menampilkan gaya hidup yang “terang” [memancarkan] sehingga kita dapat menjadi teladan. Kita menerangi dunia yang “gelap” karena dosa; dunia yang suka memandang pada kegelapan [kejahatan]. Kita harus berani menjadi terang, kapan pun, dan di mana pun. Menurut John Piper, “ketika perbuatan baik kita mendapat cita rasa dari garam dan cahaya dari terang ini, dunia akan disadarkan untuk mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu, kemuliaan Allah di dalam Yesus” (John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, alih bahasa Miriam Santoso [Malang: Literatur SAAT, 2012], 401). Dan menurut Margaret Davies, orang percaya dilarang bersahabat dengan dunia dalam konteks kedagingan yang berlawanan dengan kehendak Allah. Orang percaya—meski dilarang bersahabat dengan dunia—tetapi “para pengikut Yesus tidak harus menjadi terpisah dari dunia, melaikan mereka eksis sebagai terang bagi dunia” (Margaret Davies, Matthew. Second Edition [Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009. Department of Biblical Studies, University of Sheffield], 51).

(4) Identitas sebagai PELAKU FIRMAN. Rasul Yakobus menulis:Γίνεσθε δὲ ποιηταὶ λόγου, καὶ μὴ μόνον ἀκροαταί, παραλογιζόμενοι ἑαυτούς[Ginesthe de poiētai logou, kai mē monon akhroatai, paralogizomenoi eautous], “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”. Menjadi pelaku firman harus berani. Matra ini begitu kuat dan jelas dalam konteks penerapannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas menjadi pelaku firman dilahirkan dari pemahaman akan tanggung jawab iman; iman yang berani bertindak, dan bukan iman hanya pada tataran kata-kata belaka. Menjadi pelaku firman, berarti BERANI BERSAKSI.

(5) Identitas sebagai MURID KRISTUS. Aspek ini menegaskan prinsip “saling mengasihi”. Menjadi murid Yesus Kristus, mutlak harus saling mengasihi dan BERANI mengasihi meski musuh sekalipun. Yesus berkata (Yoh. 13:34-35):Ἐντολὴν καινὴν δίδωμι ὑμῖν, ἵνα ἀγαπᾶτε ἀλλήλους· καθὼς ἠγάπησα ὑμᾶς, ἵνα καὶ ὑμεῖς ἀγαπᾶτε ἀλλήλους. Ἐν τούτῳ γνώσονται πάντες ὅτι ἐμοὶ μαθηταί ἐστε, ἐὰν ἀγάπην ἔχητε ἐν ἀλλήλοις [Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi]. Matra ini menunjukan karismatik iman seseorang, bahkan totalitas jati dirinya, seutuhnya.

Menjadi murid Yesus berarti BERANI BERSAKSI dan juga MENGASIHI, tanpa syarat. Yesus telah mengasihi kita maka kitapun harus saling mengasihi. Bahkan lebih dari itu, Yesus sendiri menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh. 10:11): Ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός· ὁ ποιμὴν ὁ καλὸς τὴν ψυχὴν αὐτοῦ τίθησιν ὑπὲρ τῶν προβάτων [Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya].

BERANI BERSAKSI adalah pernyataan sikap yang jujur—tidak menyembunyikan iman. Jujur berarti melakukan dan mengatakan yang sebenarnya. Pada ranah ini, setiap orang percaya dapat berlaku jujur karena imannya kepada Tuhan Yesus. Iman Kristen menancapkan kualifikasi karakter diri pada sikap jujur yang terkorelasi dengan prinsip “kasih”. Kejujuran yang dipisahkan dari prinsip kasih bukanlah bagian dari iman Kristen. Dan kasih itu mendorong kita memperlihatkan KEBERANIAN untuk BERSAKSI.

Matra Ketiga: BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena mengasihi Dia). Setiap penganut agama membuat komitmen untuk berpegang pada setiap ajaran yang tertulis di dalam kitab sucinya masing-masing. Dalam konteks ini, Kekristenan menunjukkan sikap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Yesus. Ajaran-ajaran-Nya begitu dalam dan kuat, menekankan sikap hidup yang mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat. 22:37-39): “Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Matra karismatik untuk BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus diteruskan dan dibuktikan oleh para rasul (Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan lainnya). Dan kita yang hidup di zaman sekarang ini juga menerima dan melakukan matra karismatik tersebut. Sikap berpegang teguh adalah bagian dari iman kepada Yesus Kristus. Konteks ini telah dibuktikan oleh para martir, para pahlawan iman yang telah meninggalkan teladan iman mereka kepada setiap generasi, sampai kepada kita sekarang ini.

Pada akhirnya, kita harus menunjukkan kualitas iman kita melalui KESETIAAN kepada Yesus Kristus, KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran-Nya. Itulah ketiga matra karismatik iman Kristen yang telah dibuktikan, diuji, dan diwartakan dari zaman ke zaman.

Sudahkah kita mengambil bagian untuk merealisasikan matra karismatik iman Kristen tersebut? Kiranya Tuhan memimpin dan menguatkan kita untuk dapat menunjukkan KESETIAAN, KEBERANIAN BERSAKSI, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus, di sepanjang hayat kita: kini, dan selamanya.


Salam Bae

Tokoh Reformasi: MARTIN LUTHER. Meninjau Kembali Makna dan Semangat Reformasi Martin Luther

Stenly R. Paparang*


“Aku berusaha sekeras mungkin untuk menaati peraturan. Aku biasa bertobat, dan membuat daftar dosa-dosaku. Aku mengakukannya terus-menerus. Dengan skrupel aku menjalankan penitensi yang diberikan padaku. Namun suara hatiku tetap gelisah.... Aku mencoba menyembuhkan keragu-raguan dan rasa skrupel suara hati dengan dengan obat manusiawi, tradisi manusia. Semakin aku mencoba obat-obat ini, semakin kacau dan tidak tenang suara hatiku jadinya.”            – Martin Luther –

 

Pendahuluan

Dalam edisi ke-2 ini, Majalah Yesyurun mengetengahkan salah satu tokoh Reformasi yakni Martin Luther berkenaan dengan peringatan hari Reformasi yang ke 405 tahun, pada tanggal 31 Oktober yang lalu. Meskipun peringatannya telah lewat, tetapi kita perlu meninjau kembali dalam memahami “Makna dan Semangat Reformasi” bagi kehidupan rohani kita terlebih kehidupan bergereja.

Tidak semua Gereja yang merayakan atau bahkan mengingat lahirnya Reformasi, karena saya tahu, orang Kristen seringkali melupakan sejarah yang telah membentuk imannya hingga saat ini. Saya tidak melulu menyajikan figur Luther secara keseluruhan, sebab jika saya hanya menyajikan figur Luther dan sejarah lahirnya Reformasi, maka terkesan tidak ada hal yang baru. Mengapa? Bisa saja, setiap kita, jika ingin mengetahui sejarah Reformasi dan figur Luther, dapat mengaksesnya melalui internet.

Saya berpikir lain. Saya mau, apa yang telah dikerjakan oleh Luther dapat kita maknai dan mengikuti semangatnya untuk mencintai kebenaran Alkitab, tidak berkompromi, menganggap remeh Alkitab, menghina Yesus, menjual Yesus, menyangkal Alkitab, atau bermalas-malasan untuk mengabarkan Injil. Ada Gereja yang menyangkal (tidak menerima) Injil Yohanes, ada Gereja yang menyangkal keilahian Yesus, ada pula Gereja yang bersifat sekuler, mulai dari pendetanya sampai ke para majelis Gereja. Suatu fenomena yang aneh.

Perlu bagi kita meninjau kembali makna dan semangat Reformasi yang telah memberikan dampak yang berarti bagi iman dan ajaran kita. Reformasi bukanlah sekadar slogan semata. Bukan pula sejarah tanpa arti yang signifikan. Banyak Gereja yang tidak lagi memperhatikan secara serius makna Reformasi. Masing-masing sibuk dengan urusan organisasi, lomba paduan suara, tuding-menuding penggelapan uang, terlibat dalam politik dan masih banyak lagi, sehingga ajaran yang fundamental tidak menjadi sasaran utama.

Memang, dalam bergereja, banyak hal yang perlu kita pelajari dalam Alkitab. Jika Gereja terlalu banyak mengajarkan tentang kehidupan sehari-hari tanpa dibarengi dengan ajaran teologi (Kristologi) yang kuat, maka iman kepada Yesus ‘mungkin’ menjadi tidak kokoh dan “collaps” (runtuh)  serta menganggap keilahian Yesus hanya relatif saja. Kehidupan rohani semakin merosot dan bobrok. Salah satu contoh, di daerah Asmat (Papua), seorang Kepala Sekolah Dasar, pergi ke perempuan pelacur untuk melakukan hubungan seks bebas. Anehnya, karena ia tidak punya uang, ia berhutang dulu, dan berjanji, bahwa setelah dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) cair, baru ia pergi lagi ke perempuan pelacur tersebut dan melunasi ongkos ‘bermain seks’. Tentu ini adalah perbuatan yang memalukan, sedangkan ia adalah seorang Kristen. Ironis memang!

Banyak orang Kristen yang menghina Yesus bahkan menjual Yesus dan berpindah agama, menjual Yesus demi politik, demi jabatan (pangkat, kedudukan), kekayaan, bahkan karena ‘perempuan cantik’ – menurut analisis saya adalah karena menganggap Yesus biasa-biasa saja. Apa yang telah dikerjakan Yesus, dianggap tidak berarti apa-apa.

 Sekilas sejarah Reformasi Martin Luther

Linda Smith dan William Raeper dalam buku mereka, Ide-ide Filsafat dan Agama: Dulu dan Sekarang menjelaskan secara baik mengenai sejarah Reformasi Luther.

Pada awal abad keenam belas, suatu jeritan diteriakkan di seluruh Eropa. Jeritan ini adalah ‘pembaruan di kepala dan anggota-anggota’ Gereja Katolik Romawi – dan muncullah perdebatan. Perdebatan bukanlah mengenai kebenaran ajaran Roma Katolik melainkan mengenai cara Gereja bertingkah laku. Akibatnya adalah kawah perubahan dan pembaruan, yang sekarang disebut “Reformasi”.

Para pejabat Gereja memegang jabatan-jabatan negara yang berkuasa. Banyak dari mereka bukan hanya menjadi politikus yang kaya. Mereka mengira untuk memajukan kerajaan Allah tampak menyamakan dengan terlalu dekat dengan dunia ini. Gereja menuntut pajak dan menjual harta-harta rohani demi uang – pengampunan dosa, misa, lilin, upacara-upacara, jabatan uskup, dan bahkan jabatan Paus sendiri.

Paus adalah kepala Gereja Katolik Roma, tetapi bertindak seperti pangeran duniawi. Banyak orang menyebut Gereja bejat. Dalam kondisi seperti ini, gerakan Reformasi diperlukan. Reformasi adalah memperbarui Gereja yang bobrok. Reformasi dimulai dengan letupan yang segera menjadi kebakaran. Ada beberapa kejadian penting yang menjadi latar belakang timbulnya Reformasi. Paus Leo X terus-menerus menghadapi kebangkrutan. Pada tahun 1513 ia berhutang sekurang-kurangnya 125.000 dukat, dan ia perlu juga mengumpulkan uang dengan cepat untuk membayar Katedral St. Petrus. Satu cara untuk mengumpulkan uang adalah menjual indulgensi.

Martin Luther, seorang profesor Kitab Suci di Universitas Wittenberg tidak senang dengan praktek indulgensi. Martin Luther terdorong untuk menerbitkan sembilan puluh lima Tesisnya tentang penjualan dokumen-dokumen indulgensi yang menjamin penyelamatan jiwa-jiwa dari api penyucian. Indulgensi ini dijual untuk mengumpulkan uang bagi pembangunan Katedral St. Petrus Roma. Luther melihat ini sebagai penolakan lengkap atas kebenaran pokok – ia percaya kita selamat hanya dengan menempatkan iman kita pada Yesus.

Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa jiwa-jiwa pergi ke suatu tempat yang disebut “Api Pencucian” setelah kematian. Jiwa-jiwa dibersihkan untuk bisa sampai ke surga. Dengan membeli indulgensi, orang-orang biasa percaya bahwa mereka akan membutuhkan sedikit waktu di api pencucian, dan juga bahwa jiwa seseorang yang telah meninggal dapat dibebaskan dari api pencucian dan langsung pergi ke surga. Menutut Tetlze, “Begitu uang logam di koper berbunyi, jiwa meloncat dari api pencucian.” Uskup Agung Albert dari Mainz menggunakan pertapa Dominikan yang bernama Tetlzel untuk menjual indulgensi. Ia berpendapat bahwa bila orang-orang biasa membeli indulgensi, mereka tidak melihat lagi perlunya mengubah tingkah laku mereka. Luther terkejut ketika salinan dari instruksi Uskup Agung kepada Tetlzel ditunjukkan kepadanya.

Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan sebuah plakat pada pintu Gereja puri di Wittenberg, ditulisi “Sembilan puluh lima Tesis mengenai Indulgensi.” Bahkan Luther sendiri tidak menyadari bahwa pada waktu itu Reformasi telah dimulai. 95 Tesis atau dalil yang dipaparkan Luther dipublikasikan dan diedarkan dan pandangannya memperoleh dukungan massa dan ia menjadi pahlawan hampir dalam waktu semalam. Ia menjadi berbahaya bagi Tetlzel untuk berjalan di jalanan. Pemerintah setempat, Elector Frederick dari Saxony, memutuskan untuk melindungi Luther. Frederick lelah dengan paus-paus Itali yang campur tangan terhadap urusan Jerman dan senang karena dan senang karena menjengkelkan Uskup Agung. Begitulah Reformasi menjadi gabungan yang sangat kuat antara agama dan politik.

Tujuan Luther adalah untuk memurnikan Gereja Katolik Roma dan memelihara kebenarannya. Namun, segera ia terlibat dengan peristiwa-peristiwa dan pandangan barunya menjadi reformasi spiritual dan moral terhadap keseluruhan dunia Kristen. Meskipun begitu, baik Luther maupun temannya, Philip Melanchthon, tidak mengira bahwa mereka sedang mendirikan Gereja baru. Luther tidak mau menarik kembali pandangan-pandangannya. Ia memilih memberontak ketimbang otoritas Paus. Demikian pula dengan perdebatannya dengan John Eck pada tahun 1519  di Leipzig. Eck menyudutkan Luther untuk memilih Roma atau Kitab Suci. Tetapi Luther memilih Kitab Suci.

Luther memang menentang keras kekuasaan Paus. Bagi Luther, Paus adalah antikristus, seperti setan sendiri. Luther mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja, seperti penyelewengan surat penghapusan siksa, dan kepausan. Reformasi menekankan untuk kembali kepada Gereja mula-mula. Luther menyerang ajaran transsubstansiasi, selibat para klerus dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman.

Pada tanggal 15 Juni 1520 Roma mengeluarkan Bulla Exsurge Domine, yang mengutuk Luther sebagai seorang bidaah. Orang-orang Kristen yang taat diperintah untuk membakar buku-bukunya. Jawaban Luther adalah membakar Bulla, dokumen dari Paus, di depan khalayak ramai. Luther dicekal dan dinyatakan sebagai buron. Ia bersembunyi di sebuah puri yang disebut Wartburg. Di sana ia mulai menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Jerman. Ia menyelesaikan pekerjaan tersebut pada tahun 1534. Luther percaya bahwa setiap orang harus mampu membaca Kitab Suci, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Sebelumnya Kitab Suci dalam bahasa Latin dan hanya diperuntukkan bagi para imam dan ahli. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diterbitkan dengan mesin cetak, sekarang setiap orang Kristen dapat membaca Kitab Suci.

 Makna dan Semangat Reformasi

Hal yang dapat kita pelajari dari sejarah Reformasi adalah pentingnya menegakkan kebenaran Tuhan. Luther telah menjadi teladan yang baik bagi kita untuk menindaklanjuti keberanian dan semangatnya dalam menegakkan kebenaran, apa pun yang terjadi. Luther tidak pernah takut untuk dikucilkan atau dianggap sesat, karena ia tahu bahwa Gereja Katolik Roma telah menyimpang dari kebenaran Alkitab.

Persoalan indulgensi adalah persoalan serius. Luther menegaskan bahwa dosa-dosa manusia tidak dapat dihapuskan hanya dengan membeli indulgensi. Pengampunan hanyalah milik Tuhan, dan hanyalah Dialah yang dapat mengampuni manusia bukan indulgensi. Penjualan indulgensi adalah karena ada unsur politik. Politik telah merusak prinsip Alkitab.

Karena politik juga, para pendeta bisa terjebak dalam mengatasnamakan Allah. Salah satunya adalah Pendeta Yakob Nahuway, yang pernah mengatakan bahwa ia mendapat wangsit  (pesan gaib) dari Allah bahwa Foke (Fuazi Bowo) pasti terpilih jadi gubernur (DKI Jakarta). Tetapi, kenyataannya, Foke pun kalah dalam Pilgub DKI Jakarta. Siapa yang salah? Allah atau Jacob Nahuway? Allah tidak mungkin salah. Jadi, Jacob Nahwaylah yang salah.

Kebanyakan dari kita, jika dalam kondisi yang sama dengan Luther, lebih memilih mempertahankan jabatan meskipun telah terbukti menyimpang dari prinsip Alkitab, lebih memilih kompromi dengan dosa, dengan intrik-intrik (persekongkolan atau taktik untuk menipu) dalam Gereja dari pada tetap menegakkan kebenaran Alkitab. Saya terlalu sedih melihat perkembangan Gereja saat ini. Keprihatinan saya terfokus pada “menganggap murah segala karya Tuhan”. Anggota jemaat menjadi liar.

Pembaruan dalam Gereja itu perlu – tatkala Gereja sudah mulai menyimpang. Luther melihat kebobrokan Gereja terjadi di masanya. Dan, ia harus bertindak bukan berkompromi. Tindakan Luther memacu Gereja untuk semakin giat mencintai Alkitab dan kebenarannya. Belajar melakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.

Apa yang terjadi di zaman Luther, di mana Gereja Katolik Roma, demi mengumpulkan uang untuk pembangunan katedral, harus menipu jemaat dengan menjual indulgensi. Menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Ini juga yang dilakukan Gereja sekarang.

Luther telah mewariskan semangat keberanian dalam menegakkan kebenaran meskipun mendapat tentangan yang hebat dari pihak Paus. Makna Reformasi adalah “berani melawan ketidakbenaran dan penyimpangan terhadap Alkitab”. Semangat Reformasi mendorong kita untuk selalu waspada terhadap perkembangan ajaran di dalam Gereja. Banyak pendeta, para pelayan yang menyebarkan ajaran-ajaran yang tidak beres dan menyimpang – dan ini perlu dinilai secara baik dan kritis, karena Gereja yang teguh dan mandiri adalah Gereja yang mempertahankan ajaran Alkitab secara serius.

 Aplikasi bagi Kita

Dari sejarah Reformasi, kita dapat melihat bahwa perjuangan Martin Luther untuk melawan ketidakberesan Gereja Katolik Roma telah membuahkan hasil. Itu berarti, jika dalam Gereja terjadi ketidakberesan ajaran, permainan politik jabatan, monopoli keuangan, monopoli ajaran Alkitab dan kejahatan lainnya, maka harus segera dibereskan.

Para pejabat Gereja yang ikut dalam dunia politik, sebenarnya tidak memberikan dampak yang berarti bagi Gereja. Kita bisa berbeda pendapat mengenai hal ini. Jika Gereja dan politik menyatu, maka kerohanian jemaat akan merosot dan penuh dengan segala penipuan – menghalalkan segala cara.

Ada Gereja-gereja yang hanya mementingkan keuangan (atau mencari uang untuk kepuasan diri), mementingkan paduan suara, mementingkan perpuluhan dan mementingkan bagaimana mendapat uang sebanyak mungkin dari ibadah-ibadah yang dilakukan. Ini adalah penipuan yang luar biasa bobroknya.

Mari kita berbenah diri, berjuang dalam menegakkan kebenaran seperti yang dilakukan Luther. Semangat dan keberanian Luther patut kita contohi. Dan dengan demikian, kita semakin mencintai kebenaran, semakin mencintai Tuhan dan semakin mencerminkan sikap dan karakter sebagai hamba-bamba TUHAN dan meneladani Yesus Kristus serta menjadi serupa dengan Dia.

Gereja perlu juga untuk menilai dirinya sendiri, apakah sudah menyimpang atau tidak, sama seperti pesan Paulus kepada Timotius: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1 Tim. 4:16).

 

*Penulis adalah Ketua Departemen Literatur dan

Media Arastamar (DELIMA) SETIA Jakarta

 

Glosari

Bula: surat resmi dari Paus yang dimeteraikan dengan bulla; dekrit atau perintah dari Paus.

Bulla: berasal dari bahasa Latin yang berarti meterai, biasanya dari timah hitam yang dikenakan pada bula resmi.

Dukat: uang emas dan perak yang nilainya berbeda-beda.

Exsurge Domine: (dari bahasa Latin) adalah kata-kata pertama dari bula paus Leo X, diterbitkan untuk menolak 95 dalil Martin Luther dan yang dibakar Luther pada tanggal 2 Januari 1521.

Indulgensi: surat penghapusan dosa; surat yang menjamin pengurangan hukuman dalam api penyucian yang sebenarnya harus dijalani orang berdosa.

Penitensi: kesedihan dan penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan atau keadaan menyesali dosa. Dalam bahasa Inggris disebut “penitence”. Penitensi diserap dari bahasa Belanda.

Skrupel: kecemasan yang berlebihan tentang baik tidaknya perbuatan tertentu, yang mengganggu seperti batu kecil yang tajam (Lat. scrupulus) dalam sepatu waktu berjalan; pertimbangan etis yang menyebabkan orang tidak bertindak.

Transsubstansiasi: berasal dari bahasa Latin (trans: ‘di atas’ dan substantia: ‘hakikat’), adalah ajaran Katolik Roma yang ditentukan Konsili Lateran (tahun 1215) mengenai makna misa, yang mengajarkan bahwa pada kesempatan Ekaristi, ketika roti dan anggur diberkati, maka hakikat (substansi) roti dan anggur menjadi hakikat tubuh dan darah Kristus, sehingga Kristus hadir di atas altar.

 

 Sumber Referensi:

 Majalah Warta Bangsa: Warta untuk Semua. Edisi 3 Tahun 1 - 2012

Paparang, Stenly R., Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa, (Jakarta: Delima, 2012).

Salim, Peter & Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991).

Smith, Linda & William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, diterjemahkan oleh P. Hardono Hadi, (Yogyakarta: Kanisius, 2004). Judul asli: A Beginner’s Guide to Ideas, (Oxford, England: Lion Publishing, 1991).

ten Napel, Henk, Kamus Teologi Inggris – Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001).

Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, edisi revisi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006).

FILSAFAT TRINITAS: Memahami Identitas Pribadi Allah

Pengetahuan dan pemahaman akan pribadi Allah merupakan dasar utama dari iman suatu agama. Semua agama berangkat dari pemahamannya akan suatu bentuk penyataan personalitas yang “dianggap” ilahi, kuat, perkasa, kekal, berkuasa, pencipta, dan lain sebagainya. Agama Kristen adalah salah satu agama yang bermetamorfosis dari bentuk-bentuk pengajaran bahkan iman monotheisme Yudaisme yang bersumber dari Kitab Suci. Bahkan orang Kristen memilih jalan lain dalam memahami personalitas Allah yang berseberangan dengan konsepsi dan iman Yudaisme. Trinitas adalah suatu sistem kepercayaan yang berkembang dari bentuk-bentuk hermeneutika biblika yang dipakai dan diadopsi oleh agama Kristen.
Meskipun mereka tahu bahwa konsepsi dan iman tersebut menimbulkan jurang yang dalam bagi status monotheisme yang seharusnya dipertahankan karena dianggap merupakan warisan Yudaisme.

 Akan tetapi, Kristen memiliki serangkaian keberatan terhadap bentuk-bentuk hermeneutik Yudaisme yang di satu sisi tetap mempertahankan monotheisme tetapi mengabaikan rujukan-rujukan kejamakan personalitas Allah yang dijumpai dalam teks-teks Kitab Suci mereka. Berangkat dari hal ini, Kristen menawarkan bentuk-bentuk iman dan hermeneutik yang bertolak belakang – jika dapat dianggap seperti itu sebagaimana yang terjadi sepanjang sejarah – dengan iman Yudaisme yang menurut Kristen, Allah telah menyatakan cinta kasih-Nya yang besar dengan mengunjungi bumi (manusia) dalam bentuk “inkarnasi” sebagaimana yang diwujudnyatakan oleh Yesus yang disebut Kristus.

Banyak orang yang bertanya-tanya tentang seperti apakah Allah itu? Ada yang bertanya-bertanya berapa sebenarnya pribadi Allah itu. Ada yang bertanya-tanya dan mempertimbangkan bahwa sebenarnya Allah itu tidak ada; Ia hanya dalam pemikiran manusia saja – itu soal persepsi semata. Ada yang bertanya-tanya mungkinkah Allah itu yang menciptakan manusia? Ataukah ada semacam fenomena alam yang terjadi dengan sendirinya. “Allah” hanyalah sebuah ilusi – mungkin itu cocok untuk menggambarkan alasan dan kesadaran bahkan sistem kepercayaan orang-orang zaman ini (meski tidak secara masiv). Alasan ini juga telah dikumandangkan sejak dulu. Banyak orang yang berusaha memahami pribadi (personalitas) Allah dan terjebak dalam kurungan logika yang dianggap sebagai pencetus ide-ide liberalisme dan siap menjadi alasan bahwa Allah itu hanyalah suatu omong kosong.

Banyak kisah yang terjadi dalam memperebutkan siapa yang dapat menjelaskan tentang Allah secara benar dan menuntut supaya orang-orang yang dapat dipengaruhinya untuk ikut mempercayai apa yang diyakininya. Pengkajian secara cermat, bahkan terkesan ilmiah telah banyak dibahas dari zaman ke zaman dari para “penyembah-Nya”. Hasilnya, penganut agama tertentu bisa semakin bertambah atau sebaliknya, berkurang. Alasan orang mempelajari personalitas Allah dikaitkan dengan sistem kepercayaan yang pada umumnya didasarkan pada  narasi Kitab Suci, di mana Kitab Suci tersebut bermetamorFosis secara alami atau ilahi menjadi bentuknya yang sekarang ini. Kitab Suci adalah kebanggaan bagi setiap penganut agama-agama di dunia ini. Menurut hemat saya, Kitab Suci adalah pijakan kuat bagi pengembangan ajaran-ajaran Allah untuk menambah jumlah komunitas agama. Orientasi kuantitatif menjadi alasan utama dari agama-agama ketimbang orientasi kualitatif. Berangkat dari hal tersebut, sering terjadi gejolak dan gesekan di antara penganut agama-agama di dunia ini.

Perdebatan yang menghasilkan disparitas tentang personalitas Allah telah mewarnai pergulatan teologis-spiritualitas sepanjang sejarah. Sejak manusia pertama diciptakan, Allah berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada mereka: Adam dan Hawa. Sebelum Hawa, Adam telah mendapatkan hak istimewa karena dialah yang pertama-tama menerima bentuk penyataan diri Allah sebagai Penciptanya. Hasilnya, Adam memberikan hak istimewa itu kepada istrinya dalam konteks menyatakan apa yang Allah perintahkan kepadanya sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Meskipun kisah Adam telah banyak diperdebatkan, namun isu-isu keraguan terhadapnya merupakan bagian penting bagi kekuatan historisitas yang dapat diandalkan. Secara khusus, banyak ahli meragukan kisah tersebut karena dianggap mitos atau hanya semacam karangan penulis Kitab Suci semata.

Namun, keraguan tersebut patut kita hargai tetapi dengan sikap yang berbeda atau kritis. Di samping itu, selaras dengan bentuk-bentuk keraguan tentang historisitas Adam (dan Hawa), personalitas Allah juga ikut diragukan. Pasalnya, dalam bentuk pemikiran yang meragukan, manusia sering mendasarkan argumentasinya pada logika. Tak jadi soal mengenai kekuatan logika yang dipakai sebagai senjata untuk meragukan dan menegasikan personalitas Allah. Akan tetapi, untuk menjawabnya juga dibutuhkan kekuatan logika dan di sini peran apologetika dirasa sangat krusial dna mendesak. Dalam elaborasi berikut ini, saya hendak memberikan ruang baru bagi penalaran tentang personalitas Allah dalam kaitannya dengan Trinitas – doktrin yang paling diperdebatkan, paling dihindari, paling tidak diketahui dan paling dipertahankan.

Tak ada hal yang melampaui penyataan diri Allah dari sebuah inisiatif-Nya. Dalam inisiatif Allah, terdapat hal-hal yang penting seperti kehendak-Nya, kuasa-Nya, rencana-Nya, dan kedaulatan-Nya. Nilai sebuah inisiatif untuk menyatakan diri, dimungkinkan oleh Allah bagi tercapainya bentuk-bentuk pengenalan manusia – makhluk ciptaan-Nya – akan personalitas-Nya meskipun hal itu sering tidak masuk akal. Hasil yang didapatkan manusia tentang pribadi dan karya Allah meskipun masih dalam taraf yang terbatas, dimungkinkan Allah untuk menjadi “media” bagi pengenalan akan diri-Nya. Inisiatif Allah dalam menyatakan diri-Nya kepada manusia telah dimulai sejak di Taman Eden dan finalitasnya tampak pada peristiwa Logos menjadi daging, Yesus Kristus.

 

FILSAFAT TEOLOGI

Upaya memahami prinsip-prinsip Alkitab dapat dikategorikan sebagai tindakan mempelajari teologi dan berteologi (dalam arti tertentu). Sejauh ini, peran teologi sangat penting bagi kehidupan orang beriman. Teologi tidak dibatasi hanya kepada teori belaka, melainkan kepada perubahan paradigma, dan karakter. Natur teologi itu sendiri adalah memahami (mengenal) pribadi Allah, karya-Nya, dan pengaja
ran-Nya, kemudian diterapkan dalam kehidupan dan pergumulan hidup orang percaya.

Alkitab menjelaskan bahwa Allah telah menyatakan diri kepada orang-orang pilihan-Nya. Dari Allah, kita belajar tentang kuasa, kasih, dan kedaulatan-Nya atas kehidupan manusia. Dari orang-orang pilihan kita belajar ketaatan dan kesetiaan kepada Allah.

Dengan demikian, kita belajar dari Allah dan dari mereka yang telah mendapat kasih karunia Allah (orang-orang pilihan), di mana kehidupan mereka hanya diarahkan kepada Allah saja. Itulah sebabnya, kita mengakui bahwa apa yang diwahyukan Allah, itulah yang kita pahami, imani, dan terima (dengan iman dan ketundukan kepada Allah).

Dalam konteks ini, kita dapat merangkum sebuah filsafat teologi, sebuah upaya memahami karya dan pengajaran Allah dalam kehidupan manusia. Sebagaimana di atas telah saya singgung bahwa “memahami prinsip-prinsip Alkitab dapat dikategorikan sebagai tindakan mempelajari teologi dan berteologi”, setiap orang percaya yang masuk dalam empirikal bersama Allah, telah dan sedang merumuskan konsep teologi, dan ia “berteologi”.

NATUR TEOLOGI. Teologi itu mengandung tiga sifat dasarnya:

(1) MENGUBAH. Teologi harus mengubah seseorang: mengubah karakter dan relasinya yang buruk. Sebagai “mengubah”, teologi berperan mengarahkan seseorang kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah, kehidupan yang benar, kehidupan yang menjadi berkat bagi orang, kehidupan yang menjalin relasi penuh damai dengan orang lain, dan kehidupan yang dipenuhi dengan segala pekerjaan baik, sebagaimana yang ditegaskan Rasul Paulus, bahwa: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10);

(2) MENGGERAKKAN. Teologi harus menggerakkan kita untuk bekerja dan melayani bagi Tuhan. Teologi memang menggerakkan setiap orang yang sadar bahwa ia dikasihi Tuhan. Kita harus bergerak (melayani dan bekerja); jika tidak, apa yang kita pahami hanyalah sebuah kebohongan belaka;

(3) MENGUATKAN. Teologi harus menguatkan. Apa yang dikuatkan? iman, pengharapan dan kasih kita kepada sesama. Memang ada fakta kebalikannya ketika seseorang belajar teologi dan berteologi, yaitu “meninggalkan imannya”, dan atau “menjadi skeptis”. Fakta ini bukanlah masalah serius sebab “pilihan” untuk memilih sesuatu adalah natur dari manusia itu sendiri. Akan tetapi, kita pun dapat juga memilih menjadi lebih baik dari sebelumnya, iman yang dulunya lemah, kini menjadi kuat; pengharapan yang dulunya masih kabur, kini menjadi terang dan terkonfirmasi; dan kasih yang dulunya masih “pilih-pilih”, kini menjadi tidak pilih kasih.

 

PERAN TEOLOGI. Teologi memiliki peran penting dalam kesinambungan kehidupan orang percaya. Setidaknya ada tiga peran teologi:

(1) MENGHUBUNGKAN. Teologi dan berteologi haruslah menghubungkan kita dengan orang lain. Teologi tidak dapat dinikmati sendiri. Jangankan itu, ajaran sesat malahan lebih potensial dan berjuang untuk menghubungkan mereka dengan orang lain. Masakan teologi yang baik tidak memiliki usaha untuk menghubungkannya dengan orang lain? Jadilah Garam dan Terang Dunia. Itulah upaya kita menghubungkan teologi yang kita miliki dengan orang lain.

(2) MEMAKNAI. Teologi dan berteologi harus memaknai bahwa kehidupan yang kita jalani menyimpan banyak misteri. Kendati demikian, kita harus yakin bahwa Tuhan selalu berbuat yang terbaik bagi kita dan mendidik kita supaya kita bersandar sepenuhnya kepada Dia. Teologi yang “memaknai” segala sesuatu sebagai kehendak Tuhan, mengarahkan kita kepada sebuah wilayah iman yang sangat besar.

(3). MENYADARKAN. Teologi dan berteologi haruslah menyadarkan kita akan segala keterbatasan kita. Jangan merasa sombong, apalagi merasa paling hebat dari yang lain. Teologi yang baik adalah teologi yang mengarahkan pandangan kita kepada sebuah kehidupan yang Tuhan kehendaki untuk kita jalani, menyadarkan kita tentang kehidupan dan kematian sebagai kehendak Tuhan. Berteologi juga tidak hanya menyadarkan diri sendiri, tetapi juga menyadarkan orang lain tentang kehidupan, pelayanan, dan pekerjaan. Itulah sikap berteologi yang sejati. Jangan hanya ingin menyadarkan orang lain, tetapi diri sendiri belum “sadar-sadar dari keangkuhannya” yang terus memuncak.

 

MUARA TEOLOGI. Pada akhirnya kita yang belajar teologi dan berteologi akan melihat akhir dari tindakan-tindakan itu.

(1) Teologi menghasilkan PERUBAHAN PARADIGMA secara total, di mana seseorang menempatkan dirinya pada dan di dalam kehendak Tuhan yang luar biasa itu. Segala sesuatu yang kita pelajari dan alami, membawa kita kepada paradigma yang kuat bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan itu dikendalikan oleh Tuhan.

(2) Teologi menghasilkan kekuatan KARAKTER. Seseorang yang belajar teologi dan berteologi, pada akhirnya akan memperlihatkan karakternya sepanjang hayat. Jika demikian, kita dapat memahami apa makna pernyataan Rasul Yakobus: “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17).

(3) Teologi menghasilkan—pada akhirnya—sebuah kehidupan yang MENJADI BERKAT (BERPENGARUH) bagi orang lain. Jika teologi yang Anda bangun tidak mempengaruhi orang lain, maka teologi Anda perlu dipertanyakan. Teologi sesat saja bisa mempengaruhi, masakan teologi yang baik tidak memiliki pengaruh?

Melihat pada Natu, Natur, dan Muara teologi, kita perlu—dengan segera dan cermat—memperhatikan apa dan bagaimana teologi dan sikap berteologi kita yang selama ini kita bangun. Seyogianya, dimulai dari diri kita dulu, barulah kita mengajarkan orang lain apa dan bagaimana teologi itu.

Apa yang kita miliki saat ini—jangan dilupakan—adalah kemurahan dan anugerah dari Sang Khalik. Kita adalah alat di tangan-Nya, untuk menyatakan Dia dan ajaran-ajaran-Nya, kepada “dunia” di mana kita hidup dan bergerak. Jadilah teladan dalam pemikiran, perkataan, dan perbuatan.

Salam Bae

 

 

YANG TERSISA DARI TEOLOGI

Beberapa waktu lalu, tanggal 19 Mei 2020, kita kehilangan seorang teolog (sekaligus apolget)  yang ternama, Ravi Zacharias. Beliau telah melalang buana untuk memberikan berbagai ceramah ataupun kuliah. Lebih dari itu, tidak hanya soal “apa yang ia ucapkan dan ajarkan”, sikap hidupnya telah menjadi “teladan”. Antara teologi dan sikap hidupnya, selaras. Itu adalah sebuah daya tarik yang seimbang, tidak berat sebelah.

Ada fakta menarik yang mungkin telah kita lihat, atau bahkan kita alami sendiri, bahwa adanya ketimpangan antara teologi dan sikap hidup. Seringkali, orang sulit memisahkan antara personalitas seseorang dengan teologi yang dia anut. Kesulitan ini disebabkan karena soal “sikap hidup” tadi.

Ketika seseorang yang memiliki pandangan teologi tertentu yang dinilai cukup atau sangat baik, namun sikap hidupnya tidak menjadi teladan, maka penilaian tersebut akan bermuara pada empat fakta: pertama, orang-orang tetap menerima ajarannya (teologinya) dan menyingkirkan “sikap hidupnya”; kedua, orang-orang menerima sikap hidupnya, dan menyingkirkan teologinya (yang miring itu); ketiga, tidak menerima keduanya; dan keempat, ini yang lebih ekstrem lagi, yaitu ada orang-orang “menerima keduanya”.

Dalam sejarah, empat fakta di atas muncul dalam setiap agama mana pun. Dalam tubuh Kristen, tampak kerancuan dalam berteologi telah memunculkan sejumlah respons positif maupun negatif, termasuk “orang-orang” memperlihatkan salah satu dari fakta empat fakta yang telah saya sebutkan di atas.

Saat ini, proses berteologi masih BERLANJUT, SEMAKIN HANGAT, dan SEMAKIN MESRA. BERLANJUT, menunjukkan bahwa ajaran-ajaran rasuli yang diwariskan dari zaman ke zaman, tetap dipertahankan oleh orang-orang percaya. Ajaran-ajaran tersebut dihidupi dalam totalitas hayati sebagai tanggung jawab iman.

SEMAKIN HANGAT, menunjukkan bahwa ada perbedaan paham (pemikiran)—jika tidak dikatakan sebagai kontradiksi total—mengenai aspek-aspek substansial maupun non-substansial. Riak-riak keributan teologi seringkali berkutat pada aspek-aspek non-substansial. Misanya, apakah Yudas masuk neraka atau tidak?; apakah penganut ajaran Calvin (Calvinisme) itu sesat dan masuk neraka atau tidak?; apakah penganut Arminian (Arminianisme) sesat dan masuk neraka atau tidak? Adakah kontribusi Pak Stephen Tong bagi negara? (ini celoteh seorang Kristen beberapa waktu lalu); mengapa orang Kristen tidak dapat menghafal Alkitab; dan masih banyak lagi.

Ada sejumlah aspek non-substansial yang diributkan, bahkan diobok-obok, sehingga menimbulkan “busa-busa” kotor pada riak-riak tersebut. Ada pula yang membela “tokoh-tokoh” tertentu—meski pengajarannya sesat, menyesatkan, dan tersesat, bahkan menyimpang—dengan cara “memuji-mujinya” ibarat calon anggota dewan menang dalam pemilihan dengan cara memanipulasi data pemilih. Entah ini disebut seimbang atau pincang, biarlah publik yang menilainya.

Kebutaan dalam berteologi telah membuat orang-orang Kristen salah sasaran. Yang dicari adalah “superioritas teolog” ketimbang sikap hidupnya. Seorang buta tentu meraba-raba; ia kehilangan arah dan tak tahu arah pulang. Kebutaan dalam berteologi memperlihatkan “pukulan-pukulan” untuk meninju tidak tepat sasaran. Bahayanya adalah ketika “pukulan-pukulan” itu ditujukan pada pohon Aras dari Libanon, batu besar, atau angin.

Maraknya “teologi-teologi” angin—yakni teologi-teologi yang hanya ditiupkan untuk menghibur pada pendengar tanpa menyentuh aspek-aspek spiritual, moralitas, dan relasional (kita dengan Tuhan dan sesama [dalam persekutuan]). Lalu, apa yang tersisa dari teologi?

Berteologi itu asyik dan menyenangkan. Tetapi ketika teologi itu tidak semestinya dilakukan, maka hasilnya tidak memuaskan. Meski berteologi itu asyik dan menyenangkan, kita tidak boleh melupakan sikap hidup sebagaimana yang Yesus ajarkan: Kamu adalah Garam dan Terang Dunia. Koherensi antara teologi dengan sikap hidup adalah sebuah niscaya.

Berteologi adalah realisasi dari apa yang kita “tahu” tentang Yesus Kristus berdasarkan warisan iman yang termaktub dalam Alkitab (hal ini masuk dalam kategori “BERLANJUT”). Sedangkan sikap hidup adalah realisasi dari iman kepada Yesus Kristus. Beriman tidak hanya “mengetahui” apa yang diajarkan Alkitab, melainkan juga “melakukan” apa yang diajarkan Alkitab. Ini sangat seimbang.

Terakhir, SEMAKIN MESRA menunjukkan kualitas antara teologi dengan sikap hidup secara seimbang, konsisten, dan ekspansif. Teknologi informasi yang sedemikian maju, dapat dipakai secara media untuk menunjukkan KEMESRAAN antara teologi dan sikap hidup, sehingga menjadi sangat ekspansif. Teologi yang kita bangun dan kita kabarkan hanya menyisahkan “sikap hidup” untuk menjadi teladan. Sikap hidup mencerminkan apa yang kita tahu, termasuk teologi. Teologi—yang terus dikembangkan dan digumuli—sangat menentukan sikap hidup seseorang.

Konsistensi dalam berteologi juga penting. Konsistensi bukan mengacu pada serangkaian konsep atau pemikiran yang terpisah dari konteks Alkitab, melainkan sebuah kondisi di mana teologi yang kita bangun dan kembangkan (ajarkan) didasarkan pada pemahaman yang komprehensif.

Alkitab menjadi “media utama” untuk melihat berbagai ajaran yang akan membimbing, mengarahkan, dan memimpin kita menuju kehidupan yang dikehendaki Allah. Teologi bukan hanya sekadar bagaimana kita berbicara, menyampaikan argumentasi, meluruskan pandangan yang keliru, tetapi juga menekankan sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan sesama kita.

Kita tidak hanya berurusan dengan Tuhan yang tak kelihatan itu, tetapi juga berurusan dengan sesama kita di mana kita dapat mengajarkan mereka untuk mengikuti ajaran Alkitab dan membentuk kehidupan mereka menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.

Yang tersisa dari teologi—seperti yang terjadi pada Ravi Zacharias—adalah sikap hidupnya yang selaras dengan apa yang ia pahami dari Alkitab. Ia telah menjadi teladan tidak hanya pemikirannya (teologinya), melainkan juga sikap hidupnya.

Jangan jadikan teologi untuk memenuhi “nafsu-nafsu” yang terselubung; jangan gunakan teologi untuk menyerempet warisan-warisan yang telah diberikan kepada kita di sepanjang sejarah; jangan jadikan teologi sebagai landasan kesombongan kita untuk mencuatkan “diri” ketimbang sikap hidup kita sendiri. “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia”—“Kamu adalah Penjala Manusia”, dan itulah yang menjadi sikap hidup kita dalam berteologi. Teologi adalah alat untuk “memberitakan Injil” melalui kata (pewartaan) dan sikap hidup (perbuatan).

Waspadalah, jangan sampai teologi kita hanyalah sebuah upaya menjaring angin.

Tuhan Yesus Memberkati kita semua. Salam Bae

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untu...